Tampilkan postingan dengan label pendidikankarakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikankarakter. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2023

Menata Kelas 3 dengan aset yang dimiliki 33 MB

Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Pribadi)

Apa yang terbesit di pikiran kita ketika mendengar kata “aset sekolah” ?? Akankah kita hanya berfokus pada sarana prasarana sekolah ?? atau finansial sekolah ?? Lalu, bagaimana dengan sekolah yang mempunyai sarana prasarana belum memadai dan keuangan yang terbatas ??

Ketika saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP), saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Dalam modul itu, ada materi menarik yang sungguh menyentuh hati bahkan saya ingat betul ketika menyelesaikan salah satu tugasnya, saya sampai meneteskan airmata. Video pembuka yang ditampilkan pada materi itu mengingatkan pada sekolah yang hampir setiap hari menjadi tujuan saya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di kelas 3, saya berusaha menyediakan tempat ternyaman untuk 18 anak hebat Air Pelempang dengan aset terbesar yang dimiliki oleh kelas yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).

Ada 7 aset atau modal yang dimiliki oleh sebuah komunitas termasuk itu sekolah, yaitu manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, agama dan budaya. Jika selama ini aset hanya berfokus pada fisik dan finansial maka, sesungguhnya aset terbesar terletak pada SDM (Sumber Daya Manusia) dan hubungan sosial yang tercipta dari individu manusia di dalamnya. Bukan berarti aset lain tidak penting, kita tetap butuh aset lainnya untuk melengkapi agar tujuan dari sekolah sebagai tempat pendidikan formal terbaik yang berada di lingkungan masyarakat tercapai dengan maksimal.

Pemanfaatan aset sekolah saya implementasikan dalam menata kelas 3 di tahun pelajaran 2022/2023 ini. Mengapa kelas menjadi pilihan pertama ? Karena kelas adalah tempat pertama murid belajar di sekolah sehingga banyak waktu dihabiskan di kelas. Kelas juga menjadi tempat pertama para murid membekali diri mereka untuk ke lingkungan yang lebih luas. Sebagai seorang guru, kelas juga menjadi tempat penting untuk saya yang berdomisili jauh dari sekolah dengan jarak tempuh 55 KM.

Sebelum saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya telah mengajak para murid membayangkan kelas impian mereka. Keinginan dan harapan itu mereka tulis dalam catatan kecil kala kami sedang membuat kesepakatan kelas 3 di awal tahun ajaran baru, Juli 2022 lalu. Banyak anak yang mengharapkan kelas yang cantik, indah, bagus, dan nyaman. Tidak harus fisiknya saja, namun kehidupan sosial yang tumbuh di dalamnya. Saya selalu mengajak para murid berdiskusi sebelum memulai proses belajar mereka sebagai modal awal saya mempersiapkan desain pembelajaran di kelas (bagian dari asesmen diagnostik non kognitif). Kelas menjadi tempat pertama mereka mencurahkan apa yang mereka sukai, harapkan/inginkan, dan impikan untuk proses belajar mereka ke depannya. Selain itu, saya juga turut serta mengajak para orangtua yang tergabung dalam PULAS-3 (Paguyuban Kelas 3) untuk mendukung program kelas yang berpihak kepada murid. Salah satunya dengan menata kelas 3 menjadi tempat nyaman untuk anak-anak belajar di sekolah. Menata kelas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tidak hanya materi/finansial tetapi, ide dan kreativitas para orangtua dan murid.

Perjalanan belajar bersama anak-anak hebat dari Juli 2022 sampai Maret 2023 telah mentransformasi kelas 3 menjadi kelas yang lebih nyaman versi anak-anak. Selain melengkapi kelengkapan kelas, ada beberapa poin yang menjadi fokus dalam menata kelas 3, yaitu adanya :

1.       Kesepakatan Kelas yang dibuat guru dan murid pada awal tahun ajaran baru ditempel di dinding kelas dengan versi yang lebih menarik.

2.      Pohon cita-cita terdapat foto anak dan profesi mereka di masa depan.

3.      Pohon harapan berisi do’a orangtua yang ditulis sendiri oleh orangtua di selembar kertas berbentuk hati.

4.     Pojok baca dengan desain yang disesuaikan dengan lingkungan kelas (tidak bisa duduk dibawah karena kondisi lingkungan kelas yang banyak hewan melata) sehingga menggunakan tangga berbahan papan sebagai tempat duduk murid ketika membaca di pojok baca.

5.      Dinding literasi menggunakan spanduk bekas sebagai media untuk menempelkan berbagai informasi dan edukasi.

6.     Zonasi kehadiran murid yang setiap di pagi hari menjadi mainan pertama para murid karena mereka memasukkan sebuah stik yang berisi foto profesi mereka pada sebuah kantong yang terbuat dari bekas minuman bertuliskan Hadir, Izin, Sakit, dan Kemana ?? (artinya alpa).

7.      Stiker tinggi badan yang digunakan para murid untuk mengukur tinggi badannya setiap waktu sekaligus sambil belajar nama hewan dalam kosakata Bahasa Inggris.

