Tampilkan postingan dengan label budayapositif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budayapositif. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Oktober 2023

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Berkala bagi Anak Usia Sekolah

 

Tim Puskesmas Penagan bersama 33 MB

Anak usia sekolah merupakan sasaran strategis untuk pelaksanaan program kesehatan. Selain jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan sasaran yang mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik yaitu berada di sekolah/madrasah. Sementara anak yang berada di luar sekolah dapat dijangkau di lembaga pendidikan lainnya. Sebagai amanah dalam pemenuhan atas hak kesehatan yang sama untuk semua anak Indonesia, kegiatan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala perlu dilaksanakan oleh tim terkait. Selain itu, pentingnya kegiatan ini untuk mendeteksi dini masalah kesehatan yang dapat mengganggu proses belajar dan tumbuh kembang anak sehingga dapat ditindak lanjuti dengan segera. Hasil penjaringan kesehatan juga dapat digunakan untuk merencanakan program kesehatan di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Sebagai sekolah yang menjadi naungan Puskesmas Penagan, senin / 09 Oktober 2023 pukul 09.00 WIB, para murid kelas 1  UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat sangat antusias kala dilakukan pemeriksaan oleh tim puskesmas. Walaupun ini bukanlah pengalaman pertama bagi mereka karena sebelumnya sering dilakukan saat masih di TK, namun semangat menyambut kedatangan tim puskesmas tidak dapat terelakkan. Bahkan seorang anak ada yang bertanya kepada tim, “Kenapa kita tidak di suntik, pak?” Mendengar anak itu mengatakan demikian, kami pun tersenyum lebar.

Pemeriksaan Kesehatan di Kelas 1

Sebelum memulai pemeriksaan, salah satu dari tim puskesmas menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan. Para murid pun secara bergantian melakukan pemeriksaan kesehatan mereka. Mulai dari pengukuran Tinggi Badan (TB), pengukuran Berat Badan (BB), pemeriksaan telinga, gigi dan mulut, kuku, kulit serta rambut mereka. Kemudian, para murid juga ditanyakan beberapa pertanyaan terkait pemenuhan kesehatan mereka. Selain itu, kelas lainnya juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan berkala juga dari tim Puskesmas Penagan.

Bapak Dianto Tanzar, S.Pd selaku kepala UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas Penagan ini. Setelah tim puskesmas menyampaikan tujuan dari kegiataan ini, bapak kepala sekolah mengatakan bahwa, “Kesehatan anak adalah tanggung jawab kita bersama agar generasi Indonesia kelaknya tumbuh menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohaninya serta tumbuh menjadi generasi Indonesia yang siap bersaing di eranya.”

Kolaborasi 33 MB bersama Puskesmas Penagan tidak hanya terjalin dari kegiatan pemeriksaan kesehatan berkala yang sedikitnya dilakukan 1 tahun sekali ini saja, namun sebelumnya kolaborasi 33 MB dan Puskesmas Penagan juga telah dilakukan dalam kegiatan sosialisasi sikat gigi bersama dokter gigi dan tim dari Puskesmas Penagan (baca disini). Mengingat pentingnya kegiatan yang serupa, maka untuk ke depan program Semata (Senyum Manis Kita) akan terus 33 MB lanjutkan demi pemenuhan kebutuhan kesehatan anak agar lebih masksimal.

Terima kasih tim Puskesmas Penagan dan tetap berkolaborasi bersama 33 MB dalam semangat sehat bersama anak-anak hebat…

Semangat belajar untuk kita semua…

Salam dan Bahagia…

 

 

 

Senin, 27 Maret 2023

Menata Kelas 3 dengan aset yang dimiliki 33 MB

Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Pribadi)

Apa yang terbesit di pikiran kita ketika mendengar kata “aset sekolah” ?? Akankah kita hanya berfokus pada sarana prasarana sekolah ?? atau finansial sekolah ?? Lalu, bagaimana dengan sekolah yang mempunyai sarana prasarana belum memadai dan keuangan yang terbatas ??

Ketika saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP), saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Dalam modul itu, ada materi menarik yang sungguh menyentuh hati bahkan saya ingat betul ketika menyelesaikan salah satu tugasnya, saya sampai meneteskan airmata. Video pembuka yang ditampilkan pada materi itu mengingatkan pada sekolah yang hampir setiap hari menjadi tujuan saya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di kelas 3, saya berusaha menyediakan tempat ternyaman untuk 18 anak hebat Air Pelempang dengan aset terbesar yang dimiliki oleh kelas yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).

Ada 7 aset atau modal yang dimiliki oleh sebuah komunitas termasuk itu sekolah, yaitu manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, agama dan budaya. Jika selama ini aset hanya berfokus pada fisik dan finansial maka, sesungguhnya aset terbesar terletak pada SDM (Sumber Daya Manusia) dan hubungan sosial yang tercipta dari individu manusia di dalamnya. Bukan berarti aset lain tidak penting, kita tetap butuh aset lainnya untuk melengkapi agar tujuan dari sekolah sebagai tempat pendidikan formal terbaik yang berada di lingkungan masyarakat tercapai dengan maksimal.

Pemanfaatan aset sekolah saya implementasikan dalam menata kelas 3 di tahun pelajaran 2022/2023 ini. Mengapa kelas menjadi pilihan pertama ? Karena kelas adalah tempat pertama murid belajar di sekolah sehingga banyak waktu dihabiskan di kelas. Kelas juga menjadi tempat pertama para murid membekali diri mereka untuk ke lingkungan yang lebih luas. Sebagai seorang guru, kelas juga menjadi tempat penting untuk saya yang berdomisili jauh dari sekolah dengan jarak tempuh 55 KM.

