Tampilkan postingan dengan label merdekamengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merdekamengajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Maret 2024

Observasi Kelas Penuh Cerita

 

Observasi Kelas 1 33 MB, Rabu/06 Maret 2024 (Doc. Pribadi)

        Dalam upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di dunia pendidikan, Kemendikbudristek hadir membersamai pembelajaran yang berdampak pada capaian belajar murid, salah satunya melalui peningkatan peran profesional guru sebagai garda terdepan pendidikan Indonesia melalui transfromasi Pengelolaan Kinerja yang tersedia di aplikasi Platform Merdeka Mengajar (PMM). Tujuannya tidak lain agar Pengelolaan Kinerja dapat lebih praktis, relevan, dan berdampak nyata. Para guru dan kepala sekolah tidak perlu lagi mengisi E-Kinerja BKN karena Pengelolaan Kinerja yang tersedia di PMM telah terintegrasi dengan E-Kinerja BKN.

Proses penggunaan Pengelolaan Kinerja di PMM oleh para guru dan kepala sekolah mulai Januari 2024 juga telah dirasakan oleh saya dan rekan-rekan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut “33 MB”). Perencanaan yang dituangkan dalam Rencana Hasil Kinerja (RHK) pada bulan Januari lalu kini telah memasuki pelaksanaan observasi kelas di bulan Maret. Namun, sebelumnya persiapan observasi kelas ini telah dikomunikasikan bersama kepala sekolah di bulan Februari.

Observasi kelas atau dulunya lebih dikenal supervisi kelas menjadi agenda wajib yang dilaksanakan oleh kepala satuan pendidikan (kepala sekolah) sebagai upaya meningkatkan peran profesional guru dalam proses pembelajaran yang telah berlangsung di sekolah. Namun, hal menarik yang saya rasakan dalam menyiapkan observasi kelas tahun ini adalah kebebasan guru dalam menentukan fokus perilaku yang akan dikembangkan. Observasi kelas kini dirancang bukan hanya mengidentifikasi kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran namun, dikemas dengan lebih ringkas seperti banyak melibatkan guru dalam proses menemukan dan menyelesaikan kesulitan yang ditemui dalam proses belajar mengajarnya. Melalui banyak rerkomendasi yang nantinya akan disediakan dalam tahapan Pengelolaan Kinerja di PMM, guru diharapkan dapat lebih fokus pada praktik kinerja dan perilaku kinerja.

Bulan Maret menjadi jadwal observasi kelas untuk para guru termasuk kami di 33 MB. Fokus observasi yang saya tentukan dalam observasi kelas semester ini adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran yang memberi peran pada semua murid dengan memotivasi para murid untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, menyediakan peran dalam kelompok untuk memastikan semua anggota kelompok mendapatkan peran, dan memberi dukungan serta kesempatan pada murid yang pasif untuk berperan. Fokus perilaku ini menjadi kunci saya dalam mendesain Modul Ajar dalam observasi kelas.

Rabu / 06 Maret 2024 menjadi jadwal observasi kelas saya bersama anak-anak hebat kelas 1. Saya melanjutkan materi matematika “Mengenal Bangun Datar”. Mulai dengan menayangkan video lagu “Topi Saya Bundar” dan bernyanyi bersama menggunakan topi yang telah dibawa dari rumah menjadi awal untuk mengingat kembali materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya. Selanjutnya, mengindentifikasi bangun datar dari video yang ditayangkan serta benda konkret yang ada di dalam kelas hingga mengerjakan Lembar Kerja (LK) dalam kelompok. Lalu, bagaimana anak-anak kelas 1 dapat membagi peran dalam suatu kelompok? Apalagi di pertengahan pembelajaran, beberapa anak menangis karena belum mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Sungguh..ini menjadi tantangan terbesar bagi saya. Menyikapi kejadian tak terduga ini, saya memberikan kesempatan kepada beberapa anak yang belum tampil untuk maju bersamaan. Alhasil, mereka pun dapat menyimpulkan bahwa keadaan menjadi lebih ramai karena anak-anak menjawab pertanyaan secara bersamaan.

Banyak hal menarik lainnya yang membuat saya  terus tersenyum disepanjang proses pembelajaran, salah satunya pembagian peran anak-anak dalam mengerjakan LK kelompok (menulis, menggunting, dan menempel). Ada anak yang langsung membagikan peran untuk anggota kelompoknya dan semuanya menyapakati. Kemudian, ada kelompok yang  menggunakan teknik “hom pim pa” dalam menentukan peran di kelompoknya. Hal ini dilakukan untuk menghindari pertengkaran / rebutan peran. Saya memfasilitasi para murid jika terjadi hal yang tidak terduga terjadi selama proses pembelajaran ini berlangsung.

Setelah semua kelompok menyelesaikan lembar kerjanya, setiap kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil tugas kelompoknya di depan kelas. Setiap anak di dalam kelompok juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk menceritakan hasil kerja kelompoknya. Bagian akhir dari proses pembelajaran ini adalah saya meminta anak-anak mengungkapkan perasaannya dengan memberikan tanda checklist pada emoji yang ditampilkan pada layar proyektor di papan tulis. Semua anak memberikan emoji bahagianya yang menjadi pertanda betapa bahagianya mereka di hari itu. Pembelajaran hari ini pun kami tutup dengan makan kue bersama yang telah disiapkan oleh salah satu ibu dari anak kelas 1.

Pasca observasi kelas, kepala sekolah menanyakan beberapa perihal kepada saya termasuk indikator yang terpenuhi dan perlu dikembangkan selanjutnya. Sembari menunggu hasil penilaian observasi kelas oleh kepala sekolah pada Pengelolaan Kinerja di PMM,  saya pun mulai menulis kembali beberapa hal menarik yang saya temukan, termasuk hal tidak terduga yang muncul, tantangan yang dihadapi, serta hal yang akan terus dikembangkan dalam proses pembelajaran selanjutnya.