8.     Beberapa perlengkapan kelas yang terbuat dari bahan bekas seperti Kotak P3K terbuat dari kotak sepatu bekas, kalender tahun 2023 yang berisi foto-foto kegiatan anak-anak kelas 3 di sekolah terbuat dari kalender bekas, dan sebagainya.

9.     Jadwal pelajaran, jadwal piket, struktur organisasi kelas, dan struktur organisasi PULAS-3 dibuat lebih menarik.

10.  Hiasan yang tergantung di langit-langit kelas berisi berbagai foto profesi masa depan para murid. Suasana kelas yang sejuk dan berangin membuat gantungan ini sering bergerak-gerak di langit kelas. Selain sebagai hiasan di kelas, ini juga menjadi media saya mengajak para murid merefleksi sejenak sambil memandang profesi di langit kelas.

11.    Karya-karya para murid yang ditempel pada dinding kelas dan di susun pada meja yang telah disediakan dalam kelas.

Transformasi kelas juga dilakukan 5 kelas lainnya di 33 MB. Bersama guru kelas dan PULAS (Paguyuban Kelas) masing-masing berupaya menata kelas lebih nyaman lagi agar proses belajar mengajar di kelas lebih nyaman. Menjadikan sekolah khususnya kelas sebagai tempat yang selalu dirindukan oleh warga sekolah.

Perubahan yang sedikit demi sedikit 33 MB lakukan dengan mendesain dan melaksanakan 4 program unggulan yang berpihak kepada murid di awal Juli 2022 lalu mulai PULAS (Paguyuban Kelas), NADI (Nabung Sejak Dini), SEMATA (Senyum Manis Kita), dan D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Program unggulan ke-5 33 MB yang bernama Operasi Semut juga mulai dilaksanakan pada awal tahun 2023 ini (semester genap). Program ini berfokus pada upaya sekolah menanamkan cinta lingkungan sedini mungkin yang dimulai dari lingkungan terdekat para murid dengan menjaga lingkungan dan alam sekolah. Beberapa kegiatan dalam Program Operasi Semut seperti pengadaan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah dan mencanangkan hari rabu sebagai HTS (Hari Tanpa Sampah) dengan membawa bekal makanan/minuman pada kotak bekal/botol minuman dari rumah sebagai usaha dalam menggalakkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Serta berkolaborasi dengan pihak lain khususnya yang berada dekat di lingkungan sekolah dalam edukasi tentang cinta lingkungan dan alam.

Pemerintah daerah Kabupaten Bangka dalam hal ini Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah pusat mengapresiasi gerakan perubahan yang telah dilakukan 33 MB dengan memberikan bantuan renovasi dua unit kelas kepada 33 MB di tahun 2023. Alhamdulillah… Satu dari dua kelas itu adalah kelas 3.

Tidak ada yang instan dalam proses belajar termasuk menata kelas ini. Tantangan pun tidak lepas dari usaha sekolah yang terus berupaya mendesain program positif berpihak kepada para murid. Tantangan terbesar adalah ketika melawan rasa ketidak percayaan diri sehingga selalu muncul pertanyaan : “Apakah bisa kita melakukan ini ?” Namun, 33 MB percaya waktu akan menjawabnya selama kita terus berkolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di daerah perbatasan kabupaten.

Sebagai seorang pendidik, saya meyakinkan para murid dengan semangat-semangat positif yang setiap waktu selalu disampaikan. Kebersamaan anak-anak bersama para orangtua menata kelas juga menjadi bukti bahwa proses belajar anak di sekolah juga menjadi bagian dari kolaborasi antara pihak sekolah dan keluarga.

Selanjutnya video Menata Kelas 3 dengan memanfaatkan aset sekolah tersedia di channel Youtube :

                            Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Youtube Lisa Sya)

 

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

*Artikel ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/642199e1d3aa0f498642f512/menata-kelas-3-dengan-aset-yang-dimiliki-33-mb 

 

Selasa, 07 Februari 2023

D-Ka 33 MB Berbagi Paket Alat Tulis

 

Program D-Ka 33 MB Berbagi Paket Alat Tulis (Doc. Pribadi)

D-Ka (Dari Kita Untuk Kita) merupakan program sosial anak dan menjadi salah satu program unggulan UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB). Tujuan dari program yang berdampak pada murid ini adalah menanamkan sikap saling berbagi dan peduli kepada orang lain, mengajarkan anak untuk hidup sederhana, juga mendukung tumbuh kembang kemampuan kognitif serta fisik anak.

D-Ka perdana hadir di perayaan ulang tahun negara tercinta Republik Indonesia bulan Agustus 2022 lalu tepat satu hari sebelum perayaan HUT ke-77 RI (baca di sini). Saat itu D-Ka dilaksanakan dengan berbagi sembako. Sembako yang dikumpulkan para murid 33 MB dibagikan kepada 11 murid yang membutuhkan. Antusias para murid dan semangat para orangtua yang tergabung dalam PULAS (Paguyuban Kelas) membuat program D-Ka ini kembali menyelenggarakan kegiatan berbagi di tahun baru 2023. Berbeda dengan program D-Ka sebelumnya dengan berbagi sembako, D-Ka kali ini berbagi paket alat tulis dalam rangka menyambut tahun pelajaran 2022/2023 semester genap.