Sebelum saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya telah mengajak para murid membayangkan kelas impian mereka. Keinginan dan harapan itu mereka tulis dalam catatan kecil kala kami sedang membuat kesepakatan kelas 3 di awal tahun ajaran baru, Juli 2022 lalu. Banyak anak yang mengharapkan kelas yang cantik, indah, bagus, dan nyaman. Tidak harus fisiknya saja, namun kehidupan sosial yang tumbuh di dalamnya. Saya selalu mengajak para murid berdiskusi sebelum memulai proses belajar mereka sebagai modal awal saya mempersiapkan desain pembelajaran di kelas (bagian dari asesmen diagnostik non kognitif). Kelas menjadi tempat pertama mereka mencurahkan apa yang mereka sukai, harapkan/inginkan, dan impikan untuk proses belajar mereka ke depannya. Selain itu, saya juga turut serta mengajak para orangtua yang tergabung dalam PULAS-3 (Paguyuban Kelas 3) untuk mendukung program kelas yang berpihak kepada murid. Salah satunya dengan menata kelas 3 menjadi tempat nyaman untuk anak-anak belajar di sekolah. Menata kelas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tidak hanya materi/finansial tetapi, ide dan kreativitas para orangtua dan murid.

Perjalanan belajar bersama anak-anak hebat dari Juli 2022 sampai Maret 2023 telah mentransformasi kelas 3 menjadi kelas yang lebih nyaman versi anak-anak. Selain melengkapi kelengkapan kelas, ada beberapa poin yang menjadi fokus dalam menata kelas 3, yaitu adanya :

1.       Kesepakatan Kelas yang dibuat guru dan murid pada awal tahun ajaran baru ditempel di dinding kelas dengan versi yang lebih menarik.

2.      Pohon cita-cita terdapat foto anak dan profesi mereka di masa depan.

3.      Pohon harapan berisi do’a orangtua yang ditulis sendiri oleh orangtua di selembar kertas berbentuk hati.

4.     Pojok baca dengan desain yang disesuaikan dengan lingkungan kelas (tidak bisa duduk dibawah karena kondisi lingkungan kelas yang banyak hewan melata) sehingga menggunakan tangga berbahan papan sebagai tempat duduk murid ketika membaca di pojok baca.

5.      Dinding literasi menggunakan spanduk bekas sebagai media untuk menempelkan berbagai informasi dan edukasi.

6.     Zonasi kehadiran murid yang setiap di pagi hari menjadi mainan pertama para murid karena mereka memasukkan sebuah stik yang berisi foto profesi mereka pada sebuah kantong yang terbuat dari bekas minuman bertuliskan Hadir, Izin, Sakit, dan Kemana ?? (artinya alpa).

7.      Stiker tinggi badan yang digunakan para murid untuk mengukur tinggi badannya setiap waktu sekaligus sambil belajar nama hewan dalam kosakata Bahasa Inggris.

8.     Beberapa perlengkapan kelas yang terbuat dari bahan bekas seperti Kotak P3K terbuat dari kotak sepatu bekas, kalender tahun 2023 yang berisi foto-foto kegiatan anak-anak kelas 3 di sekolah terbuat dari kalender bekas, dan sebagainya.

9.     Jadwal pelajaran, jadwal piket, struktur organisasi kelas, dan struktur organisasi PULAS-3 dibuat lebih menarik.

10.  Hiasan yang tergantung di langit-langit kelas berisi berbagai foto profesi masa depan para murid. Suasana kelas yang sejuk dan berangin membuat gantungan ini sering bergerak-gerak di langit kelas. Selain sebagai hiasan di kelas, ini juga menjadi media saya mengajak para murid merefleksi sejenak sambil memandang profesi di langit kelas.

11.    Karya-karya para murid yang ditempel pada dinding kelas dan di susun pada meja yang telah disediakan dalam kelas.

Transformasi kelas juga dilakukan 5 kelas lainnya di 33 MB. Bersama guru kelas dan PULAS (Paguyuban Kelas) masing-masing berupaya menata kelas lebih nyaman lagi agar proses belajar mengajar di kelas lebih nyaman. Menjadikan sekolah khususnya kelas sebagai tempat yang selalu dirindukan oleh warga sekolah.

Perubahan yang sedikit demi sedikit 33 MB lakukan dengan mendesain dan melaksanakan 4 program unggulan yang berpihak kepada murid di awal Juli 2022 lalu mulai PULAS (Paguyuban Kelas), NADI (Nabung Sejak Dini), SEMATA (Senyum Manis Kita), dan D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Program unggulan ke-5 33 MB yang bernama Operasi Semut juga mulai dilaksanakan pada awal tahun 2023 ini (semester genap). Program ini berfokus pada upaya sekolah menanamkan cinta lingkungan sedini mungkin yang dimulai dari lingkungan terdekat para murid dengan menjaga lingkungan dan alam sekolah. Beberapa kegiatan dalam Program Operasi Semut seperti pengadaan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah dan mencanangkan hari rabu sebagai HTS (Hari Tanpa Sampah) dengan membawa bekal makanan/minuman pada kotak bekal/botol minuman dari rumah sebagai usaha dalam menggalakkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Serta berkolaborasi dengan pihak lain khususnya yang berada dekat di lingkungan sekolah dalam edukasi tentang cinta lingkungan dan alam.

Pemerintah daerah Kabupaten Bangka dalam hal ini Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah pusat mengapresiasi gerakan perubahan yang telah dilakukan 33 MB dengan memberikan bantuan renovasi dua unit kelas kepada 33 MB di tahun 2023. Alhamdulillah… Satu dari dua kelas itu adalah kelas 3.

Tidak ada yang instan dalam proses belajar termasuk menata kelas ini. Tantangan pun tidak lepas dari usaha sekolah yang terus berupaya mendesain program positif berpihak kepada para murid. Tantangan terbesar adalah ketika melawan rasa ketidak percayaan diri sehingga selalu muncul pertanyaan : “Apakah bisa kita melakukan ini ?” Namun, 33 MB percaya waktu akan menjawabnya selama kita terus berkolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di daerah perbatasan kabupaten.

Sebagai seorang pendidik, saya meyakinkan para murid dengan semangat-semangat positif yang setiap waktu selalu disampaikan. Kebersamaan anak-anak bersama para orangtua menata kelas juga menjadi bukti bahwa proses belajar anak di sekolah juga menjadi bagian dari kolaborasi antara pihak sekolah dan keluarga.

