Tampilkan postingan dengan label aksinyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aksinyata. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2023

Menata Kelas 3 dengan aset yang dimiliki 33 MB

Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Pribadi)

Apa yang terbesit di pikiran kita ketika mendengar kata “aset sekolah” ?? Akankah kita hanya berfokus pada sarana prasarana sekolah ?? atau finansial sekolah ?? Lalu, bagaimana dengan sekolah yang mempunyai sarana prasarana belum memadai dan keuangan yang terbatas ??

Ketika saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP), saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Dalam modul itu, ada materi menarik yang sungguh menyentuh hati bahkan saya ingat betul ketika menyelesaikan salah satu tugasnya, saya sampai meneteskan airmata. Video pembuka yang ditampilkan pada materi itu mengingatkan pada sekolah yang hampir setiap hari menjadi tujuan saya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di kelas 3, saya berusaha menyediakan tempat ternyaman untuk 18 anak hebat Air Pelempang dengan aset terbesar yang dimiliki oleh kelas yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).

Ada 7 aset atau modal yang dimiliki oleh sebuah komunitas termasuk itu sekolah, yaitu manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, agama dan budaya. Jika selama ini aset hanya berfokus pada fisik dan finansial maka, sesungguhnya aset terbesar terletak pada SDM (Sumber Daya Manusia) dan hubungan sosial yang tercipta dari individu manusia di dalamnya. Bukan berarti aset lain tidak penting, kita tetap butuh aset lainnya untuk melengkapi agar tujuan dari sekolah sebagai tempat pendidikan formal terbaik yang berada di lingkungan masyarakat tercapai dengan maksimal.

Pemanfaatan aset sekolah saya implementasikan dalam menata kelas 3 di tahun pelajaran 2022/2023 ini. Mengapa kelas menjadi pilihan pertama ? Karena kelas adalah tempat pertama murid belajar di sekolah sehingga banyak waktu dihabiskan di kelas. Kelas juga menjadi tempat pertama para murid membekali diri mereka untuk ke lingkungan yang lebih luas. Sebagai seorang guru, kelas juga menjadi tempat penting untuk saya yang berdomisili jauh dari sekolah dengan jarak tempuh 55 KM.

Sebelum saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya telah mengajak para murid membayangkan kelas impian mereka. Keinginan dan harapan itu mereka tulis dalam catatan kecil kala kami sedang membuat kesepakatan kelas 3 di awal tahun ajaran baru, Juli 2022 lalu. Banyak anak yang mengharapkan kelas yang cantik, indah, bagus, dan nyaman. Tidak harus fisiknya saja, namun kehidupan sosial yang tumbuh di dalamnya. Saya selalu mengajak para murid berdiskusi sebelum memulai proses belajar mereka sebagai modal awal saya mempersiapkan desain pembelajaran di kelas (bagian dari asesmen diagnostik non kognitif). Kelas menjadi tempat pertama mereka mencurahkan apa yang mereka sukai, harapkan/inginkan, dan impikan untuk proses belajar mereka ke depannya. Selain itu, saya juga turut serta mengajak para orangtua yang tergabung dalam PULAS-3 (Paguyuban Kelas 3) untuk mendukung program kelas yang berpihak kepada murid. Salah satunya dengan menata kelas 3 menjadi tempat nyaman untuk anak-anak belajar di sekolah. Menata kelas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tidak hanya materi/finansial tetapi, ide dan kreativitas para orangtua dan murid.

Perjalanan belajar bersama anak-anak hebat dari Juli 2022 sampai Maret 2023 telah mentransformasi kelas 3 menjadi kelas yang lebih nyaman versi anak-anak. Selain melengkapi kelengkapan kelas, ada beberapa poin yang menjadi fokus dalam menata kelas 3, yaitu adanya :

1.       Kesepakatan Kelas yang dibuat guru dan murid pada awal tahun ajaran baru ditempel di dinding kelas dengan versi yang lebih menarik.

2.      Pohon cita-cita terdapat foto anak dan profesi mereka di masa depan.

3.      Pohon harapan berisi do’a orangtua yang ditulis sendiri oleh orangtua di selembar kertas berbentuk hati.

4.     Pojok baca dengan desain yang disesuaikan dengan lingkungan kelas (tidak bisa duduk dibawah karena kondisi lingkungan kelas yang banyak hewan melata) sehingga menggunakan tangga berbahan papan sebagai tempat duduk murid ketika membaca di pojok baca.