Teknis pelaksanaan sama dengan D-Ka sebelumnya, para murid 33 MB secara sukarela menyumbangkan alat tulis baru yang mereka miliki. Alat tulis dapat berupa buku tulis, buku gambar, pulpen, pensil, penghapus, penggaris, dan/atau alat tulis lainnya. Semua alat tulis yang dikumpulkan para murid dibagi menjadi beberapa paket alat tulis. Semua proses ini dilakukan sendiri oleh para murid dan peran guru memantau agar kegiatan dapat terlaksana semestinya. Selain itu, peran Komite PULAS (Paguyuban Kelas) 33 MB juga sangat penting dalam program ini. Ketua PULAS yang tergabung dalam Komite PULAS 33 MB menentukan anak-anak yang berhak menerima paket alat tulis dan dari 6 kelas ada 22 murid yang menerima paket alat tulis.

Hari ini, Selasa / 07 Februari 2023 paket alat tulis dibagikan kepada 22 murid yang membutuhkan. Hal menarik yang ditemui dalam kegiatan hari ini adalah antusias para murid lain dalam membagikan paket alat tulis kepada teman-temannya. Pendidikan sejatinya tidak hanya berfokus pada mengajarkan materi pelajaran saja, namun menguatkan karakter positif seperti sikap peduli dan empati yang telah tumbuh dalam pribadi anak juga menjadi bagian terpenting untuk kehidupan mereka nantinya.

Selanjutnya Program D-Ka akan terus dilaksanakan di 33 MB dalam moment perayaan agama, hari nasional atau perayaan lainnya. Kemudian orangtua dalam PULAS juga dilibatkan untuk menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan dan target penerima D-Ka ini karena pendidikan karakter akan tercapai maksimal dengan melibatkan semua pihak termasuk kolaborasi antara sekolah dan para orangtua.

Terima kasih untuk seluruh anak hebat 33 MB juga para orangtua yang selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah terutama kegiatan yang berpusat kepada anak.

Mari..dukung program D-Ka (Dari Kita Untuk Kita) 33 MB. Harapan 33 MB kepada seluruh murid dengan adanya program ini menumbuhkan sikap saling berbagi dan peduli sesama mulai dari hal kecil dan lingkungan sekitar kita.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia..

 

*Artikel ini telah tayang di Kompasiana dengan link :

https://www.kompasiana.com/lisasya/63e2631c936a2d7cde6b78a2/d-ka-33-mb-berbagi-paket-alat-tulis

Kamis, 01 Desember 2022

Jurnal Refleksi Ke-9

 

Jurnal Refleksi Ke-9 (Doc. Pribadi)

Jurnal Refleksi Ke-9 (Minggu ke-18) pada Pendidikan Guru Penggerak tentang Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Mendekati akhir dari modul dalam Pendidikan Guru Penggerak ini, jurnal refleksi semakin mendalam menelaah semua materi maupun aspek yang telah di ditemui. Mulai dari alur MERRDEKA yang rutin di akses oleh para CGP, adapun salah satu alurnya yaitu Ruang Kolaborasi membangun kerjasama dengan para CGP lainnya dalam bimbingan fasilitator. Selain itu, pendampingan individu bersama pengajar praktik membuat para CGP mendapatkan bimbingan yang terarah dalam membangun dan mengembangkan potensi maupun kemampuan diri untuk lebih siap mengaplikasikan praktik-praktik baik di lingkungan sekolah dan komunitas praktisi lainnya. Terakhir pada lokakarya bersama para pengajar praktik dan CGP lainnya membangun kolaborasi lebih luas dan saling berbagi praktik baik/ide baru untuk program yang berkelanjutan.

Sama hal dengan jurnal refleksi pada modul sebelumnya, jurnal refleksi kali ini menjadi bagian penting dalam pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-18 (jurnal refleksi ke-9), saya menggunakan model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing). Menurut Bain, dkk : 2022 (dalam Ryan & Ryan : 2013), adapun 5R terdiri dari langkah-langkah :

1.   Reporting (mendeskripsikan). Menceritakan ulang peristiwa yang terjadi.

2.   Responding (Merespon). Menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, atau tindakan yang diambil saat peristiwa berlangsung.

3.   Relating (Mengaitkan). Menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengetahuan, keterampilan, keyakinan, atau informasi lain yang dimiliki.

4.   Reasoning (Menganalisis). Menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, lalu  mengambil beberapa perspektif lain, misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupa untuk mendukung analisis tersebut.

5.   Reconstructing (Merancang ulang). Menuliskan rencana alternatif jika menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

 

Adapun hasil refleksi saya setelah mempelajari Modul 3.2 adalah :

Reporting. Melalui penerapan pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset-based approach), seorang pemimpin di sekolah dapat mengajak warga sekolah memetakan aset/potensi yang dimiliki sekolah dalam mewujudkan ekosistem sekolah yang berpusat kepada kebutuhan murid. Proses identifikasi dan pemetaan potensi sekolah diharapkan dapat menjadi sumber kekuatan sekolah dalam mewadahi semua semangat, dukungan, dan apresiasi yang bersumber dari warga sekolah.