Bapak/Ibu guru hebat Indonesia, mari bersama kita mulai kegiatan observasi kelas ini dengan melaraskan persepsi bahwa ini merupakan bagian dari proses belajar kita juga sebagai guru. Kita diberi kesempatan bersama untuk menemukan kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran yang telah berlangsung, didampingi dalam menemukan solusinya baik itu oleh kepala sekolah selaku atasan kita di sekolah, dan diberi banyak rekomendasi perbaikan melalui Pengelolaan Kinerja di PMM untuk belajar. Tentunya observasi kelas ini bukanlah penilaian akhir dari kinerja kita. Penilaian Kinerja sesungguhnya terletak dari perubahan yang kita lakukan sebelum dan sesudah observasi ini dilaksanakan.

Tidak ada hal yang perlu kita khawatirkan selama kita bahagia melakukannya. Mari bersama mengingat kembali, bahwa menjadi guru adalah bagian termulia dalam perjalanan hidup kita.

Semangat belajar untuk kita semua…

Salam dan Bahagia.

*Artikel ini juga tersedia di link: https://www.kompasiana.com/lisasya/65e9d2f3c57afb662f012798/observasi-kelas-penuh-cerita


Selasa, 06 Desember 2022

Kumpulan Aksi Nyata CGP Desa Air Buluh Kab. Bangka

 

Kumpulan Aksi Nyata CGP A.5 (Doc. Pribadi)

Desember pun tiba, tidak terasa telah memasuki bulan ke-8 dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5. Walaupun sempat terhenti sejenak karena peralihan kepemimpinan ke Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) dan Balai Guru Penggerak (BGP) provinsi, tidak menyurutkan semangat para Calon Guru Penggerak (CGP) dalam mengikuti pendidikan ini hingga selesai. Berakhirnya materi / modul yang tersedia di Learning Managmenet System (LMS) beriringan dengan munculnya tampilan dashboard para CGP yang menujukkan rata-rata di atas angka 95 %. Untuk menuju ke angka 100% masih tersisa Lokakarya 6 dan Lokakarya 7.

Materi Pendidikan Guru Penggerak disajikan dalam 10 modul dengan durasi waktu 6 bulan. Pembelajaran daring yang di desain dengan menggunakan alur belajar MERRDEKA sendiri terdiri dari : M (Mulai dari diri), E (Eksplorasi konsep), R (Ruang kolaborasi), R (Refleksi terbimbing), D (Demonstrasi kontekstual), E (Elaborasi pemahaman), K (Koneksi antar materi), dan A (Aksi nyata). Pada artikel sebelumnya, saya pernah menuliskan salah satu alur MERRDEKA yaitu, Ruang Kolaborasi (tersedia di sini). Artikel saya kali ini membahas mengenai tahapan terakhir pada alur MERRDEKA, yaitu Aksi Nyata.

Aksi nyata memberikan ruang pada CGP menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Aksi nyata dimaksudkan sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan karena dapat mengambarkan sebuah kesatuan antara proses pembelajaran dan implementasinya. Dalam harapannya, aksi nyata perlu dijalankan secara terus menerus bahkan hingga Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) telah diselesaikan.

Tidak mudah bagi saya menyelesaikan program PGP ini, bahkan saat pertama kali memulainya banyak muncul rasa khawatir yang tak terbendungkan. Salah satunya ketika pendidikan ini dimulai, saya dipindah tugas ke sekolah baru. Bukan hanya sekolah baru, namun lingkungan dan daerah pun baru. UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB) merupakan sekolah kecil yang terletak di Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Sebuah sekolah yang berbatasan langsung dengan Desa Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah. Desa Air Buluh berjarak hampir 60 KM dari ibukota kabupaten, Kota Sungailiat tempat tinggal saya. Jika para pembaca mengikuti artikel yang sering saya tulis sebelumnya, perjalanan menuju sekolah ini harus saya tempuh dengan waktu 1,5 jam dengan kendaraan roda dua. Alhamdulillah akses jalan lumayan baik, sehingga saya pun dengan lancar melakukan perjalanan pergi dan pulang sekolah setiap harinya.

Bagi saya, aksi nyata yang telah dilakukan ini bukan hanya sekedar tagihan tugas semata. Namun, selalu menjadi bagian terpenting dalam evaluasi dan refleksi dari proses pembelajaran yang terus saya lakukan. Saya sadar betul bahwa semua yang telah dilakukan ini masih jauh dari kata sempurna, namun harapan untuk terus membenah diri menjadi lebih baik dari hari kemarin bagian dalam tujuan yang tidak akan pernah putus. Bersama orang-orang hebat yang setiap waktu memberikan dukungan, motivasi, dan menginspirasi saya, alhamdulillah saksi nyata semua modul di pendidikan ini telah selesai.

Berikut ini adalah kumpulan aksi nyata dari proses pembelajaran yang telah saya dapatkan pada PGP dan perlahan telah diimpelementasikan di 33 MB :

Aksi Nyata 1 (Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara). Mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pengembangan karakter. Hasil aksi nyata 1 tersedia di Aksi Nyata 1.1.

Aksi Nyata 2 (Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak). Melakukan proses pengembangan diri untuk menguatkan nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Hasil aksi nyata 2 tersedia dalam channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 3 (Modul 1.3 Visi Guru Penggerak). Menjalankan rencana manajemen prakarsa perubahan BAGJA yang telah dibuat. Hasil aksi nyata 3 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 4 (Modul 1.4 Budaya Positif). Menyampaikan pembelajaran dari penerapan dan pemahaman mengenai konsep-konsep inti dari modul budaya positif dengan membuat webinar kecil berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat. Hasil aksi nyata 4 terdiri dari 2 bagian dan tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 1 (Doc. Pribadi)

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 5 (Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid melalui Pembelajaran Berdiferensiasi). Mendesain, mempraktikkan dan melakukan refleksi terhadap implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Hasil aksi nyata 5 tersedia di Aksi Nyata 2.1.

Aksi Nyata 6 (Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional). Membagikan pemahaman tentang implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) dengan 4 indikator, yaitu pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan sekolah, dan penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) pendidikn dan tenaga kependidikan di sekolah serta merefleksikannya. Hasil aksi nyata tersedia di Aksi Nyata 2.2.