5.      Dinding literasi menggunakan spanduk bekas sebagai media untuk menempelkan berbagai informasi dan edukasi.

6.     Zonasi kehadiran murid yang setiap di pagi hari menjadi mainan pertama para murid karena mereka memasukkan sebuah stik yang berisi foto profesi mereka pada sebuah kantong yang terbuat dari bekas minuman bertuliskan Hadir, Izin, Sakit, dan Kemana ?? (artinya alpa).

7.      Stiker tinggi badan yang digunakan para murid untuk mengukur tinggi badannya setiap waktu sekaligus sambil belajar nama hewan dalam kosakata Bahasa Inggris.

8.     Beberapa perlengkapan kelas yang terbuat dari bahan bekas seperti Kotak P3K terbuat dari kotak sepatu bekas, kalender tahun 2023 yang berisi foto-foto kegiatan anak-anak kelas 3 di sekolah terbuat dari kalender bekas, dan sebagainya.

9.     Jadwal pelajaran, jadwal piket, struktur organisasi kelas, dan struktur organisasi PULAS-3 dibuat lebih menarik.

10.  Hiasan yang tergantung di langit-langit kelas berisi berbagai foto profesi masa depan para murid. Suasana kelas yang sejuk dan berangin membuat gantungan ini sering bergerak-gerak di langit kelas. Selain sebagai hiasan di kelas, ini juga menjadi media saya mengajak para murid merefleksi sejenak sambil memandang profesi di langit kelas.

11.    Karya-karya para murid yang ditempel pada dinding kelas dan di susun pada meja yang telah disediakan dalam kelas.

Transformasi kelas juga dilakukan 5 kelas lainnya di 33 MB. Bersama guru kelas dan PULAS (Paguyuban Kelas) masing-masing berupaya menata kelas lebih nyaman lagi agar proses belajar mengajar di kelas lebih nyaman. Menjadikan sekolah khususnya kelas sebagai tempat yang selalu dirindukan oleh warga sekolah.

Perubahan yang sedikit demi sedikit 33 MB lakukan dengan mendesain dan melaksanakan 4 program unggulan yang berpihak kepada murid di awal Juli 2022 lalu mulai PULAS (Paguyuban Kelas), NADI (Nabung Sejak Dini), SEMATA (Senyum Manis Kita), dan D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Program unggulan ke-5 33 MB yang bernama Operasi Semut juga mulai dilaksanakan pada awal tahun 2023 ini (semester genap). Program ini berfokus pada upaya sekolah menanamkan cinta lingkungan sedini mungkin yang dimulai dari lingkungan terdekat para murid dengan menjaga lingkungan dan alam sekolah. Beberapa kegiatan dalam Program Operasi Semut seperti pengadaan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah dan mencanangkan hari rabu sebagai HTS (Hari Tanpa Sampah) dengan membawa bekal makanan/minuman pada kotak bekal/botol minuman dari rumah sebagai usaha dalam menggalakkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Serta berkolaborasi dengan pihak lain khususnya yang berada dekat di lingkungan sekolah dalam edukasi tentang cinta lingkungan dan alam.

Pemerintah daerah Kabupaten Bangka dalam hal ini Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah pusat mengapresiasi gerakan perubahan yang telah dilakukan 33 MB dengan memberikan bantuan renovasi dua unit kelas kepada 33 MB di tahun 2023. Alhamdulillah… Satu dari dua kelas itu adalah kelas 3.

Tidak ada yang instan dalam proses belajar termasuk menata kelas ini. Tantangan pun tidak lepas dari usaha sekolah yang terus berupaya mendesain program positif berpihak kepada para murid. Tantangan terbesar adalah ketika melawan rasa ketidak percayaan diri sehingga selalu muncul pertanyaan : “Apakah bisa kita melakukan ini ?” Namun, 33 MB percaya waktu akan menjawabnya selama kita terus berkolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di daerah perbatasan kabupaten.

Sebagai seorang pendidik, saya meyakinkan para murid dengan semangat-semangat positif yang setiap waktu selalu disampaikan. Kebersamaan anak-anak bersama para orangtua menata kelas juga menjadi bukti bahwa proses belajar anak di sekolah juga menjadi bagian dari kolaborasi antara pihak sekolah dan keluarga.