Responding. Sebagai pemimpin di sekolah, dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah dapat dilakukan komunikasi dengan para warga sekolah. Komunikasi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Jika dilakukan secara langsung ,maka akan ada pertemuan tatap muka dan dialog terbuka dengan warga sekolah. Jika dilakukan secara tidak langsung, maka akan menggunakan media lain yang bersifat offline. Dapat dengan menggunakan angket atau pengisian google form. Proses pemetaan aset/potensi 33 MB dilakukan secara langsung (pertemuan dan dialog) dengan warga sekolah. Pertemuan pertama bersama kepala sekolah dan rekan sejawat di sekolah, pertemuan kedua bersama perwakilan PULAS/Paguyuban Kelas yang diwakili oleh KOMITE sekolah, dan pertemuan ketiga bersama perwakilan murid kelas 4, 5, dan 6. Pertemuan antara rekan sejawat, orangtua, dan para murid dilakukan terpisah untuk memberikan keluasan dan keterbukaan semua pihak dalam mengungkapkan ide/gagasannya tanpa ada yang mendominasi. Adapun harapan dari pertemuan dan dialog ini, sekolah dapat mengetahui dengan pasti apa yang diharapkan semua pihak di sekolah (terutama murid) dalam proses pembelajaran di sekolah.

 

Relating. Pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset-based approach) mampu mengsugesti kita secara sadar untuk berpikir positif dalam kehidupan karena kita diajak menjadi lebih fokus pada hal-hal yang telah ada dan sedang berjalan dengan baik di lingkungan, sehingga itu menjadi sumber motivasi juga inspirasi kita serta lingkungan sekitar untuk terus menata kehidupan yang lebih baik demi anak-anak hebat bangsa di 33 MB.

 

Reasoning. Identifikasi dan pemetaan aset/potensi sekolah membawa kita pada tujuan penting pada program sekolah yang berpusat kepada murid. Sehingga peran pemimpin dalam mengajak warga sekolah memetakan aset/potensi harus menjadi agenda wajib yang tak bisa terlewatkan.

 

Reconstructing. Terus berfokus pada aset/potensi yang dimiliki sekolah dalam membangun ekosistem seolah yang berpihak kepada murid dengan mengajak warga sekolah memetakan aset/potensi sekolah secara bersama-sama sebagai sumber kekuatan yang berkelanjutan.

 

Bukan hal yang mudah untuk duduk bersama, berdiskusi bersama, dan berbicara dari hati ke hati di tengah banyaknya perbedaan pandangan, pendapat, dan ide. Namun, tidak ada yang tidak mungkin selama kita terus mencoba hal-hal terbaik yang dapat dilakukan demi anak-anak bangsa. Sekolah kecil yang terletak di ujung Kabupaten Bangka ini, UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat telah membuktikan itu. Kami duduk bersama, berpikir terbuka, dan menyatukan pandangan dalam memetakan aset sekolah demi merencanakan program-program sekolah yang berpihak kepada murid.

Mari..terus jaga dan kembangkan potensi/aset yang dimiliki sekolah dengan kolaborasi bersama untuk mewujudkan Merdeka Belajari di 33 MB.

Desain Jurnal Refleksi Ke-9 tersedia di : https://drive.google.com/file/d/1eOu--Qf83rh6HsdjzFRVstT5BF7zw7I1/view?usp=share_link

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 02 Desember 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Sabtu, 12 November 2022

Prakarsa Perubahan BAGJA dalam Program Operasi Semut di 33 MB

 

Prakarsa Perubahan Bagja dalam Program Operasi Semut Modul 3.3 (Doc. Pribadi)

Demonstrasi Kontekstual Modul 3.3 ini masih mengadopsi prakarsa perubahan BAGJA seperti yang telah dipelajari di modul sebelumnya. Bedanya, pada perubahan BAGJA yang saya susun pada modul sebelumnya tidak sepenuhnya membangun kepemimpinan kepada murid. Dalam tahapan ini, saya mencoba membuat perubahan terkait program/kegiatan yang akan diterapkan di satuan pendidikan, UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB) dengan menggunakan kerangka manajemen BAGJA. Kemudian menyusun pertanyaan dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam setiap tahapan BAGJA tersebut bersumber dari kepemimpinan kepada murid.

Program/kegiatan yang saya desain ini sebenarnya telah dilaksanakan pada bulan kedua sejak saya pindah tugas di 33 MB, Juni 2022 lalu. Namun, terus mengalami perkembangan seiring evaluasi yang sering dilakukan. Program perubahan sekolah yang saya rencanakan, saya didiskusikan bersama kepala sekolah dan rekan sejawat sekolah. Setelah itu setiap guru kelas mengidentifikasikan kegiatan yang diinginkan dan dibutuhkan para murid (keberpihakkan kepada murid). Kemudian pihak sekolah mengundang orangtua sebagai bentuk kolaborasi dan dukungan dalam proses pembelajaran anak-anak di sekolah.