Aksi Nyata 7 (Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik). Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik dalam pembelajaran dengan menggunakan paradigma berpikir coaching. Aksi nyata 7 tersedia  di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 2.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 8 (Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin). Mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah. Hasil aksi nyata 8 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.1 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 9 (Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya). Mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah. Hasil aksi nyata 9 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 10 (Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Bedampak Positif pada Murid). Menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) dan A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual. Adapun hasil aksi nyata 10 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.3 (Doc. Pribadi)

Rasa khawatir di awal pendidikan kian sirna seiring berjalannya waktu. Hal ini tidak lepas dari dukungan semua pihak yang turut membantu proses perjuangan ini. Terima kasih saya haturkan untuk 33 MB (Bapak Soleh, S.Pd.I selaku kepala sekolah, rekan-rekan sejawat, pengawas sekolah, para murid hebat 33 MB, dan orangtua), KKG gugus IV Prasasti Kotakapur, komunitas praktisi lainnya di Mendo Barat dan Kabupaten Bangka, serta rekan-rekan seperjuangan di PGP Angkatan 5 Kabupaten Bangka. Pastinya juga untuk keluarga tercinta yang tak pernah henti mendukung tiap jengkal perjuangan ini.

Terima kasih juga untuk fasilitator, Bapak Muhari, S.Pd., M.Pd., dan pengajar praktik, Bapak Selamet Simbolon, S.Pd atas bimbingan dan dukungannya kepada saya selama Program Pendidikan Guru Penggerak ini. Terakhir..terima kasih saya ucapkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam rangkaian aksi nyata pada PGP yang telah terlaksana. Harapan terbesar saya semoga aksi nyata yang telah dilakukan dan berjalan tidak berhenti sampai disini saja, namun terus berproses setiap waktunya sebagai bagian dari transformasi pendidikan di daerah saya khususnya di lingkungan 33 MB.

Sekian dari saya. Semangat belajar untuk kita semua.

Salam dan bahagia..

*Artikel juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/638ff8134addee5b547dc7e3/kumpulan-aksi-nyata-cgp-desa-air-buluh-kab-bangka 

Kumpulan Jurnal Refleksi CGP Desa Air Buluh Kab. Bangka

 

Kumpulan Jurnal Refleksi (Doc. Pribadi)

Bagian akhir dari semua modul pada Pendidikan Guru Penggerak (PGP) adalah menuliskan jurnal refleksi. Selama program PGP, Calon Guru Penggerak (CGP) mendapat kesempatan untuk menuliskan refleksi setiap dua minggu sekali (lebih dikenal jurnal refleksi dwi mingguan). Tidak hanya dalam Pendidikan Guru Penggerak, dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Menulis jurnal refleksi juga bagian dari keterampilan menulis kita sebagai seorang guru. Sehingga untuk mengasah keterampilan menulis jurnal refleksi pun perlu latihan dan pembiasaan agar nanti dapat dirasakan manfaatnya. Pada awalnya, mungkin tidak mudah untuk menuangkan gagasan reflektif ke dalam bentuk tulisan, namun kita dapat menggunakan beberapa model jurnal refleksi yang telah disediakan sebagai panduan dalam mencurahkan isi pikiran dan perasaan kita. Ada beberapa model jurnal refleksi yang dapat digunakan sebagai pilihan kita dalam memuliskan jurnal refleksi.

Sebagai penyempurna dari siklus pembelajaran MERRDEKA yang telah diselesaikan pada LMS (Learning Management System), bagian akhir selalu ditutup dengan sebuah jurnal refleksi. Memasuki bulan ke-8 pada PGP ini, saya telah menuliskan 10 jurnal refleksi sebagai akhir dari selesainya semua modul. Berikut ini jurnal refleksi saya selama mengikuti PGP dalam waktu hampir 8 bulan ini :

Jurnal Refleksi minggu ke-2 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-1

Jurnal Refleksi minggu ke-4 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-2

Jurnal Refleksi minggu ke-6 tersedia di  Jurnal Refleksi Ke-3  

Jurnal Refleksi minggu ke-8 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-4

Jurnal Refleksi minggu ke-10 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-5

Jurnal Refleksi minggu ke-12 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-6

Jurnal Refleksi minggu ke-14 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-7 

Jurnal Refleksi minggu ke-16 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-8

Jurnal Refleksi minggu ke-18 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-9 

Jurnal Refleksi minggu ke-20 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-10

Hal yang baik yang saya dapatkan dari menulis jurnal refleksi adalah saya mulai terbiasa merefleksi dari rangkaian kegiatan yang telah saya lakukan dalam periode waktu tertentu. Saat menulis jurnal refleksi juga, terlihat pula bagian mana yang perlu perbaikan dan pengembangan lebih lanjut pada proses perencanaan di masa datang. Selain itu, praktik baik yang tumbuh akan terus dilanjutkan dengan harapan menjadi budaya positif dalam pribadi setiap subjek baik itu di dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah.

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 06 Desember 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Sabtu, 03 Desember 2022

Jurnal Refleksi Ke-10

 

Jurnal Refleksi Ke-10 (Doc. Pribadi)

Jurnal Refleksi Ke-10 (Minggu ke-20) pada Pendidikan Guru Penggerak tentang Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif Kepada Murid.

Tiba akhirnya pada penghunjung jurnal refleksi di minggu ke-20 Pendidikan Guru Penggerak ini. Sedikit flashback, beberapa jurnal refleksi pada modul-modul terakhir melewati waktu yang ditentukan dalam jadwal LMS, namun ini tidak terlepas dari pertimbangan saya untuk menyelesaikan alur MERRDEKA sampai bagian Aksi nyata. Sehingga jurnal refleksi saya tulis ketika satu modul penuh telah diselesaikan agar semua yang dikerjakan dalam alur MERRDEKA dapat diceritakan dalam rangkaian yang utuh.

Tidak ada model khusus dalam jurnal refleksi pada modul terakhir ini karena saya ingin menceritakan secara menyeluruh bagaimana hingga akhirnya program Operasi Semut ini menjadi pilihan bersama dari warga sekolah.