Selanjutnya video Menata Kelas 3 dengan memanfaatkan aset sekolah tersedia di channel Youtube :

                            Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Youtube Lisa Sya)

 

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

*Artikel ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/642199e1d3aa0f498642f512/menata-kelas-3-dengan-aset-yang-dimiliki-33-mb 

 

Selasa, 06 Desember 2022

Kumpulan Aksi Nyata CGP Desa Air Buluh Kab. Bangka

 

Kumpulan Aksi Nyata CGP A.5 (Doc. Pribadi)

Desember pun tiba, tidak terasa telah memasuki bulan ke-8 dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5. Walaupun sempat terhenti sejenak karena peralihan kepemimpinan ke Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) dan Balai Guru Penggerak (BGP) provinsi, tidak menyurutkan semangat para Calon Guru Penggerak (CGP) dalam mengikuti pendidikan ini hingga selesai. Berakhirnya materi / modul yang tersedia di Learning Managmenet System (LMS) beriringan dengan munculnya tampilan dashboard para CGP yang menujukkan rata-rata di atas angka 95 %. Untuk menuju ke angka 100% masih tersisa Lokakarya 6 dan Lokakarya 7.

Materi Pendidikan Guru Penggerak disajikan dalam 10 modul dengan durasi waktu 6 bulan. Pembelajaran daring yang di desain dengan menggunakan alur belajar MERRDEKA sendiri terdiri dari : M (Mulai dari diri), E (Eksplorasi konsep), R (Ruang kolaborasi), R (Refleksi terbimbing), D (Demonstrasi kontekstual), E (Elaborasi pemahaman), K (Koneksi antar materi), dan A (Aksi nyata). Pada artikel sebelumnya, saya pernah menuliskan salah satu alur MERRDEKA yaitu, Ruang Kolaborasi (tersedia di sini). Artikel saya kali ini membahas mengenai tahapan terakhir pada alur MERRDEKA, yaitu Aksi Nyata.

Aksi nyata memberikan ruang pada CGP menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Aksi nyata dimaksudkan sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan karena dapat mengambarkan sebuah kesatuan antara proses pembelajaran dan implementasinya. Dalam harapannya, aksi nyata perlu dijalankan secara terus menerus bahkan hingga Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) telah diselesaikan.

Tidak mudah bagi saya menyelesaikan program PGP ini, bahkan saat pertama kali memulainya banyak muncul rasa khawatir yang tak terbendungkan. Salah satunya ketika pendidikan ini dimulai, saya dipindah tugas ke sekolah baru. Bukan hanya sekolah baru, namun lingkungan dan daerah pun baru. UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB) merupakan sekolah kecil yang terletak di Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Sebuah sekolah yang berbatasan langsung dengan Desa Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah. Desa Air Buluh berjarak hampir 60 KM dari ibukota kabupaten, Kota Sungailiat tempat tinggal saya. Jika para pembaca mengikuti artikel yang sering saya tulis sebelumnya, perjalanan menuju sekolah ini harus saya tempuh dengan waktu 1,5 jam dengan kendaraan roda dua. Alhamdulillah akses jalan lumayan baik, sehingga saya pun dengan lancar melakukan perjalanan pergi dan pulang sekolah setiap harinya.

Bagi saya, aksi nyata yang telah dilakukan ini bukan hanya sekedar tagihan tugas semata. Namun, selalu menjadi bagian terpenting dalam evaluasi dan refleksi dari proses pembelajaran yang terus saya lakukan. Saya sadar betul bahwa semua yang telah dilakukan ini masih jauh dari kata sempurna, namun harapan untuk terus membenah diri menjadi lebih baik dari hari kemarin bagian dalam tujuan yang tidak akan pernah putus. Bersama orang-orang hebat yang setiap waktu memberikan dukungan, motivasi, dan menginspirasi saya, alhamdulillah saksi nyata semua modul di pendidikan ini telah selesai.

Berikut ini adalah kumpulan aksi nyata dari proses pembelajaran yang telah saya dapatkan pada PGP dan perlahan telah diimpelementasikan di 33 MB :

Aksi Nyata 1 (Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara). Mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pengembangan karakter. Hasil aksi nyata 1 tersedia di Aksi Nyata 1.1.