Semenjak pertemuan pertama bersama orangtua, 4 (empat) Program Unggulan 33 MB: PULAS (Paguyuban Kelas), SEMATA (Senyum Manis Kita), NADI (Nabung Sejak Dini), dan D-Ka (Dari Kita Untuk Kita) terlaksana dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan besarnya animo dari murid dan para orangtua setiap kegiatan ini dilaksanakan. Bahkan sampai saat ini 4 program unggulan itu masih berjalan dengan baik dan secara rutin dilakukan evaluasi bersama. Evaluasi dilaksanakan satu bulan sekali pada rapat KOMITE PULAS di sekolah bersama ketua komite dan pengurusnya serta pihak sekolah yang biasanya diwakili oleh saya sendiri. Kemudian hasil pertemuan ini saya sampaikan pada rapat bersama kepala sekolah dan rekan sejawat. 

Pertemuan PULAS (Paguyuban Kelas) yang rutin dilaksanakan satu bulan sekali, rapat rutin bersama kepala sekolah juga rekan sejawat, serta dialog terbuka yang sering dilakukan bersama para murid 33 MB, membawa gagasan/ide baru dalam usaha membangun sekolah yang ramah lingkungan. Hal sederhana yang saat itu terpikirkan oleh saya adalah bagaimana membangun kepedulian dan budaya kebersihan di lingkungan kelas dan sekolah. Sementara aset terbesar yang dimiliki 33 MB yaitu semangat para murid dalam gotong royong cukup berkembang baik di sekolah.

Nama Operasi Semut sendiri terinspirasi dari hewan semut. Walaupun bertubuh kecil, tetapi kental akan karakter saling bantu-membantu dalam komunitasnya. Sehingga program operasi semut diharapkan tidak hanya membangun budaya cinta lingkungan, tetapi dapat membentuk karakteristik lingkungan yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positi, arif, dan bijaksana, serta lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri (belajar bermakna).

Adapun nilai Profil Pelajar Pancasila dalam operasi semut adalah membangun kolaborasi (elemen: gotong royong) warga sekolah dalam menjaga lingkungan sekolah sebagai bentuk kepedulian manusia terhadap alam (elemen: akhlak kepada alam) dengan menghasilkan ide/gagasan/karya baru (elemen: kreatif).

Prakarsa perubahan BAGJA dalam Program Operasi Semut ini, yaitu mewujudkan sekolah yang ramah lingkungan melalui operasi semut. Saya mencoba menyusun tahapan BAGJA secara urut dan terperinci mulai dari membuat pertanyaan utama, tindakan yang diperlukan untuk mendapatkan jawaban, rencana untuk melibatkan suara/pilihan/kepemilikkan murid, aset/kekuatan/sumberdaya yang dapat memberdayakan, waktu yang diperlukan, dan penanggung jawab. Hasil tahapan prakarsa perubahan BAGJA tersedia pada channel youtube : 

Video Prakarsa Perubahan BAGJA dalam Operasi Semut di 33 MB (Doc. Pribadi)

Melalui Demonstrasi Kontekstual kali ini, kembali mengajarkan hal baru kepada saya bahwa prakarsa perubahan BAGJA dapat membantu kita menyusun dengan urut dan rinci tahapan dari kegiatan/program yang akan dikerjakan. Pada awal penggunaanya sedikit membingungkan, namun pepatah lama mengatakan: “ala bisa karena biasa.” Ketika prakarsa perubahan BAGJA sering digunakan, maka akan sangat terasa efisien waktu dan tenaga kita menyusun sebuah perencanaan suatu kegiatan/program perubahan. Selain itu, pada prakarsa perubahan BAGJA demonstrasi kontekstual ini ditambahkan point rencana untuk melibatkan kepemimpinan murid baik dari segi aspek suara, pilihan, atau pun kepemilikkan. Hal ini membuat desain BAGJA semakin kompleks, bukan hanya menyediakan program yang berpihak kepada murid, namun membangun kepemimpinan mereka atas semua yang dikerjakan sehingga tercermin karakter Profil Pelajar Pancasila.

Mari..kita desain sebuah program/kegiatan perubahan di sekolah dengan mengedepankan kepemimpinan kepada murid karena sejatinya proses belajar adalah milik mereka sendiri.

Demikianlah artikel saya pada Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Jumat, 21 Oktober 2022

Belajar Menjadi Pemimpin

 

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 (Doc. Pribadi)

Telah tiba di alur Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Sebuah kutipan dari Bob Talbert yang saya dapatkan dalam LMS pada modul ini : “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”. Kutipan ini membuat saya semakin memaknai seni mengajar tidak semata-mata untuk hasil akhirnya, tetapi bagian yang berharga adalah proses dalam menjalaninya. Mengajarkan anak untuk bisa sesuatu itu penting, namun akan lebih bermakna jika proses yang mereka lalui melekat sebagai nilai / karakter pribadi mereka hingga dewasa nanti. Nilai apa yang diharapkan dan untuk apa nilai-nilai itu ? Nilai-nilai kebajikan untuk keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, tidak hanya sebagai individu, namun sebagai makhluk sosial. Hal ini juga sejalan dengan konsep belajar dan tujuan pendidikan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Dalam dunia pendidikan, sering kita didengar semboyan Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tolodo artinya di depan jadi teladan atau panutan, Ing Madya Mangun Karso yang artinya di tengah membangun semangat atau motivasi, dan Tut Wuri Handayani artinya di belakang memberi dorongan atau kekuatan. Apabila semboyan ini dilaksanakan oleh guru, maka akan memberikan pengaruh positif terhadap anak didiknya. Jika dikaitkan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin, maka pemimpin harus mampu memberikan contoh baik/teladan/panutan secara sikap, perilaku, kebijakan maupun pemikirannya. Ketika pemimpin berada ditengah-tengah anggotanya, pemimpin mampu memberikan semangat/motivasi kepada anggotanya untuk terus maju memperjuangkan tujuan bersama. Kemudian sebagai pemimpin juga harus memberi kewenangan dan kekuasaan kepada anggotanya. Hal tersebut untuk menciptakan kepemimpinan yang berkesinambungan guna mempersiapkan pemimpin dari generasi berikutnya.

Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri kita sebagai seorang pendidik bermula dari pribadi keseharian yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan kita, kemudian terintegrasi menjadi bentuk keberpihakkan kepada murid. Konsekuensi logis dari pilihan ini memacu untuk terus mandiri menggembangkan kompetensi dalam perubahan zaman, berinovatif dalam upaya menyajikan pembelajaran yang menarik, dan berkolaborasi dengan semua pihak yang terlibat dalam proses belajar murid, serta selalu merefleksi untuk mempersiapkan rencana baru yang lebih baik dari sebelumnya. Semua nilai ini pastinya memberi pengaruh besar kepada prinsip-prinsip seorang pemimpin agar semua keputusan yang diambil berlandaskan pertimbangan-pertimbangan yang matang sehingga menghasilkan keputusan yang bijak dan dapat dipertanggung jawabkan.

Pengambilan keputusan juga berkaitan dengan peran kita sebagai coach pada kegiatan coaching. Mengapa demikian ? Peran guru sebagai penuntun berhubungan erat dengan peran seorang pemimpin dalam memberikan kesempatan untuk anggotanya mengembangkan potensi yang dipunya. Jika dikaitkan dengan coaching, seorang coach juga menuntun dan berfokus pada coachee menemukan solusi dari permasalahannya serta membangun kepercayaan diri. Seberapa efektif keputusan yang telah diambil, tentu kita tidak akan pernah tahu selama kita belum pernah membuat keputusan. Keterampilan coaching akan bergerak seirama dengan keterampilan dalam pengambilan keputusan karena bersumber dari “menuntun” untuk membangun dan mengembangkan karakter / nilai dalam diri orang lain.

Kemampuan guru dalam mengelola aspek sosial dan emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya dilema etika. Penerapan 9 langkah dalam pengambilan keputusan membutuhkan suasana, kondisi, pikiran, dan hati yang tenang. Harapannya keputusan yang diambil menjadi keputusan yang bijak untuk masalah yang sedang dihadapi.

Studi kasus yang fokus pada masalah moral atau dilema etika selalu dikembalikan pada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik dalam kepemimpinannya. Bahkan dalam 9 langkah penerapan pengambilan keputusan yang telah saya pelajari di modul ini dimulai dengan melihat nilai-nilai kebajikan / universal yang saling bertentangan. Mengapa demikian ? Karena nilai kebajikan merupakan akar dari karakter baik yang berpotensi berkembang dalam suatu kasus yang sedang dihadapi. Sehingga untuk mewujudkan ini, seorang pemimpin bukan hanya dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan pengambilan keputusan saja, namun berfokus pada pengembangan karakter semua pihak yang terlibat di dalamnya. 

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Seorang pemimpin dalam mengambil suatu keputusan pastilah melalui proses analisis masalah yang panjang apalagi jika menerapkan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil dengan penerapan 9 langkah ini mempertimbangkan segala aspek sehingga pada akhirnya didapatlah suatu keputusan bijak yang diharapkan membawa lingkungan lebih positif, aman, bahkan kondusif.

Tantangan-tantangan di lingkungan saya dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika berkaitan dengan paradigma di lingkungan apalagi itu telah berakar lama dan membudaya. Salah satu contohnya paradigma kebenaran lawan kesetiaan. Bagaimana sebagai seorang pemimpin harus menaati peraturan, namun tidak melukai perasaan rekannya? Apalagi jika telah membudaya selalu membuat pengecualian untuk menjaga perasaan orang lain. Dari modul ini saya belajar untuk mengajak rekan-rekan sejawat membangun ekosistem sekolah yang berpihak kepada murid sehingga dengan ini diharapkan muncul dan membudayanya kesepakatan sebagai nilai-nilai yang kita yakini bersama.

Pengambilan keputusan yang kita ambil, berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid. Salah satu contohnya ketika kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pada modul 2.1, kita telah mempelajari bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat mengakomodir keberagaman kebutuhan belajar murid. Ketika kita memilih untuk berpihak kepada murid, pembelajaran berdiferensiasi menjadi konsekuaensi logis dari keberpihakkan itu.