Selanjutnya video Menata Kelas 3 dengan memanfaatkan aset sekolah tersedia di channel Youtube :

                            Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Youtube Lisa Sya)

 

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

*Artikel ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/642199e1d3aa0f498642f512/menata-kelas-3-dengan-aset-yang-dimiliki-33-mb 

 

Selasa, 06 Desember 2022

Kumpulan Aksi Nyata CGP Desa Air Buluh Kab. Bangka

 

Kumpulan Aksi Nyata CGP A.5 (Doc. Pribadi)

Desember pun tiba, tidak terasa telah memasuki bulan ke-8 dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5. Walaupun sempat terhenti sejenak karena peralihan kepemimpinan ke Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) dan Balai Guru Penggerak (BGP) provinsi, tidak menyurutkan semangat para Calon Guru Penggerak (CGP) dalam mengikuti pendidikan ini hingga selesai. Berakhirnya materi / modul yang tersedia di Learning Managmenet System (LMS) beriringan dengan munculnya tampilan dashboard para CGP yang menujukkan rata-rata di atas angka 95 %. Untuk menuju ke angka 100% masih tersisa Lokakarya 6 dan Lokakarya 7.

Materi Pendidikan Guru Penggerak disajikan dalam 10 modul dengan durasi waktu 6 bulan. Pembelajaran daring yang di desain dengan menggunakan alur belajar MERRDEKA sendiri terdiri dari : M (Mulai dari diri), E (Eksplorasi konsep), R (Ruang kolaborasi), R (Refleksi terbimbing), D (Demonstrasi kontekstual), E (Elaborasi pemahaman), K (Koneksi antar materi), dan A (Aksi nyata). Pada artikel sebelumnya, saya pernah menuliskan salah satu alur MERRDEKA yaitu, Ruang Kolaborasi (tersedia di sini). Artikel saya kali ini membahas mengenai tahapan terakhir pada alur MERRDEKA, yaitu Aksi Nyata.

Aksi nyata memberikan ruang pada CGP menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Aksi nyata dimaksudkan sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan karena dapat mengambarkan sebuah kesatuan antara proses pembelajaran dan implementasinya. Dalam harapannya, aksi nyata perlu dijalankan secara terus menerus bahkan hingga Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) telah diselesaikan.

Tidak mudah bagi saya menyelesaikan program PGP ini, bahkan saat pertama kali memulainya banyak muncul rasa khawatir yang tak terbendungkan. Salah satunya ketika pendidikan ini dimulai, saya dipindah tugas ke sekolah baru. Bukan hanya sekolah baru, namun lingkungan dan daerah pun baru. UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB) merupakan sekolah kecil yang terletak di Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Sebuah sekolah yang berbatasan langsung dengan Desa Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah. Desa Air Buluh berjarak hampir 60 KM dari ibukota kabupaten, Kota Sungailiat tempat tinggal saya. Jika para pembaca mengikuti artikel yang sering saya tulis sebelumnya, perjalanan menuju sekolah ini harus saya tempuh dengan waktu 1,5 jam dengan kendaraan roda dua. Alhamdulillah akses jalan lumayan baik, sehingga saya pun dengan lancar melakukan perjalanan pergi dan pulang sekolah setiap harinya.

Bagi saya, aksi nyata yang telah dilakukan ini bukan hanya sekedar tagihan tugas semata. Namun, selalu menjadi bagian terpenting dalam evaluasi dan refleksi dari proses pembelajaran yang terus saya lakukan. Saya sadar betul bahwa semua yang telah dilakukan ini masih jauh dari kata sempurna, namun harapan untuk terus membenah diri menjadi lebih baik dari hari kemarin bagian dalam tujuan yang tidak akan pernah putus. Bersama orang-orang hebat yang setiap waktu memberikan dukungan, motivasi, dan menginspirasi saya, alhamdulillah saksi nyata semua modul di pendidikan ini telah selesai.

Berikut ini adalah kumpulan aksi nyata dari proses pembelajaran yang telah saya dapatkan pada PGP dan perlahan telah diimpelementasikan di 33 MB :

Aksi Nyata 1 (Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara). Mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pengembangan karakter. Hasil aksi nyata 1 tersedia di Aksi Nyata 1.1.

Aksi Nyata 2 (Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak). Melakukan proses pengembangan diri untuk menguatkan nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Hasil aksi nyata 2 tersedia dalam channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 3 (Modul 1.3 Visi Guru Penggerak). Menjalankan rencana manajemen prakarsa perubahan BAGJA yang telah dibuat. Hasil aksi nyata 3 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 4 (Modul 1.4 Budaya Positif). Menyampaikan pembelajaran dari penerapan dan pemahaman mengenai konsep-konsep inti dari modul budaya positif dengan membuat webinar kecil berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat. Hasil aksi nyata 4 terdiri dari 2 bagian dan tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 1 (Doc. Pribadi)

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 5 (Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid melalui Pembelajaran Berdiferensiasi). Mendesain, mempraktikkan dan melakukan refleksi terhadap implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Hasil aksi nyata 5 tersedia di Aksi Nyata 2.1.

Aksi Nyata 6 (Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional). Membagikan pemahaman tentang implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) dengan 4 indikator, yaitu pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan sekolah, dan penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) pendidikn dan tenaga kependidikan di sekolah serta merefleksikannya. Hasil aksi nyata tersedia di Aksi Nyata 2.2.

Aksi Nyata 7 (Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik). Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik dalam pembelajaran dengan menggunakan paradigma berpikir coaching. Aksi nyata 7 tersedia  di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 2.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 8 (Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin). Mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah. Hasil aksi nyata 8 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.1 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 9 (Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya). Mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah. Hasil aksi nyata 9 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 10 (Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Bedampak Positif pada Murid). Menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) dan A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual. Adapun hasil aksi nyata 10 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.3 (Doc. Pribadi)

Rasa khawatir di awal pendidikan kian sirna seiring berjalannya waktu. Hal ini tidak lepas dari dukungan semua pihak yang turut membantu proses perjuangan ini. Terima kasih saya haturkan untuk 33 MB (Bapak Soleh, S.Pd.I selaku kepala sekolah, rekan-rekan sejawat, pengawas sekolah, para murid hebat 33 MB, dan orangtua), KKG gugus IV Prasasti Kotakapur, komunitas praktisi lainnya di Mendo Barat dan Kabupaten Bangka, serta rekan-rekan seperjuangan di PGP Angkatan 5 Kabupaten Bangka. Pastinya juga untuk keluarga tercinta yang tak pernah henti mendukung tiap jengkal perjuangan ini.