Aksi Nyata 2 (Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak). Melakukan proses pengembangan diri untuk menguatkan nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Hasil aksi nyata 2 tersedia dalam channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 3 (Modul 1.3 Visi Guru Penggerak). Menjalankan rencana manajemen prakarsa perubahan BAGJA yang telah dibuat. Hasil aksi nyata 3 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 4 (Modul 1.4 Budaya Positif). Menyampaikan pembelajaran dari penerapan dan pemahaman mengenai konsep-konsep inti dari modul budaya positif dengan membuat webinar kecil berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat. Hasil aksi nyata 4 terdiri dari 2 bagian dan tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 1 (Doc. Pribadi)

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 5 (Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid melalui Pembelajaran Berdiferensiasi). Mendesain, mempraktikkan dan melakukan refleksi terhadap implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Hasil aksi nyata 5 tersedia di Aksi Nyata 2.1.

Aksi Nyata 6 (Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional). Membagikan pemahaman tentang implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) dengan 4 indikator, yaitu pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan sekolah, dan penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) pendidikn dan tenaga kependidikan di sekolah serta merefleksikannya. Hasil aksi nyata tersedia di Aksi Nyata 2.2.

Aksi Nyata 7 (Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik). Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik dalam pembelajaran dengan menggunakan paradigma berpikir coaching. Aksi nyata 7 tersedia  di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 2.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 8 (Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin). Mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah. Hasil aksi nyata 8 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.1 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 9 (Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya). Mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah. Hasil aksi nyata 9 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 10 (Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Bedampak Positif pada Murid). Menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) dan A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual. Adapun hasil aksi nyata 10 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.3 (Doc. Pribadi)

Rasa khawatir di awal pendidikan kian sirna seiring berjalannya waktu. Hal ini tidak lepas dari dukungan semua pihak yang turut membantu proses perjuangan ini. Terima kasih saya haturkan untuk 33 MB (Bapak Soleh, S.Pd.I selaku kepala sekolah, rekan-rekan sejawat, pengawas sekolah, para murid hebat 33 MB, dan orangtua), KKG gugus IV Prasasti Kotakapur, komunitas praktisi lainnya di Mendo Barat dan Kabupaten Bangka, serta rekan-rekan seperjuangan di PGP Angkatan 5 Kabupaten Bangka. Pastinya juga untuk keluarga tercinta yang tak pernah henti mendukung tiap jengkal perjuangan ini.

Terima kasih juga untuk fasilitator, Bapak Muhari, S.Pd., M.Pd., dan pengajar praktik, Bapak Selamet Simbolon, S.Pd atas bimbingan dan dukungannya kepada saya selama Program Pendidikan Guru Penggerak ini. Terakhir..terima kasih saya ucapkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam rangkaian aksi nyata pada PGP yang telah terlaksana. Harapan terbesar saya semoga aksi nyata yang telah dilakukan dan berjalan tidak berhenti sampai disini saja, namun terus berproses setiap waktunya sebagai bagian dari transformasi pendidikan di daerah saya khususnya di lingkungan 33 MB.

Sekian dari saya. Semangat belajar untuk kita semua.

Salam dan bahagia..

*Artikel juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/638ff8134addee5b547dc7e3/kumpulan-aksi-nyata-cgp-desa-air-buluh-kab-bangka 

Kamis, 22 September 2022

“Refleksi 4P” Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

Aksi Nyata Modul 2.2 (Doc. Pribadi)

Peran pendidik yang telah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu maupun anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran KHD ini mengingatkan kita bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi murid untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna untuk para murid.

Pada alur MERDEKA Modul 2.2 ini telah dipaparkan bagaimana keberpihakkan kepada murid menjadi langkah awal untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Bagaimana bentuk keberpihakkan itu ? Memenuhi kebutuhan para murid adalah jawabannya. Beragamnya potensi dan minat murid membuat banyak kebutuhan mereka yang harus terpenuhi. Melalui pembelajaran berdiferensiasi diharapkan dapat mengakomodir keberagaman kebutuhan murid tersebut. Selain itu, guru juga perlu mengetahui dengan baik bagaimana kondisi sosial-emosional murid yang akan dihadapinya. Dari sinilah peran Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses pembentukkan karakter murid. 

Pada aksi nyata modul 2.2 menggunakan Model Refleksi 4P. Model refleksi 4P merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4P dapat diterjemahkan menjadi 4F, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal). Berikut ini penjelasan Model 4F / Model 4P :

1. Facts (Peristiwa). Menceritakan pengalaman saya mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas ? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut ? Menceritakan juga hambatan atau kesulitan saya selama proses pembelajaran pada minggu ini ? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut ?