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan masa depan murid-muridnya. Setiap keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran khususnya di kelas dapat memberi pengaruh besar pada proses tumbuh dan berkembangnya karakter anak. Bahkan di banyak kejadian, terlalu besarnya pengaruh keputusan yang dibuat seorang guru dapat melekat di memori anak sehingga terbawa sampai dewasa. Contohnya ketika kita mengetahui ada murid yang butuh waktu lama untuk memahami suatu konsep / materi pembelajaran, namun dia memiliki semangat belajar yang sungguh luar biasa. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di kelas, kita memutuskan berlaku adil kepadanya dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan sesuatu sesuai dengan standar penilaiannya. Lalu, dengan kesempatan yang kita berikan, membentuk kepribadian yang pantang menyerah dan bertanggung jawab dalam setiap hal yang dilakukannya. Jika hal ini terus terjadi dan membentuk kebiasaan dalam hidupnya, maka secara tidak langsung kita telah berperan andil dalam membangun pribadi pantang menyarah dan bertanggung jawab dalam diri anak ini.

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini adalah untuk menjadi pemimpin khsususnya pemimpin pembelajaran dibutuhkan ilmu, pikiran, dan hati yang saling berkolaborasi sehingga menghasilkan suatu keputusan yang bijak. Tidak akan berarti dan bermakna keputusan tanpa nilai-nilai kebajikan yang diyakini dalam ilmu (sistem / peraturan yang berlaku) serta pikiran juga hati yang tenang. Kaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah mempersiapkan diri saya untuk memahami lebih mendalam lagi tujuan dari Pendidikan Guru Penggerak ini. Pada modul 1, saya memahami bahwa guru harus berpihak kepada murid seperti pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Bentuk dari keberpihakkan itu direncanakan dan dilaksanakan dalam modul 2, yaitu pembelajaran berdiferensiasi yang mengakomodir keberagaman kebutuhan belajar murid serta terintegrasi dengan pembelajaran sosial dan emosional.

Pemahaman saya setelah mempelajari modul ini, seperti dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan menjadi awal untuk melatih keterampilan saya dalam mengambil suatu keputusan yang lebih bijak. Hal yang diluar dugaan saya setelah mempelajari modul ini terutama dari tugas Demonstrasi Kontekstual sebelumnya, setiap pemimpin punya gaya kepemimpinan yang berbeda dan secara umum telah menerapkan langkah pengambilan keputusan, hanya tidak implisit seperti yang dipelajari pada modul 3.1 ini.

Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema. Ada perbedaan pengambilan keputusan dengan yang dipelajari dalam modul ini, yaitu pada langkah-langkah tertata dalam sebuah kerangka sehingga mempermudah kita dalam proses pengambilan keputusan. Jika keterampilan pengambilan keputusan ini terus kita asah, maka kita akan lebih percaya diri dan berani dalam mengambil keputusan yang bijak dan bertanggung jawab.

Perubahan yang terjadi pada cara saya dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mempelajari modul ini adalah saya lebih siap dan berani karena terbantu dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sebelum mempelajari modul ini, ketika saya menemui suatu masalah yang harus diselesaikan dengan pengambilan keputusan, saya bingung harus memulai dari mana untuk proses menemukan solusi apalagi sampai pengambilan keputusannya. Namun, setelah mempelajari modul ini, saya tidak perlu ragu lagi untuk memulai proses penyelesaian dan pengambilan keputusan karena 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sangat membantu secara teoritis. Selebihnya adalah memperbanyak praktik dalam pengambilan keputusan.

Modul ini sangat penting bagi saya sebagai individu dan seorang pemimpin karena saya sadar bahawa karakter / nilai kebajikan dalam diri kita dan diyakini bersama merupakan akar dalam proses penyelesaian suatu masalah hingga pengambilan keputusan bijak dan penuh tanggung jawab.

Demikianlah artikel saya mengenai proses belajar menjadi seorang pemimpin pada Koneksi Antar Materi Modul 3.1 ini. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca khususnya untuk para guru hebat di tanah air dalam menyiapkan diri sebagai pemimpin masa depan.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Rabu, 05 Oktober 2022

Praktik Coaching Bersama Rekan CGP

Praktik Coaching bersama Rekan CGP (Doc. Pribadi)

Setelah melaksanakan kegiatan coaching di ruang virtual bersama rekan CGP pada Ruang Kolaborasi, tiba saatnya kegiatan coaching dilaksanakan secara luring (bertatap muka) bersama rekan CGP pada Demonstrasi Kontekstual. Adapun peran yang saya perankan secara bergantian, yaitu sebagai caoch, coachee, dan pengamat.

Kegiatan coaching ini dilakukan hari Senin / 03 Oktober 2022 bersama Ibu Sofia (UPTD SMP Negeri 3 Sungailiat) dan Ibu Reny (SMP Muhammadiyah Sungailiat) bertempat di UPTD SMP Negeri 3 Sungailiat. Kami melakukan praktik coaching dengan menjalankan 3 peran yaitu sebagai coach, coachee, dan pengamat secara bergantian. Perbedaannya dengan praktik coaching ini, saya mendapat peran tambahan sebagai pengamat. Pengamat bertugas untuk mengamati kegiatan coaching yang telah berlangsung kemudian menyampaikan beberapa informasi di akhir kegiatan coaching. Mulai dari menyampaikan hasil pengamatannya, memberikan kesempatan kepada coach menceritakan perasaannya setelah melakukan coaching, dan juga bertanya kepada coachee tentang perasaannya setelah di coaching.