Terima kasih juga untuk fasilitator, Bapak Muhari, S.Pd., M.Pd., dan pengajar praktik, Bapak Selamet Simbolon, S.Pd atas bimbingan dan dukungannya kepada saya selama Program Pendidikan Guru Penggerak ini. Terakhir..terima kasih saya ucapkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam rangkaian aksi nyata pada PGP yang telah terlaksana. Harapan terbesar saya semoga aksi nyata yang telah dilakukan dan berjalan tidak berhenti sampai disini saja, namun terus berproses setiap waktunya sebagai bagian dari transformasi pendidikan di daerah saya khususnya di lingkungan 33 MB.

Sekian dari saya. Semangat belajar untuk kita semua.

Salam dan bahagia..

*Artikel juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/638ff8134addee5b547dc7e3/kumpulan-aksi-nyata-cgp-desa-air-buluh-kab-bangka 

Rabu, 16 November 2022

Koneksi Menuju Akhir Pendidikan

 

Koneksi Antar Materi Modul 3.3 (Doc. Pribadi)

Perasaan yang sulit di ungkapkan untuk memulai tulisan ini. Mengapa tidak? Karena ini Koneksi Antar Materi terakhir pada Pendidikan Guru Penggerak yang sedang saya jalani. Selain itu, koneksi antar materi pada modul 3.3 juga menjadi menarik dan menantang karena kami diminta untuk melakukan kilas balik dan review kembali modul-modul sebelumnya yang telah dipelajari hampir 6 bulan ini.

Setelah mempelajari Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, saya perlahan mulai memahami bahwa sejatinya keberpihakkan kepada murid terletak pada pembelajaran bermakna yang telah dilewati murid. Memberi kesempatan kepada murid  dalam merencanakan, menjalani prosesnya, dan mengevaluasi setiap pembelajaran menjadi paket utuh pembelajaran yang bermakna. Tidak mudah merealisasikan mimpi menjadi realita, namun saya percaya bahwa mimpi adalah awal dari tindakan-tindakan kecil menuju sebuah realita. Tanpa mimpi tidak akan ada gerakkan. Tanpa gerakkan tidak akan ada perubahan. Tanpa perubahan tidak ada budaya. Tanpa budaya tidak ada sejarah. Karena sejarah adalah identitas zaman yang hidup saat itu.

Banyak hal yang saya temui ketika mempelajari modul ini, salah satunya membangun dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dengan banyak orang. Mulai dari murid, kepala sekolah, rekan sejawat, orang tua, rekan komunitas di luar sekolah, masyarakat sekitar, dan pihak lainnya. Semua unsur ini terlibat dalam membentuk ekosistem sekolah yang nyaman dan menyenangkan sesuai dengan visi sekolah impian yang pernah saya utarakan pada Modul 1.3 Visi Guru Penggerak sebelumnya. Saya sadar betul perlu keluasan hati untuk mengenal dan memahami semua unsur agar dapat bersama bersinergi mewujudkan tujuan pendidikan yang diamatkan Undang-Undang. Sebagai seorang guru juga manusia yang memiliki pribadi/karakter yang jauh dari kesempurnaan, pendidikan guru penggerak mengasah keterampilan saya dalam berkomunikasi dengan banyak unsur di dunia pendidikan. Hingga pada akhirnya, komunikasi menjadi misi penting dalam menghubungkan saya dengan banyak pihak yang bersentuhan langsung dengan pendidikan anak-anak bangsa.

Setiap proses belajar pastilah tidak mudah bahkan terkadang belum mencapai target yang kita harapkan. Namun, evalusi dan terus merefleksi menjadi kunci dalam perbaikan dalam proses belajar selanjutnya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, memastikan bahwa setiap unsur juga mengalami proses kebermaknaan atas proses yang telah berlangsung. Bukan hanya berfokus pada pribadi murid, namun lingkungan/ekosistem juga menjadi target pengembangan pendidikan dalam proses belajar murid.

Setiap zaman akan meninggalkan budaya baru untuk sejarah. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Pendidikan yang kita rencanakan dan bangun sekarang akan menjadi kebudayaan untuk zaman ini nantinya. Sehingga untuk melukiskan kebudayaan yang memiliki nilai sejarah tinggi, pendidikan menjadi pondasinya. Budaya lalu akan tetap hidup di zamannya, begitupun budaya sekarang akan tetap hidup untuk zaman sekarang. Manusia terus tumbuh dan berkembang menuju perubahan yang tidak dapat terelakkan. Perubahan menjadi kebutuhan untuk kebudayaan yang akan menjadi sejarah di zamannya. Memaknai dari perubahan yang terjadi tidaklah mudah karena kita belum menyadari seutuhnya tentang sejarah dari zaman yang sedang kita lewati. Inilah tantangan para agen transformasi pendidikan untuk mengkomunikasikan kepada semua pihak bahwa setiap individu punya andil menjadi bagian dari lukisan budaya di zamannya.

Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu kelas. Guru sebagai pemimpin pembelajaran memberi ruang kepada murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang mereka impikan. Para murid pasti akan menemui kesulitan, kegagalan, bahkan terluka dalam prosesnya. Sebagai guru (orangtua) pastinya kita akan luluh melihat mereka melewati proses ini. Hingga perlahan jurus-jurus kasihan mulai bermunculan untuk menyelesaikan sampai habis permasalahan yang dihadapi mereka. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa tidak akan menjadi pribadi yang tangguh tanpa ada duka? Duka ini dimaknai sebagai proses belajar murid menuju suka (kebahagiaan). Kebahagiaan akan membawa mereka pada keselamatan dalam hidupnya. 