Program operasi semut sebenarnya adalah program awal saya ketika pertama kali dipindah tugaskan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat bulan Mei 2022 lalu. Adapun kegiatan dalam operasi semut ini lebih berfokus kepada kebersihan lingkungan bersama para murid karena keprihatinan saya terhadap lingkungan sekolah yang setiap harinya penuh dengan sampah terutama sampah an-organik. Tidak tersedianya tempat sampah yang memadai dan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah menyebabkan sampah tidak punya tempat penampungan akhir, ditambah kebiasaan para murid setelah mengkonsumsi makanan dari kantin yang menghasilkan sampah plastik menyebabkan susahnya mengendalikan banyaknya sampah. Berangkat dari menjaga kebersihan sekolah dari sampah plastik inilah, asal mula operasi semut.

Setelah melalui proses observasi dan evaluasi selama satu bulan, awal semester ganjil di tahun pelajaran 2022/2023 saya mulai menerapkan cinta kebersihan dalam kelas yang saya ampuh, yaitu kelas 3. Kesepakatan kelas yang dibuat bersama anak-anak kelas 3 dengan dua poin yang mendukung sekolah ramah lingkungan, yaitu menjaga kebersihan dan bawa bekal dari rumah menjadi awal dari wujud nyata program sekolah yang ramah lingkungan. Setelah beberapa bulan terlaksana di kelas 3, akhir Oktober lalu mulailah Operasi Semut merambah ke lingkungan yang lebih luas dari kelas, yaitu sekolah.

Pertemuan bersama kepala sekolah dan rekan sejawat mendiskusikan aset/potensi sekolah menjadi awal saya dalam mengidentifikasi harapan dari rekan-rekan sejawat dalam kebersihan dengan meminimalisir sampah yang ada di sekolah. Kemudian berlanjut pada pertemuan bersama ketua dan pengurus Komite sekolah yang mewakili PULAS (Paguyuban Kelas) dalam rapat rutin setiap bulannya. Pertemuan di awal bulan November lalu, menjadi momen saya untuk menanyakan pendapat/pandangan orangtua tentang kondisi lingkungan sekolah yang lebih bersih dan membuat kegiatan-kegiatan sekolah yang ramah lingkungan. Dalam pertemuan ini, ketua dan pengurus Komite sekolah sepakat untuk membangun TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah dengan uang yang terkumpul dari kegiatan Jum’at Amal. Mengingat jumlah uang yang terkumpul dalam kegiatan Jum’at Amal terbaras, mereka pun bersedia secara swadaya membangun TPS di sekolah untuk menekan penggunaan uang jika harus dikerjakan oleh tukang bangunan. Masyaallah…

Dialog bersama murid menjadi bagian penting karena merekalah objek terpenting dari perencanaan dan pelaksanaan program sekolah. Saya melakukan tanya jawab baik secara individu atau kelompok kecil dengan murid kelas 1 sampai kelas 3 mengenai kegiatan mereka yang mempresentasikan sekolah ramah lingkungan. Saya juga melakukan dialog terbuka bersama perwakilan murid kelas 4 sampai kelas 5 dan diskusi bersama murid di kelas 5 juga bersama guru kelasnya membahas tentang sekolah yang ramah lingkungan.

Hal menarik yang saya dapatkan ketika dialog bersama murid bahwa selama ini kebersihan lingkungan yang mereka lakukan hanya berfokus pada membersihkan sampah di kelas dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan yang bersifat meminimalisir jumlah sampah tidak pernah dilakukan oleh mereka. Bahkan beberapa murid berharap ada kegiatan sekolah yang mendukung agar berkurangnya sampah di sekolah. Aspek suara dan pilihan para murid ini melahirkan sebuah program sekolah yang berdampak positif kepada murid. Walaupun nama operasi semut sendiri bukanlah berasal dari mereka sendiri, namun inspirasi dari nama program ini kenyataannya terinpirasi dari kegiatan gotong royong yang sering mereka lakukan dalam membersihkan lingkungan sekolah.

Suara dan pilihan murid membawa saya bersama mereka mendesain kegiatan-kegiatan dalam program operasi semut, banyak diantaranya yang telah dilakukan di kelas 3. Mulai dari  membuat kesepakatan kelas yang salah satu poin mendukung kebersihan lingkungan sekolah, satu hari dalam seminggu bebas dari sampah plastik (Hari Bebas Plastik/HBS) dengan membawa bekal bersama (Rakel/Rabu nge-beKel), dan kegiatan lainnya yang menjadi ide/gagasan (suara) dari mereka.

Setelah program ini di desain bersama warga sekolah khususnya para murid, bagian selanjutnya adalah mulai menerapkan di lingkungan sekolah. Ada beberapa kegiatan yang telah dimulai dan ada beberapa juga yang akan dimulai pada awal semester genap Januari 2023 nanti.

Semoga dengan adanya program ini dapat mewujudkan sekolah yang ramah lingkungan dan menjadi bagian dari kepemimpinan murid sebagai bentuk nyata program positif yang berdampak bagi mereka.

Mari semua warga 33 MB..lanjutkan Program Operasi Semut yang telah didesain bersama para anak-anak hebat 33 MB. Maknai proses ini sebagai bagian dari sejarah pada zaman kalian nantinya. Semangat….

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 03 Desember 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Senin, 28 November 2022

MB bawa pulang 7 trofi di peringatan HGN Tk. Kabupaten

Peringatan HGN Tahun 2022 di Kabupaten Bangka (Doc. Pribadi)


Satu hari sebelum puncak peringatan Hari Guru Nasional, saya mendapatkan surat undangan untuk mengikuti upacara HUT PGRI dan KORPRI di Kabupaten Bangka. Surat undangan ini saya terima dari salah seorang guru di Kecamatan Mendo Barat yang sedari awal banyak membantu saya memberikan informasi dalam lomba penulisan artikel baik di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Tepat di peringatan Hari Guru Nasional Jum’at / 25 November 2022 lalu, saya mengikuti upacara bendera di SMA Negeri 1 Mendo Barat dengan jarak kurang lebih 36 KM, hari ini upacara bendera di halaman kantor bupati Bangka hanya saya tempuh kurang lebih 2 KM saja.  Sungguh..sensasi upacara yang berbeda, namun penuh dengan cerita.