2. Feelings (Perasaan). Bagaimana perasaan saya selama pembelajaran berlangsung ? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas ? Menceritakan hal yang membuat saya memiliki perasaan tersebut.

3. Findings (Pembelajaran). Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini ?

4. Future (Penerapan). Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan ? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini ?

Berikut ini refleksi saya pada Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dengan Model Refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan) :

PERISTIWA (FACTS). Moment yang paling penting bagi saya setelah melakukan aksi nyata modul 2.2 ini adalah saya mendapatkan berbagai referensi praktik baik (program penguatan) Kompetensi Sosial dan Emosional di lingkungan sekolah pada Ruang Kolaborasi bersama fasilitator dan rekan CGP lainnya. Kami berdiskusi dan menyusun inisiatif program penguatan KSE bagi murid dan rekan sejawat. Kemudian mempresentasikan hasil kelompok dan saling membagikan praktik baik dalam impelementasi KSE. Ruang Kolaborasi kali ini menjadi inspirasi untuk saya dalam menerapkan KSE di sekolah nantinya.

PERASAAN (FEELINGS). Saya mendemonstrasikan implementasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) dengan membuat modul ajar yang tidak hanya terintegrasi KSE namun juga modul ajar berdiferensiasi. Sehingga modul ajar yang saya desain pada demonstrasi kontestual dan telah di terapkan di Kelas 3 adalah Modul Ajar Berdiferensiasi dan Terintegrasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Sungguh ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan karena ini merupakan bagian dari usaha sadar saya sebagai seorang pendidik dalam memenuhi kebutuhan belajar murid-murid hebat saya di 33 MB.

PEMBELAJARAN (FINDINGS). Hal yang bermanfaat adalah setiap alur MERDEKA pada modul ini memberikan inspirasi kepada saya untuk mempersiapkan pembelajaran yang berpihak kepada murid mulai dari pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi KSE. Umpan balik yang saya dapatkan adalah kebahagiaan pada murid pada setiap perubahan dari proses pembelajaran yang dilakukan serta saya semakin belajar memahami bahwa sejatinya setiap individu berhak mendapatkan apa yang dibutuhkan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.

PENERAPAN (FUTURE). Rencana saya ke depan untuk meningkatkan pengalaman aksi nyata ini agar lebih luas adalah membagikan praktik baik ini kepada rekan sejawat di sekolah. Mungkin ini tidak mudah namun, mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Mulai dari hal kecil dengan berbagi hasil tugas yang telah dikerjakan pada PGP dan diunggah pada media online dan media sosial.

Demikianlah aksi nyata modul 2.2 saya, semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

Membawa Pembelajaran Berdiferensiasi ke Kelas 3 (Aksi Nyata Modul 2.1)

Aksi Nyata Modul 2.1 (Doc. Pribadi)

Tujuan pendidikan nasional berakar dari pemikiran Menteri Pertama Indonesia yang sekaligus menjadi tokoh pendidikan nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih kita kenal Ki Hajar Dewantara (KHD). Pendidikan yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh KHD saat masa penjajahan masih relevan. Hal ini terbukti dengan dijadikannya pemikiran-pemikiran KHD sebagai landasan praktik pendidikan hingga saat ini terutama pada Kurikulum Merdeka yang resmi diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek Februari 2022 lalu.

Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KHD adalah Taman Siswa. Taman siswa bukan hanya menjadi tempat bermain untuk anak namun, juga menjadi tempat untuk anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Anak diberi kemerdekaan untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat serta dilengkapi dengan dukungan dalam proses belajarnya. Prinsip dasar Taman Siswa sejatinya tidak menghilangkan kodrat anak untuk bermain namun, anak tetap dapat menikmati proses belajar dengan bahagia di dalamnya.