Program yang telah saya rencanakan pada Demonstrasi Kontekstual sebelumnya menjadi bagian dari proses belajar saya sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Saya belajar banyak hal ketika mengawali program itu. Mulai ide yang muncul dari murid sendiri hingga eksekusi yang dilakukan oleh mereka sendiri. Walaupun pada kenyataannya belum terlihat keberhasilannya, namun setidaknya anak-anak hebat 33 MB telah memulai membangun budaya untuk zamannya.

Hal baru lain yang saya dapat bukan hanya dari modul ini, namun secara keseluruhan dari pendidikan yang telah saya lewati hampir 6 bulan ini ketika saya semakin memahami sejatinya kita bukan hanya hidup untuk belajar sendiri, namun kita akan membangun generasi baru yang lebih tangguh untuk dapat hidup di zamannya nanti. Impian ini tidak dapat diwujudkan oleh saya sendiri, tetapi seluruh pihak/unsur adalah bagian dari keberpihakkan kepada murid menuju kebahagiaan yang dicita-citakan.

Akhir dari setiap artikel yang saya tulis, selalu ada kata ajakan (mari/ayo). Karena sekali lagi saya katakan: “Saya tidak bisa sendiri, bersama kita bergerak dan menggerakkan perubahan menuju kebahagiaan para murid kita.”

Demikianlah artikel saya pada Modul 3.2 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

 

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Senin, 12 September 2022

33 MB Berbagi Praktik Baik Budaya Positif

 

                                            Berbagi Praktik Baik Budaya Positif (Doc. Pribadi)

Berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat di sekolah adalah pengalaman yang luar biasa untuk saya. Tidak hanya rekan sejawat di 33 MB namun, rekan sejawat di dua sekolah terdekat yaitu UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat.

Berbagi praktik baik ini merupakan salah satu tugas aksi nyata dari Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sedang saya ikuti. Aksi nyata ini bukan hanya sekedar tuntutan tugas saja buat kami Calon Guru Penggerak (CGP) namun juga menjadi kali pertama kami berbagi praktik-praktik baik yang telah kami laksanakan kepada rekan-rekan sejawat di dalam ataupun luar sekolah.

Awal membaca tugas ini di LMS (Learning Management System / Sistem Manajemen Pembelajaran), terpikir oleh saya : “Mengapa aksi nyata kali ini harus berupa pengimbasan dengan berbagi praktik baik kepada rekan-rekan sejawat ?” Ingatlah saya pada pernyataan Bapak Nadiem Anwar Makarim atau yang biasa di panggil Mas Menteri bahwa sekarang bukan lagi zamannya para guru berkompetisi namun, inilah zamannya para guru untuk saling berkolaborasi. Dengan berbagi praktik baik, diharapkan menginspirasi para pejuang pendidikan untuk terus semangat berjuang mentransformasi pembelajaran di sekolah khususnya di kelas sehingga nilai/karakter positif dapat terbentuk dalam diri murid.

Aksi nyata ini dilaksanakan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat tepatnya di Kelas 3. Kelas yang hampir setiap waktunya saya habiskan bersama 18 anak-anak hebat Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat. Suasana kelas yang sederhana tidak menyurutkan saya untuk menjadikan kelas 3 sebagai ruang pertemuan bersama rekan sejawat dari UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat. Sarana prasarana yang minim tidak lagi menjadi alasan untuk tidak berkarya. Anak-anak hebat Kelas 3 mampu menggoreskan dan meninggalkan jejak sejarah perjalanan mereka di ruang yang mereka hias dengan karya-karya terbaik mereka.

Pada aksi nyata kali ini saya menceritakan pengalaman-pengalaman luar biasa saat mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini termasuk mendapatkan materi budaya positif. Budaya positif terbentuk dari perilaku baik yang berkembang menjadi kebiasaan baik/positif sehingga terbentuklah budaya positif. Budaya positif dapat dibentuk dari hal terkecil di dalam kelas dengan membuat keyakinan/kesepakatan kelas bersama para murid. Ada juga materi tentang 5 kebutuhan dasar yang menjadi alasan untuk setiap tindakan yang dilakukan anak. Kemudian lanjut dengan materi 5 posisi kontrol guru dan penerapannya pada restitusi.

Sebelum mengakhiri aksi nyata, saya juga berbagi praktik baik dari 4 program unggulan 33 MB yaitu PULAS, SEMATA, NADI, dan D-Ka. Saya juga berbagi praktik-praktik baik yang telah dilaksanakan di dalam kelas 3. Untuk lengkapnya, berikut ini video aksi nyata budaya positif bersama rekan sejawat :

Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 1 (Doc. Pribadi)

dan

                                  Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 2 (Doc. Pribadi)

Mari…terus semangat dalam menanamkan budaya positif di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertuang dalam visi sekolah impian. Mulai dari langkah kecil namun konsisten untuk melakukannya.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


*Artikel ini juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/631eee5ea65da822277578d3/33-mb-berbagi-praktik-baik-budaya-positif 

Minggu, 28 Agustus 2022

Membangun Budaya Positif di 33 MB

 

"Membangun Budaya Positif di 33 MB" Modul 1.4 (Doc. Pribadi)

Koneksi antar materi Modul 1.4.a.8 ini merefleksi dan mengaitkan pemahaman antar modul yang telah dipelajari. Bagaimana pada Modul 1.1 Pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi inspirasi dalam keberpihakkan kepada murid, Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak menjadi power yang harus diperkuat oleh seorang guru penggerak hingga di Modul 1.3 Visi Guru Penggerak merancang sebuah visi sekolah impian. Terakhir, bagaimana Modul 1.4 Budaya Positif menjadi bagian terpenting membentuk karakter/nilai positif dalam diri murid guna menjadi bagian dari terwujudnya Profil Pelajar Pancasila.

Menurut KHD, “Pendidikan merupakan proses dari mencari ilmu untuk kecakapan hidup secara lahir maupun batin baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Pendidikan juga memberi tuntunan terhadap segala kodrat yang dimiliki agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” Pemikiran ini menjadi panduan dalam sistem persekolahan KHD seperti Taman Siswa yakni tempat bermain sambil belajar untuk anak sesuai dengan kodratnya. Anak merdeka untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Tujuannya adalah untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai individu maupun makhluk sosial.