Bertindak sebagai pembina upacara Bupati Bangka, Bapak Mulkan, S.H., M.H. Pada amanat upacara bendera peringatan HUT ke-77 PGRI dan ke-51 KORPRI, bapak bupati membacakan dua naskah pidato. Naskah pidato pertama dari Menteri Kemdikbudristek, Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A sebagai peringatan HUT ke-77 PGRI dan Hari Guru Nasional. Naskah pidato kedua dari Ketua Umum Pengurus KORPRI Nasional, Bapak Prof. Dr. Zudan Arid Fakrullah, S.H., M.H sebagai peringatan HUT ke-51 KORPRI .

Hadir sebagai peserta upacara adalah seluruh guru, pemimpin, dan praktisi pendidikan, serta para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka. Walaupun matahari pagi ini terasa sedikit menyengat, namun tidak mengurangi rasa bahagia bisa hadir dalam acara peringatan HUT PGRI dan KORPRI tahun 2022. Setelah upacara bendera, pemotongan tumpeng yang bertema HUT ke-77 PGRI oleh bapak bupati kemudian diberikan kepada perwakilan guru yang memasuki purnabakti. Acara selanjutnya adalah pemberian tali kasih kepada perwakilan anggota KORPRI di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka yang memasuki purnabakti pada tahun 2022. Dari informasi yang saya terima, pada tahun 2022 ini ada 166 orang PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka yang memasuki purnabakti, 113 orang diantaranya merupakan PNS guru dan pengawas.

Hadir juga diantaranya Bapak Teguh Supriadi, S.Pd, Bapak Tri Gunawan, S.Pd, dan Bapak Gandung Suwardi, A.Md yang bulan Oktober lalu di Gugus IV Prasasti Kotakapur telah memasuki masa purnabakti (link artikel tersedia di: https://www.kompasiana.com/lisasya/6339c7fd5cc80449520cacf2/purnabakti-di-gugus-iv-mb dan Jum’at lalu juga mengikuti upacara bendera dalam peringatan Hari Guru Nasional di Kecamatan Mendo Barat (link artikel tersedia di: https://www.kompasiana.com/lisasya/63822cb34addee342d7e9603/kue-hgn-paling-berharga ).

Artikel dengan judul yang sama ketika mengikuti lomba menulis artikel non penelitian di tingkat Kecamatan Mendo Barat, membawa saya menjadi Juara 2 di tingkat Kabupaten Bangka. Artikel ini terinspirasi dari pembelajaran berdiferensiasi yang perlahan mulai saya lakukan pada kelas 3 di 33 MB. Walaupun dalam proses yang dilakukan masih banyak kekurangan, namun mencoba memulai perubahan dalam proses pembelajaran menjadi tanggung jawab kita bersama dalam menuntun para murid kita untuk tumbuh dan berkembang di zamannya dengan potensi/kekuatan yang dimiliki. Seperti potongan kalimat mas menteri dalam naskah pidato yang dibacakan oleh semua pembina upacara pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 2022, “Memang, pada dasarnya tidak ada perubahan yang membuat kita nyaman. Jika masih nyaman, itu artinya kita tidak berubah.”

Peringatan HUT ke-77 PGRI dan HGN tahun 2022 ini juga terasa spesial karena PGRI cabang Kecamatan Mendo Barat membawa pulang 7 trofi dari berbagai lomba HUT PGRI yang diselenggarkan pada tingkat kabupaten. Juara 2 SKJ PGRI, juara 2 Volly Putra, juara 3 Paduan Suara, dan juara 3 masak lempah kuning (makanan khas Bangka). Selain itu, 3 trofi lainnya dari lomba menulis artikel non penelitian, juara 2 tingkat SD, juara 1 tingkat SMP dan SMA.

Terima kasih untuk seluruh pihak yang terus menginspirasi saya dalam menulis. Terkhusus 33 MB mulai dari kepala sekolah, rekan-rekan sejawat, dan para murid hebatnya. Terima kasih juga untuk rekan-rekan seperjuangan di Kecamatan Mendo Barat dan Kabupaten Bangka.

Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh pejuang pendidikan. Secanggih apapun dunia…peran GURU tak akan pernah tergantikan. Mari..tinggalkan kisah perjuangan kita dalam sebuah tulisan.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

*Artikel ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/6384707f08a8b5686b0416a4/mb-bawa-pulang-7-trofi-di-peringatan-hgn-tk-kabupaten

 


Jumat, 25 November 2022

Perdana, Peringati HGN di MB

 

Momen perdana saya peringati HGN di MB (Doc. Pribadi)

Jum’at pagi, 25 November 2022 disambut dengan gerimis di Kecamatan Mendo Barat. Tepatnya di SMA Negeri 1 Mendo Barat yang berada di “jantung” kecamatan, Desa Petaling. Hari ini semua guru dan pemangku pendidikan se-Kecamatan Mendo Barat mengadakan upacara bendera dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 November setiap tahunnya. Hadir juga tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aparat pemerintah di lingkungan Kecamatan Mendo Barat. Perasaan haru menyelimuti hati mengingat ini adalah momen pertama mengikuti upacara bendera pada perayaan Hari Guru Nasional di Kecamatan Mendo Barat.

Bertindak sebagai pembina upacara Bapak Hadi Sukamta, S.Pd. Beliau adalah pengawas Korcam dan juga pengawas sekolah di satuan pendidikan tempat saya mengabdikan diri di Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh, UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB). Selaku pembina upacara bendera hari ini, Bapak Hadi Sukamta, S.Pd membacakan naskah pidato Menteri Kemdikbudristek, Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A.