Pendidikan yang bersumber dari referensi KHD ini merupakan pendidikan yang berpihak pada murid. Bentuk keberpihakkan kepada murid membawa kita sebagai guru menyiapkan proses pembelajaran yang berpusat pada murid. Bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid ? Pastinya pembelajaran yang disiapkan atas dasar kebutuhan murid. Esensi dari profesi guru sama halnya seperti profesi dokter. Seorang dokter menentukan keputusan terbaik dalam mengobati pasiennya dimulai dengan mendiagnosa sakit yang dirasa/keluhkan oleh pasiennya. Setelah itu dokter menganalisis untuk menentukan tindakan terbaik yang harus dilakukan untuk langkah pengobatan pasiennya. Jika kita berada pada posisi pasien, melihat dokter langsung melakukan tindakan tanpa bertanya keluhan yang kita rasa, apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan percaya tindakan yang dilakukan untuk kebaikan kita ?

Sama seperti guru, sebelum memulai proses pembelajaran di kelas, seorang guru haruslah tahu dengan baik siapa muridnya, apa yang dipunya murid (kemampuan/minat/bakatnya), apa yang dibutuhkan murid untuk mengembangkan kemampuannya, dan cara terbaik apa yang bisa diberikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan para muridnya ?

Guru seyogiyanya menyiapkan pembelajaran terbaik yang dapat dimulai dengan melakukan asesmen diagnosis. Asesmen diagnosis terbagi menjadi 2 yaitu non kognitif dan kognitif. Asesmen diagnosis non kognitif bertujuan untuk mengetahui psikologis sosial emosi murid, aktivitas belajar murid di rumah, latar belakang pergaulan murid, gaya belajar murid, karakter serta minat murid. Sementara asesmen diagnosis kognitif dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar dalam memahami suatu materi/konsep pada mata pelajaran tertentu. Bagaimana bentuk asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif ? Tentunya alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil asesmen diagnosis ini disesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan kondisi lingkungan murid berada. Hasil dari asesmen diagnosis ini digunakan guru untuk memetakan kebutuhan dasar murid berdasarkan minat dan profil belajar murid. Sederhananya asesmen diagnosis dilakukan guru untuk mengetahui murid seperti apa yang dihadapinya dan guru bebas menggunakan alat/cara apapun untuk mengetahui kondisi muridnya.

Jika guru sudah memetakan kebutuhan dasar muridnya maka, cara terbaik yang dapat dilakukan guru dalam memenuhi keberagaman kebutuhan belajar murid adalah melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan segala usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan ? Karena pembelajaran berdiferensiasi memiliki karakter :

1.     Kurikulum memiliki Tujuan Pembelajaran (TP) yang didefinisikan secara jelas untuk para muridnya.

2.     Guru merespon dengan menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

3.     Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

4.     Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

5.     Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui.

Ketika pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan terbaik guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas maka, guru dapat mulai menyusun RPP / Modul Ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dapat menentukan model pembelajaran dan penilaian yang relevan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran (TP) yang diharapkan.

Pembelajaran berdiferensiasi yang telah saya tuangkan dalam modul ajar memuat pembelajaran berdiferensiasi konten, proses, dan produk. Saya mendesai konten modul ajar ini bersumber dari hasil asesmen non kognitif dan kognitif di awal semester. Proses dari implementasi modul ajar ini di kelas berjalan baik dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dan terakhir produk yang dihasilkan berupa kemampuan individu yang mulai berkembang sesuai dengan kelebihan yang dipunya baik itu dari bercerita, menggambar, maupun menulis.

Setelah mempelajari dan memahami makna dari memenuhi kebutuhan murid tentang pembelajaran berdiferensiasi, saya telah mencoba mempraktikkan modul ajar berdiferensiasi yang telah didesain pada modul 2.1. Adapun evaluasi yang saya gunakan untuk refleksi berikutnya adalah pembelajaran diferensiasi terbukti mampu mengakomodir keragaman kebutuhan belajar murid di kelas. Ini merupakan pengalaman baru untuk saya dan pastinya juga untuk para murid. Kekurangan di beberapa komponen tidak dapat dipungkiri, contohnya beberapa murid yang belum bisa fokus pada kelompoknya dan lebih senang melihat kerja kelompok lain. Kemudian ada beberapa murid yang membutuhkan bantuan lebih yaitu murid yang cenderung aktif secara motorik sehingga diperlukan lagi penambahan praktik pada Lembar Kerja Kelompok (LKK). Adapun murid yang perlu mendapat tantangan adalah murid yang mengerjakan LKK dengan baik dan cepat serta mempresentasikan hasilnya dengan baik.