Pemikiran KHD ini membawa semangat untuk memperkuat nilai dan peran sebagai seorang guru penggerak yakni berpihak kepada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Sehingga dengan semangat ini, saya pun menyusun visi sekolah impian : “Mewujudkan Murid yang Berakhlak Mulia dan Berkarakter Mandiri demi Terwujudnya Generasi yang Merdeka dan Unggul.”

Peran seorang guru sangatlah besar untuk menciptakan budaya positif di sekolah terutama bagi saya yang sedang mengikuti pendidikan calon guru penggerak ini. Modul 1.4 Budaya Positif bukan hanya memberikan saya ilmu baru namun, mengubah cara pandang saya dalam menerapkan budaya positif di sekolah terutama mengenal dasar disiplin positif dan 5 kebutuhan dasar manusia, motivasi perilaku manusia (huhuman dan penghargaan), pentingnya membuat keyakinan/kesepakatan kelas, 5 posisi kontol yang sering dijalankan oleh guru, serta posisi kontrol terbaik guru dalam segitiga restitusi.

Penerapan budaya positif di sekolah telah dilaksakan dengan berbagai program dan kegiatan yang telah berjalan. Adapun program sekolah yang melibatkan seluruh warga sekolah dan merupakan Program Unggulan 33 MB, yaitu :

1.      PULAS (Paguyuban Kelas). PULAS bagian penting dalam program sekolah ini karena pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah namun, kolaborasi antara orangtua, sekolah, dan masyarakat. Sehingga PULAS merupakan wujud dukungan orangtua kepada sekolah dan juga menjadi wadah dalam memberikan pendapat/masukkan para orangtua demi lancarnya pembelajaran anak di sekolah. PULAS  1 sampai 6 telah terbentuk sehingga terpilih ketua PULAS untuk masing-masing kelas. Setiap ketua PULAS menjadi penggurus dalam KOMITE PULAS 33 MB. Pertemuan rutin para pengurus KOMITE PULAS 33 MB dilakukan satu bulan sekali dan obrolan isentif selalu dilakukan via Whatsapp.

2.      SEMATA (Senyum Manis Kita). SEMATA merupakan program edukasi akan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Kemudian penanaman kebiasaan baik menjaga kebersihan gigi dan mulut dari sedini mungkin harus ditanamkan karena berawal dari ini akan membentuk karakter kepedulian diri pada anak untuk menjaga kesehatan. SEMATA dimulai dengan sosialisasi Puskesmas Penagan ke 33 MB dengan hadirnya seorang dokter gigi dan tim Puskesmas dalam memberikan edukasi dan mengajarkan anak-anak praktik sikat gigi yang benar. Kemudian diadakan jadwal sikat gigi bersama di sekolah yang rutin dilakukan anak-anak setiap harinya bersama guru kelas. Selain itu, Program SEMATA menjadi program yang diikut sertakan dalam Lomba Senyum Indonesia yang dilaksanakan oleh salah satu aplikasi belajar online, KIPIN/Kios Pintar bekerjasama dengan Pepsodent.

3.      NADI (Nabung Sejak Dini). NADI merupakan program menabung untuk anak. Menabung menjadi penting dalam mengajarkan anak-anak hidup sederhana, disipilin, dan menyiapkan bekal untuk pendidikan yang lebih tinggi. Mitra menabung 33 MB adalah Bank Sumsel. Antusias orangtua dalam kegiatan ini juga sangat tinggi terbukti dengan hadirnya orangtua dalam sosialisasi menabung oleh pihak Bank Sumsel hingga pembuatan buku tabungan anak. NADI memfasilitasi anak-anak untuk menabung di bank tanpa perlu pergi ke bank yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Hadirnya pihak bank di sekolah setiap rabu menjadi hari menabung anak-anak bersama Bank Sumsel.

4.      D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). D-Ka merupakan program sosial dari anak untuk anak. Program ini mengajarkan anak peduli dengan berbagi kepada teman-temannya yang membutuhkan. Tidak menunggu harus kaya atau punya jabatan untuk berbagi, bisa dari hal yang paling kecil misalkan berbagi sedikit sembako yang ada di rumah. Semua sembako dikumpulkan oleh anak dan diberikan kembali ke anak-anak yang membutuhkan. D-Ka perdana diadakan dalam rangka memperingati HUT ke-77 RI tepat sehari sebelum perayaan puncak HUT RI yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus. Data anak yang menerima Sembako Berbagi ini didapat dari hasil diskusi para orangtua KOMITE PULAS 33 MB.

Penerapan budaya positif juga saya lakukan di Kelas 3 (kelas yang saya ampuh di tahun pelajaran 2022/2023). Adapun beberapa Program Kelas 3 yang telah dilaksanakan, yaitu :

1.     Asesment Diagnostik Non Formatif. Sosialisasi dan pengisian asesment adalah hal baru untuk murid dan orangtua namun, asesment diagnostik non formatif di awal pembelajaran menjadi agenda wajib untuk membantu guru mengetahui kondisi anak yang sebenarnya sehingga dalam menjalankan perannya guru mampu menuntun anak-anak pada minat, bakat, dan kemampuannya sesuai dengan sistem persekolahan KHD. Asesment memuat hal/aktivitas yang disukai hingga kemampuan yang dimiliki serta fokus pada aset/potensi anak. Selain itu, anak bersama orangtua menuliskan harapan untuk pembelajaran selama satu tahun di kelas 3. Asesment diagnostik non formatif ini saya susun sesuai dengan kebutuhan murid di 33 MB dan pengisiannya dilakukan di rumah dengan suasana santai agar hasil yang diharapkan maksimal. Asesment ini menjadi acuan penting saya dalam menjalankan semua kegiatan bersama anak-anak kelas 3 di sekolah. Sampai pernah terpikir oleh saya, jika tidak ada ini begitu jauhnya nanti saya akan salah melangkah.  