Acara lainnya pada puncak peringatan Hari Guru Nasional adalah pemberian cenderamata kepada guru-guru yang telah memasuki purnabakti. Hadir juga diantaranya Bapak Teguh Supriadi, S.Pd, Bapak Tri Gunawan, S.Pd, dan Bapak Gandung Suwardi, A.Md yang bulan Oktober lalu di Gugus IV Prasasti Kotakapur telah memasuki masa purnabakti. (link artikel tersedia di: https://www.kompasiana.com/lisasya/6339c7fd5cc80449520cacf2/purnabakti-di-gugus-iv-mb)

Penampilan murid-murid dari seni tari SMA Negeri 1 Mendo Barat membuat suasana menjadi lebih hangat. Puluhan murid menari tarian daerah termasuk tarian dari Bangka Belitung. Saya pun terkesima ketika melihat para murid menari di lapangan upacara. Selang tarian para murid, dilakukan pemberian trofi berupa piala kepada pemenang lomba peringatan HUT Ke-77 PGRI dan HGN tahun 2022. Adapun rangkaian perlombaan telah dilaksanakan mulai bulan Oktober lalu, yaitu volly putra/putri, futsal, paduan suara (padus), SKJ, masak masakan khas Bangka (lempah kuning), dan menulis artikel. Saya pun dipercaya oleh Gugus IV Prasasti Kotakapur menjadi bagian dari perlombaan ini, yaitu menulis artikel non penelitian.

Tim Gugus IV Prasasti Kotakapur (Doc. Pribadi)


Artikel dengan judul “Esensi Asesmen Diagnostik dalam Pembelajaran Berdiferensiasi” membawa Gugus IV Prasasti Kotakapur menjadi Juara 1 dalam lomba menulis artikel non penelitian HUT Ke-77 PGRI Kecamatan Mendo Barat. Artikel yang konten (materi) terinspirasi ketika saya mengajar anak-anak hebat 33 MB khususnya Kelas III. Gugus IV Prasasti Kotakapur juga membawa 3 trofi lainnya dari juara 1 lomba futsal, juara 2 volly putra, dan juara 2 paduan suara.

Satu hal yang saya dapatkan dan menginspirasi dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun 2022 ini adalah kekompakkan setiap gugus dalam perlombaan yang diadakan. Para guru berkolaborasi dalam tim dan mengusung semangat sportifitas dalam setiap perlombaan yang diadakan. Saya percaya, nilai ini tidaklah instan, namun telah menjadi bagian dari budaya positif yang kental di Kecamatan Mendo Barat. Saya pun merasa senang menjadi bagian dari keluarga baru di Kecamatan Mendo Barat terutama pada Gugus IV Prasasti Kotakapur.

Terima kasih untuk bapak kepala 33 MB, Bapak Soleh, S.Pd.I, rekan-rekan 33 MB, rekan-rekan Gugus IV Prasasti Kotakapur, rekan-rekan Kecamatan Mendo Barat, rekan-rekan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 5 di Kecamatan Mendo Barat, dan pastinya anak-anak hebat 33 MB. Terima kasih Mendo Barat..Bahagia menjadi bagian dari Mendo Barat.

HGN 33 MB (Doc. Pribadi)

Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh pejuang pendidikan. Secanggih apapun dunia…peran GURU tak akan pernah tergantikan.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Twibbon HGN Tahun 2022 (Doc. Pribadi)

*Link Twibbon Hari Guru Nasional (Doc. Pribadi): http://twb.nz/hgnwujudkanmerdekabelajar

Video Tiktok Twibbon Hari Guru Nasional: https://vt.tiktok.com/ZS81upMQN/


*Artikel ini telah tayang di: 

https://www.kompasiana.com/lisasya/6380d2dfff9c8a65cb282ea2/perdana-hgn-di-mb

Kamis, 17 November 2022

Jurnal Refleksi Ke-8

 

Jurnal Refleksi Ke-8 (Doc. Pribadi)

Jurnal Refleksi Ke-8 (Minggu ke-16) pada Pendidikan Guru Penggerak tentang Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin.

Sama hal dengan jurnal refleksi pada modul sebelumnya, jurnal refleksi kali ini menjadi bagian penting dalam pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-16 (jurnal refleksi ke-8), saya menggunakan model 4C (Connection, Challenge, Concept, Change). Model ini dikembangkan pertama kali oleh Ritchhart dan cocok digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran yang telah didapat. Adapun beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model 4C, yaitu:

1.   Connection. Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran saya sebagai Calon Guru Penggerak?

2.   Challenge. Adakah ide, materi, atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang saya jalani selama ini?

3.   Concept. Ceritakan konsep-konsep utama yang saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

4.   Change. Apa perubahan dalam diri saya yang ingin saya lakukan setelah mendapatkan materi sampai akhir pembelajaran?

Adapun hasil refleksi saya setelah mempelajari Modul 3.1 ini :

Connection. Keterkaitan materi yang didapat dengan peran saya sebagai Calon Guru Penggerak sangat berkorelasi mengingat Pendidikan Guru Penggerak ini di desain untuk mempersiapkan agen transformasi pendidikan. Menurut saya, modul ini menjadi modal seorang pemimpin dalam mengambil keputusan yang bijak berdasar dari nilai-nilai kebajikan yang diyakini bersama.

Challenge. Ada ide, materi, atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang saya jalankan selama ini, saya temukan itu pada ruang kolaborasi bersama fasilitator dan ruang elaborasi pemahaman bersama instruktur. Pada ruang kolaborasi, fasilitator mengatakan bahwa alur TIRTA bukanlah satu-satunya desain yang digunakan dalam mengambil sebuah keputusan, namun dapat menjadi solusi terbaik seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan yang bijak. Pada ruang elaborasi, instruktur mengatakan teruslah mengambil keputusan-keputusan sehingga dari setiap keputusan yang kita ambil akan mengasah keterampilan kita dalam mengambil sebuah keputusan dari suatu masalah.

 

Concept. Konsep utama yang saya pelajari dan akan terus saya bawa selama menjadi Calon Guru Penggerak bahkan setelah menjadi Guru Penggerak adalah saya akan terus belajar mengambil keputusan-keputusan dengan menggunakan alur TIRTA sehingga keterampilan pengambilan keputusan terasah dengan baik.