Menciptakan lingkungan belajar yang nyaman untuk mengundang murid bahagia dalam proses pembelajarannya tidaklah mudah. Terkadang desain yang sudah kita siapkan dengan versi terbaik masih saja ada kekurangan dalam mengaplikasikannya di kelas. Namun, perlu disadari satu hal bahwa semua butuh proses baik itu untuk saya sebagai guru dan murid sebagai aktor utamanya. Proses yang telah berjalan ini memacu saya untuk terus melakukan evaluasi dan refleksi agar berikutnya bisa berjalan lebih maksimal lagi. Pastinya..proses yang telah berjalan ini pun membuat anak-anak hebat kelas 3 lebih bahagia.

Terakhir..terima kasih anak-anak hebat 33 MB khususnya Kelas 3.

Demikian artikel saya kali ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca khususnya bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia… 

Senin, 12 September 2022

33 MB Berbagi Praktik Baik Budaya Positif

 

                                            Berbagi Praktik Baik Budaya Positif (Doc. Pribadi)

Berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat di sekolah adalah pengalaman yang luar biasa untuk saya. Tidak hanya rekan sejawat di 33 MB namun, rekan sejawat di dua sekolah terdekat yaitu UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat.

Berbagi praktik baik ini merupakan salah satu tugas aksi nyata dari Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sedang saya ikuti. Aksi nyata ini bukan hanya sekedar tuntutan tugas saja buat kami Calon Guru Penggerak (CGP) namun juga menjadi kali pertama kami berbagi praktik-praktik baik yang telah kami laksanakan kepada rekan-rekan sejawat di dalam ataupun luar sekolah.

Awal membaca tugas ini di LMS (Learning Management System / Sistem Manajemen Pembelajaran), terpikir oleh saya : “Mengapa aksi nyata kali ini harus berupa pengimbasan dengan berbagi praktik baik kepada rekan-rekan sejawat ?” Ingatlah saya pada pernyataan Bapak Nadiem Anwar Makarim atau yang biasa di panggil Mas Menteri bahwa sekarang bukan lagi zamannya para guru berkompetisi namun, inilah zamannya para guru untuk saling berkolaborasi. Dengan berbagi praktik baik, diharapkan menginspirasi para pejuang pendidikan untuk terus semangat berjuang mentransformasi pembelajaran di sekolah khususnya di kelas sehingga nilai/karakter positif dapat terbentuk dalam diri murid.

Aksi nyata ini dilaksanakan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat tepatnya di Kelas 3. Kelas yang hampir setiap waktunya saya habiskan bersama 18 anak-anak hebat Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat. Suasana kelas yang sederhana tidak menyurutkan saya untuk menjadikan kelas 3 sebagai ruang pertemuan bersama rekan sejawat dari UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat. Sarana prasarana yang minim tidak lagi menjadi alasan untuk tidak berkarya. Anak-anak hebat Kelas 3 mampu menggoreskan dan meninggalkan jejak sejarah perjalanan mereka di ruang yang mereka hias dengan karya-karya terbaik mereka.

Pada aksi nyata kali ini saya menceritakan pengalaman-pengalaman luar biasa saat mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini termasuk mendapatkan materi budaya positif. Budaya positif terbentuk dari perilaku baik yang berkembang menjadi kebiasaan baik/positif sehingga terbentuklah budaya positif. Budaya positif dapat dibentuk dari hal terkecil di dalam kelas dengan membuat keyakinan/kesepakatan kelas bersama para murid. Ada juga materi tentang 5 kebutuhan dasar yang menjadi alasan untuk setiap tindakan yang dilakukan anak. Kemudian lanjut dengan materi 5 posisi kontrol guru dan penerapannya pada restitusi.

Sebelum mengakhiri aksi nyata, saya juga berbagi praktik baik dari 4 program unggulan 33 MB yaitu PULAS, SEMATA, NADI, dan D-Ka. Saya juga berbagi praktik-praktik baik yang telah dilaksanakan di dalam kelas 3. Untuk lengkapnya, berikut ini video aksi nyata budaya positif bersama rekan sejawat :

Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 1 (Doc. Pribadi)

dan

                                  Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 2 (Doc. Pribadi)

Mari…terus semangat dalam menanamkan budaya positif di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertuang dalam visi sekolah impian. Mulai dari langkah kecil namun konsisten untuk melakukannya.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


*Artikel ini juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/631eee5ea65da822277578d3/33-mb-berbagi-praktik-baik-budaya-positif 

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...