2.     Kesepakatan Kelas. Keyakinan/kesepakatan kelas juga menjadi agenda wajib guru dalam membentuk budaya positif di kelas. Saya menyaksikan begitu semangatnya anak-anak ketika menuliskan semua harapan yang mereka inginkan dan kemudian disepakati bersama-sama oleh guru dan murid. Saya terharu campur bahagia ketika melihat begitu semangatnya anak-anak untuk terus belajar menyepakati kesepakatan kelas ini. Jadi, menurut saya jika masih banyak kekurangan adalah normal untuk suatu aktivitas baru yang belum terbiasa dilakukan sebelumnya.

3.     Operasi Semut. Operasi semut menjadi program kelas yang setiap hari selalu dijalankan. Mengingat di belakang kelas 3 adalah TPS (Tempat Pembuangan Sampah) jadi, setiap hari selalu ditemukan banyak sampah berserakkan. Untuk saat ini saya masih berfokus kepada pembiasaan pada anak-anak untuk membuang sampah pada tempat sampah dan menjaga kebersihan di TPS.

4.  CUAN (Curhat Anak). CUAN menjadi wadah/ruang anak untuk bercerita kepada saya tanpa ada batasan (terbuka tanpa ada ketakuatan) dan bersifat rahasia (kecuali untuk beberapa anak atas izin mereka saya mendokumentasikannya). CUAN dilaksanakan sepulang sekolah agar keadaan kelas lebih tenang dan anak lebih rileks dalam bercerita. Setelah selesai CUAN, saya juga mengantar anak pulang ke rumahnya sambil bersilaturahmi dengan orangtuanya. Saya merasa kaget ketika program ini begitu diminati anak. Bahkan saya sedikit kewalahan dalam mengatur jadwal anak. Namun, saya utamakan anak-anak yang mempunyai masalah serius selama di sekolah untuk menerapkan restitusi dalam penyelesaiannya.

5.     BIJAR (Bermain Sambil Belajar). BIJAR adalah pembelajaran yang berpusat pada anak seperti selalu memulai ice breaking sebelum memulai pembelajaran, mengutamakan diskusi bersama, belajar di alam, menceritakan dari apa yang mereka baca/lihat di depan kelas, jadwal menonton film sekali dalam satu minggu, jadwal mengembangkan minat-bakat mereka sekali dalam satu minggu, dan aktivitas lainnya yang menyenangkan.

Semua kegiatan para murid di kelas maupun sekolah selalu saya tulis di blog pribadi (Blogspot dan Wordpress) dan beberapa di blog nasional (Kompasiana). Selain itu, saya juga mempostingnya di media sosial (Instagram, Facebook, Youtube, dan Tiktok). Saya juga rutin membagikan artikel/video ke beberapa Whatsapp/Telegram Grup terutama grup PULAS dan 33 MB. Mendokumentasikan dan menulis artikel akan terus saya lakukan karena ini adalah cara paling cepat dan mudah dalam menyebarkan praktik baik kepada semua orang. Melalui gawai canggih yang hampir setiap orang punya dan setiap waktu pegang mampu menjadikan 33 MB dikenal banyak orang. Bagian inilah yang membuat saya selalu terharu mengingat 33 MB berada di desa perbatasan Kabupaten Bangka Induk dan Kabupaten Bangka Tengah. Saya juga membagikan praktik baik ini di Platform Merdeka Mengajar untuk mendapatkan feedback dari guru di seluruh Indonesia yang akan membantu saya dalam merefleksi dalam mempersiapkan aktivitas berikutnya.

Hal-hal menarik yang terjadi di luar dugaan saya adalah ketika banyak anak dan orangtua memberikan feedback (umpan balik) positif kepada saya. Walau terkadang saya sering merasa apa yang saya lakukan ini tidaklah apa-apa. Bahkan ada orangtua yang pertama bertemu saya sampai menangis bercerita tentang betapa bahagia anaknya ketika pulang sekolah. Dia selalu cerita tentang kegiatannya selama di sekolah bersama saya. Semua hal yang saya dapat ini menjadi semangat untuk terus memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Perubahan yang terjadi pada cara berpikir dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah setelah memperlajari modul ini adalah anak-anak akan memiliki karakter/nilai positif dalam dirinya jika sekolah khususnya guru memberikan ekosistem positif pada murid. Ketika sekolah memahami itu maka, sekolah akan mengupayakan kegiatan keberpihakkan pada murid sehingga budaya positif terbangun di sekolah.

Pengalaman yang saya alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul ini baik di lingkup kelas maupun sekolah adalah manfaat yang sangat besar dirasa setelah menerapkannya. Dalam ruang lingkup kelas, ketika guru mengetahui kebutuhan dasar murid maka, saat murid tersebut mengalami masalah guru dapat membantunya dengan restitusi sehingga mengembalikannya pada nilai-nilai yang diyakini (kesepakatan kelas). Dalam ruang lingkup sekolah, semua kegiatan yang telah dilaksanakan bersumber dari keberpihakkan kepada murid sehingga anak-anak senang menjadi aktor utama dalam semua kegiatan yang direncanakan dan dijalankan apalagi kegiatan itu juga melibatkan orangtuanya.

Perasaan saya setelah menerapkan konsep-konsep budaya positif ini pastinya sungguh luar biasa bahagia. Melihat mereka tersenyum bahagia dari hal kecil dan sederhana, membuat saya menjadi termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik dalam perjalanan mereka menyiapkan bekal hidup untuk masa depannya.

Hal-hal yang sudah baik dalam penerapan budaya positif ini akan terus dijalankan oleh 33 MB. Tidak hanya ketika saya mengikuti pendidikan guru penggerak namun, terus dilakukan selama anak-anak bahagia menjalaninya sehingga membentuk karakter positif pada diri anak sendiri. Namun juga terus diadakan refleksi di jangka waktu tertentu. Salah satu refleksi adalah feedback, bisa secara langsung ke guru atau melalui PULAS. Hal-hal yang perlu diperbaiki adalah meyakinkan rekan sejawat bahwa semua kegiatan positif ini terus berjalan walaupun saya tidak lagi menjalani pendidikan guru penggerak. Sehingga memberi pemahaman bahwa sejatinya selama menjadi guru maka kita harus menjadi fasilitator terbaik untuk para murid kita.