 

Change. Perubahan dalam diri saya yang ingin saya lakukan adalah memulai pengambilan keputusan bersumber dari nilai-nilai yang diyakini bersama agar hasil keputusan dapat diterima banyak pihak dan tidak ada yang dirugikan.

 

Semakin banyak kita mengambil keputusan, semakin terasah pula keterampilan kita dalam pengambilan keputusan dan hasil keputusan pun akan maksimal serta semakin bijak.

Mari..terus mengambil keputusan-keputusan agar kita semakin terampil dalam mengambil sebuah keputusan.

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 18 November 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Jurnal Refleksi Ke-7

 

Jurnal Refleksi Ke-7 (Doc. Pribadi)

Jurnal Refleksi Ke-7 (Minggu ke-14) pada Pendidikan Guru Penggerak tentang Modul 2.3 Coaching dalam Supervisi Akademik.

Sama hal dengan jurnal refleksi sebelumnya, jurnal refleksi kali ini menjadi bagian penting dalam pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-14 (jurnal refleksi ke-7) ini, saya menggunakan model Papan Cerita Reflektif (Reflective Storyboard). Model ini terdiri dari beberapa gambar bersambung yang mengilustrasikan refleksi yang dialami. Kemudian setiap gambar juga disertai penjelasan singkat.

Adapun hasil refleksi saya setelah mempelajari Modul 2.3 ini :

Gambar 1. Momen awal yang penting pada modul 2.3 ini adalah pada saat Ruang Kolaborasi bersama rekan-rekan CGP lainnya dan juga fasilitator. Setelah mempelajari materi penerapan coaching dalam konteks pendidikan, paradigma berpikir dan prinsip coaching, kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching, supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching di Forum Diskusi, tiba saatnya untuk pertama kali mempraktikkan coaching dalam percakapan bersama rekan CGP di ruang virtual. Saya bersama salah seorang rekan CGP mempraktikkan coaching pada hari pertama ruang kolaborasi selama 30 menit secara bergantian sebagai coach dan coachee. Setelah itu di hari berikutnya kami mempraktikkan kembali percakapan coaching di ruang virtual untuk direkam sebagai tagihan tugas Ruang Kolaborasi Modul 2.3. Perasaan saya campur aduk ketika pertama kali melakukan praktik coaching, apalagi ini dilakukan secara daring (ruang virtual). Tidak banyak yang kami berdua persiapkan selain materi pembahasan yang dibahas pada percakapan coaching. Selebihnya mengalir begitu saja termasuk secara spontan memberikan pertayaan-pertanyaan terbuka yang berbobot untuk memancing coachee menemukan sendiri jawaban dari masalah yang dihadapinya.

Gambar 2. Momen berikutnya ketika melakukan percakapan coaching bersama kelompok (2 teman CGP lainnya) dalam Demonstrasi Kontekstual. Setelah mendapatkan pengalaman coaching di Ruang Kolaborasi, selanjutnya saya bersama 2 CGP lainnya mempraktikkan kembali percakapan coaching tetapi secara langsung (tatap muka). Adapun kami bertiga berperan sebagai coach, coachee, dan pengamat secara bergantian. Belokasi di salah satu sekolah SMP negeri di Kota Sungailiat. Perasaan saya sangat bahagia karena semakin mengasah keterampilan coaching apalagi sekarang dilakukan langsung bertatap muka dengan rekan sejawat. Saya dapat langsung merasakan suasana dan perasaan coachee ketika saya berpesan sebagai coach serta mengamati secara langsung proses percakapan yang dilakukan kedua teman CGP.

 

Gambar 3. Momen akhir adalah mempraktikkan rangkaian supervisi klinis dan percakapan dengan paradigma berpikir coaching secara langsung dengan rekan sejawat. Rangkaian supervisi klinis ini terdiri dari kegiatan perencanaan sebelum oservasi (pra-observasi), observasi, dan pasca observasi. Bagi saya, rangkaian supervisi ini bukan hanya sebagai tuntutan tugas Aksi Nyata Modul 2.3 saja, namun menjadi kesempatan saya memperkenalkan konsep supervisi akademik yang telah saya pelajari di Pendidikan Guru Penggerak ini. Supervisi akademik sejatinya menjadi proses pengembangan guru dalam mempersiapkan pembelajaran selanjutnya. Supervisi akademik dipersiapkan oleh supervisor dalam hal ini kepala sekolah dimulai dengan melalukan pra-observasi, menanyakan kepada guru aspek yang akan dikembangkan dan strategi pengembangannya. Hal inilah yang akan menjadi fokus pengamatan supervisor ketika melakukan supervisi akademik. Setelah proses pembelajaran dilaksanakan guru dan diamati (observasi) oleh supervisor, langkah berikutnya adalah pasca observasi. Tahap ini dilakukan percakapan dengan paradigma coaching antara supervisor (coach) dan guru (coachee). Dalam aksi nyata yang telah saya lakukan, saya berkesempatan melakukan rangkaian supervisi akademik dimulai dengan melakukan percakapan dengan guru mengenai aspek yang akan menjadi fokus untuk dikembangkan, kemudian mengamati proses pembelajaran guru di kelas, dan terakhir mempraktikkan percakapan coaching yang dihadiri oleh Pengajar Praktik. Perasaan saya sungguh sangat bahagia apalagi saat saya melihat rekan sejawat tidak hanya membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini, namun benar-benar melakukan dengan penuh keseriusan sampai tahap akhir.

 

Saya sadar, setiap kita mulai melakukan hal baru akan terjadi banyak kekurangan. Namun, jika percakapan coaching terus dilakukan, maka keterampilan coaching akan terasah dengan baik. Apalagi coaching tidak sebatas diterapkan dalam supervisi akademik saja, bisa diterapkan dalam kondisi lain selama bertujuan untuk menggali kemampuan/potensi coachee serta membangun kepercayaan diri coachee untuk mengembangkan ide/gagasannya.

Mari..mulai menerapkan coaching dalam proses pengembangan kemampuan/potensi tersembunyi dari rekan sejawat/teman di lingkungan pendidikan dan sekitarnya.