Sebelum mempelajari modul ini, posisi kontrol yang sering saya gunakan adalah Teman. Dari awal menjadi seorang guru, saya selalu berprinsip bahwa anak-anak harus bahagia ketika bersama saya namun, itu saja tidak cukup. Anak-anak juga harus belajar menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan cara terbaik yang mereka bisa. Selama ini saya terlalu mentoleransi kesalahan anak tanpa berpikir apakah akan menjadi pengalaman belajar untuknya dan mengubah karakternya menjadi lebih kuat. Restitusi mengubah pandangan saya akan pentingnya memfokuskan anak dalam penyelesaian masalah dan penguatan karakter baik dalam diri anak.

Sebelum mempelajari modul ini, saya sudah pernah menerapkan restitusi namun, baru mencapai tahap 2 validasi tindakan yang salah. Tahap 3 tidak pernah dilakukan karena belum pernah membuat kesepakatan kelas sehingga tidak punya acuan dalam nilai-nilai yang diyakini bersama. Selain itu, saya juga tidak pernah membiasakan para murid untuk menemukan solusi sendiri dari masalah yang dihadapi sehingga tidak terjadi penanaman karakter positif yang kuat pada diri murid.

Semua konsep budaya positif secara utuh dan terurut telah dijelaskan dalam modul ini. Hal yang harus saya lakukan saat ini adalah meneruskan perilaku-perilaku positif sehingga menjadi suatu kebiasaan yang tumbuh menjadi budaya positif dimanapun saya berada, baik itu di rumah maupun sekolah. Selain itu, berbagi praktik baik di lingkungan terdekat (sekolah) menjadi bagian terpenting mengingat budaya positif di kelas akan lebih berimbas luas ketika ekosistem sekolah juga mengupayakan budaya positif. Hal ini bisa dimulai dengan menjadi role model. Bagian yang tidak mudah untuk saya dan mungkin untuk para CGP lainnya. Namun, saya percaya dalam setiap niat tulus akan selalu ada jalan terbaik untuk dilalui.

Mari…terus semangat dalam menanamkan budaya positif di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertuang dalam visi sekolah impian. Mulai dari langkah kecil namun konsisten untuk melakukannya.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

*Video "Membangun Budaya Positif di 33 MB" juga tersedia di channel Youtube :

Video "Mebangun Budaya Positif di 33 MB" Modul 1.4 (Doc. Pribadi)


Jumat, 19 Agustus 2022

Analisis Kasus Budaya Positif

 

"Analisis Kasus Budaya Positif " Ruang Kolaborasi Modul 1.4 (Doc. Pribadi)

Ruang Kolaborasi pada Modul 1.4. Budaya Positif adalah ruang kolaborasi terakhir dari Modul 1 pada Pendidikan Guru Penggerak ini. Ada yang berbeda pada ruang kolaborasi kali ini, yaitu kami dalam kelompok diminta untuk mendiskusikan empat kasus budaya positif yang ada dalam lingkungan sekolah.

Sungguh diskusi yang panjang antara saya dan kedua teman CGP lainnya dalam ruang kolaborasi ini. Kami berdiskusi dan menganalisis kasus budaya positif yang sering dijumpai di lingkungan sekolah kemudian dikaitkan dengan beberapa teori budaya positif yang telah dipaparkan pada fasilitator Pak Muhari. Selain itu pada tahap alur MERRDEKA sebelumnya kami juga telah mendapatkan bekal dari Eksplorasi Konsep (Forum Diskusi) tentang teori budaya positif ini.

Sebenarnya budaya positif ini bukanlah materi asing untuk saya karena jauh sebelum mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ini, saya pernah mempelajari modul budaya positif pada pembelajaran mandiri di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Bahkan saya juga telah mengunggah aksi nyata untuk tugas akhir pada pembelajaran mandiri di PMM ini.

Ada beberapa teori budaya positif yang dikaitkan dalam menganalisis 4 kasus dalam ruang kolaborasi ini yaitu :

1.    Keyakinan kelas / kesepakatan kelas. Suatu aturan yang dibuat, disusun, dan disepakati oleh murid di kelas. Namun, ruang lingkup keyakinan kelas ini bisa juga dalam lingkungan sekolah sehingga biasa disebut keyakinan sekolah/kesepakatan sekolah. Point dari keyakinan/kesepakatan ini adalah aturan dibuat dan disusun bersama para murid agar mereka lebih bertanggung jawab dalam menjalankan kesepakatan yang telah dibuat dan menanamkan motivasi intrinstik (motivasi dari dalam diri tanpa paksaan/perintah untuk melakukannya).

2.    Kebutuhan dasar manusia. Ada 5 kebutuhan dasar manusia yaitu cinta-kasih sayang, kebebasan, penguasaan, kesenangan/perhatian, dan bertahan hidup.

3.    Lima posisi kontrol. Ada 5 posisi kontrol guru ketika dihadapkan pada murid yang melakukan kesalahan yaitu Penghukum, Pembuat rasa bersalah, Teman, Pemantau, dan Manager. Posisi kontrol yang paling diharapkan dimiliki oleh seorang guru adalah Manager yang berfokus pada penyelesaian masalah bersama murid.

4.    Segitiga restitusi. Ada 3 tahapan restitusi yaitu menstabilitas identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan.

Kesimpulan kelompok kami dalam ruang kolaborasi Modul 1.4 Budaya Positif dalam menganalisis 4 kasus ini adalah kesalahan yang dilakukan murid pastilah karena suatu sebab (tidak terpenuhnya kebutuhan dasar manusia). Sehingga fokus pada kesalahan murid bukanlah tujuannya namun, guru menjadi manager untuk membimbing murid memperbaiki kesalahannya dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Tujuannya agar tertanam nilai-nilai positif pada diri murid yang harapannya akan menjadi kebiasaan (membudaya) di dalam kehidupannya.

Mari…selalu semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia… 

*Judul yang sama juga menjadi hasil diskusi pada ruang kolaborasi dari kelompok kami dalam Program Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka.

*Video di Channel Youtube : 

Video "Analisis Kasus Budaya Positif" Ruang Kolaborasi Modul 1.4 (Doc. Youtube Lisa Sya)

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...