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 17 November 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Rabu, 16 November 2022

Koneksi Menuju Akhir Pendidikan

 

Koneksi Antar Materi Modul 3.3 (Doc. Pribadi)

Perasaan yang sulit di ungkapkan untuk memulai tulisan ini. Mengapa tidak? Karena ini Koneksi Antar Materi terakhir pada Pendidikan Guru Penggerak yang sedang saya jalani. Selain itu, koneksi antar materi pada modul 3.3 juga menjadi menarik dan menantang karena kami diminta untuk melakukan kilas balik dan review kembali modul-modul sebelumnya yang telah dipelajari hampir 6 bulan ini.

Setelah mempelajari Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, saya perlahan mulai memahami bahwa sejatinya keberpihakkan kepada murid terletak pada pembelajaran bermakna yang telah dilewati murid. Memberi kesempatan kepada murid  dalam merencanakan, menjalani prosesnya, dan mengevaluasi setiap pembelajaran menjadi paket utuh pembelajaran yang bermakna. Tidak mudah merealisasikan mimpi menjadi realita, namun saya percaya bahwa mimpi adalah awal dari tindakan-tindakan kecil menuju sebuah realita. Tanpa mimpi tidak akan ada gerakkan. Tanpa gerakkan tidak akan ada perubahan. Tanpa perubahan tidak ada budaya. Tanpa budaya tidak ada sejarah. Karena sejarah adalah identitas zaman yang hidup saat itu.

Banyak hal yang saya temui ketika mempelajari modul ini, salah satunya membangun dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dengan banyak orang. Mulai dari murid, kepala sekolah, rekan sejawat, orang tua, rekan komunitas di luar sekolah, masyarakat sekitar, dan pihak lainnya. Semua unsur ini terlibat dalam membentuk ekosistem sekolah yang nyaman dan menyenangkan sesuai dengan visi sekolah impian yang pernah saya utarakan pada Modul 1.3 Visi Guru Penggerak sebelumnya. Saya sadar betul perlu keluasan hati untuk mengenal dan memahami semua unsur agar dapat bersama bersinergi mewujudkan tujuan pendidikan yang diamatkan Undang-Undang. Sebagai seorang guru juga manusia yang memiliki pribadi/karakter yang jauh dari kesempurnaan, pendidikan guru penggerak mengasah keterampilan saya dalam berkomunikasi dengan banyak unsur di dunia pendidikan. Hingga pada akhirnya, komunikasi menjadi misi penting dalam menghubungkan saya dengan banyak pihak yang bersentuhan langsung dengan pendidikan anak-anak bangsa.

Setiap proses belajar pastilah tidak mudah bahkan terkadang belum mencapai target yang kita harapkan. Namun, evalusi dan terus merefleksi menjadi kunci dalam perbaikan dalam proses belajar selanjutnya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, memastikan bahwa setiap unsur juga mengalami proses kebermaknaan atas proses yang telah berlangsung. Bukan hanya berfokus pada pribadi murid, namun lingkungan/ekosistem juga menjadi target pengembangan pendidikan dalam proses belajar murid.

Setiap zaman akan meninggalkan budaya baru untuk sejarah. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Pendidikan yang kita rencanakan dan bangun sekarang akan menjadi kebudayaan untuk zaman ini nantinya. Sehingga untuk melukiskan kebudayaan yang memiliki nilai sejarah tinggi, pendidikan menjadi pondasinya. Budaya lalu akan tetap hidup di zamannya, begitupun budaya sekarang akan tetap hidup untuk zaman sekarang. Manusia terus tumbuh dan berkembang menuju perubahan yang tidak dapat terelakkan. Perubahan menjadi kebutuhan untuk kebudayaan yang akan menjadi sejarah di zamannya. Memaknai dari perubahan yang terjadi tidaklah mudah karena kita belum menyadari seutuhnya tentang sejarah dari zaman yang sedang kita lewati. Inilah tantangan para agen transformasi pendidikan untuk mengkomunikasikan kepada semua pihak bahwa setiap individu punya andil menjadi bagian dari lukisan budaya di zamannya.

Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu kelas. Guru sebagai pemimpin pembelajaran memberi ruang kepada murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang mereka impikan. Para murid pasti akan menemui kesulitan, kegagalan, bahkan terluka dalam prosesnya. Sebagai guru (orangtua) pastinya kita akan luluh melihat mereka melewati proses ini. Hingga perlahan jurus-jurus kasihan mulai bermunculan untuk menyelesaikan sampai habis permasalahan yang dihadapi mereka. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa tidak akan menjadi pribadi yang tangguh tanpa ada duka? Duka ini dimaknai sebagai proses belajar murid menuju suka (kebahagiaan). Kebahagiaan akan membawa mereka pada keselamatan dalam hidupnya. 

Program yang telah saya rencanakan pada Demonstrasi Kontekstual sebelumnya menjadi bagian dari proses belajar saya sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Saya belajar banyak hal ketika mengawali program itu. Mulai ide yang muncul dari murid sendiri hingga eksekusi yang dilakukan oleh mereka sendiri. Walaupun pada kenyataannya belum terlihat keberhasilannya, namun setidaknya anak-anak hebat 33 MB telah memulai membangun budaya untuk zamannya.

Hal baru lain yang saya dapat bukan hanya dari modul ini, namun secara keseluruhan dari pendidikan yang telah saya lewati hampir 6 bulan ini ketika saya semakin memahami sejatinya kita bukan hanya hidup untuk belajar sendiri, namun kita akan membangun generasi baru yang lebih tangguh untuk dapat hidup di zamannya nanti. Impian ini tidak dapat diwujudkan oleh saya sendiri, tetapi seluruh pihak/unsur adalah bagian dari keberpihakkan kepada murid menuju kebahagiaan yang dicita-citakan.

Akhir dari setiap artikel yang saya tulis, selalu ada kata ajakan (mari/ayo). Karena sekali lagi saya katakan: “Saya tidak bisa sendiri, bersama kita bergerak dan menggerakkan perubahan menuju kebahagiaan para murid kita.”

Demikianlah artikel saya pada Modul 3.2 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

 

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...