Alur percakapan coaching akan menjadi efektif dan bermakna dengan menggunakan alur TIRTA. T (Tujuan) menyepakati topik pembicaraan dan hasil pembicaraan. I (Identifikasi) menggali dan dan memetakan situasi saat ini yang dihubungkan dengan fakta-fakta yang ada, R (Rencana aksi) mengembangkan ide untuk alternatif rencana aksi. TA (TAnggung jawab) berkomitmen akan langkah selanjutnya. Alur TIRTA ini telah berjalan baik pada saat saya melakukan praktik coaching ini.

Hal berbeda yang saya dapatkan pada kegiatan coaching kali ini yaitu :

1.       Saya merasa kegiatan coaching secara luring lebih nyaman dilakukan karena saya dapat lebih fokus pada coachee/rekan sejawat yang akan dikembangkan. Hal ini mungkin terjadi karena terjadi tatap muka langsung antara saya sebagai coach dan rekan sebagai coachee. Saya juga lebih bisa memusatkan perhatian pada rekan, bukan pada situasi yang dibawa dalam percakapan.

2.       Saya juga berusaha untuk menjalin kemitraan ketika menjadi coach agar tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah serta berusaha bersikap netral sehingga tidak ada jarak antara saya dan rekan CGP.

3.       Saya juga sudah berusaha tidak menghakimi, melabel, atau berasumsi pemikiran rekan yang sedang di coaching serta mulai menerima pemikirannya dengan tenang dan tidak terbawa perasaan/emosional.

4.       Saya juga berusaha menjadi pendengar aktif agar coachee dapat menemukan sendiri solusi dari permasalahan yang dihadapinya.

 

Adapun hal yang masih harus saya kembangkan lagi adalah dalam menyusun kalimat-kalimat terbuka yang berbobot. Tidak mudah dalam waktu singkat menyusun kalimat terbuka saat proses coaching mengingat tugas coach adalah menuntun coachee untuk menemukan sendiri solusi dari permasalahannya agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Serta membangun kepercayaan diri coachee bahwa setiap permasalah dapat ditemukan penyelesaian oleh dirinya sendiri.

Berikut ini hasil praktik coaching yang telah kami lakukan tersedia di Channel Youtube : 

Praktik Coaching bersama Rekan CGP (Doc. Pribadi)

Demikianlah artikel saya tentang hasil dari praktik coaching di Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3 ini. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Kamis, 22 September 2022

“Refleksi 4P” Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

Aksi Nyata Modul 2.2 (Doc. Pribadi)

Peran pendidik yang telah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu maupun anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran KHD ini mengingatkan kita bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi murid untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna untuk para murid.

Pada alur MERDEKA Modul 2.2 ini telah dipaparkan bagaimana keberpihakkan kepada murid menjadi langkah awal untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Bagaimana bentuk keberpihakkan itu ? Memenuhi kebutuhan para murid adalah jawabannya. Beragamnya potensi dan minat murid membuat banyak kebutuhan mereka yang harus terpenuhi. Melalui pembelajaran berdiferensiasi diharapkan dapat mengakomodir keberagaman kebutuhan murid tersebut. Selain itu, guru juga perlu mengetahui dengan baik bagaimana kondisi sosial-emosional murid yang akan dihadapinya. Dari sinilah peran Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses pembentukkan karakter murid. 

Pada aksi nyata modul 2.2 menggunakan Model Refleksi 4P. Model refleksi 4P merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4P dapat diterjemahkan menjadi 4F, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal). Berikut ini penjelasan Model 4F / Model 4P :

1. Facts (Peristiwa). Menceritakan pengalaman saya mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas ? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut ? Menceritakan juga hambatan atau kesulitan saya selama proses pembelajaran pada minggu ini ? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut ?

2. Feelings (Perasaan). Bagaimana perasaan saya selama pembelajaran berlangsung ? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas ? Menceritakan hal yang membuat saya memiliki perasaan tersebut.

3. Findings (Pembelajaran). Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini ?

4. Future (Penerapan). Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan ? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini ?

Berikut ini refleksi saya pada Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dengan Model Refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan) :

PERISTIWA (FACTS). Moment yang paling penting bagi saya setelah melakukan aksi nyata modul 2.2 ini adalah saya mendapatkan berbagai referensi praktik baik (program penguatan) Kompetensi Sosial dan Emosional di lingkungan sekolah pada Ruang Kolaborasi bersama fasilitator dan rekan CGP lainnya. Kami berdiskusi dan menyusun inisiatif program penguatan KSE bagi murid dan rekan sejawat. Kemudian mempresentasikan hasil kelompok dan saling membagikan praktik baik dalam impelementasi KSE. Ruang Kolaborasi kali ini menjadi inspirasi untuk saya dalam menerapkan KSE di sekolah nantinya.

PERASAAN (FEELINGS). Saya mendemonstrasikan implementasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) dengan membuat modul ajar yang tidak hanya terintegrasi KSE namun juga modul ajar berdiferensiasi. Sehingga modul ajar yang saya desain pada demonstrasi kontestual dan telah di terapkan di Kelas 3 adalah Modul Ajar Berdiferensiasi dan Terintegrasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Sungguh ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan karena ini merupakan bagian dari usaha sadar saya sebagai seorang pendidik dalam memenuhi kebutuhan belajar murid-murid hebat saya di 33 MB.

PEMBELAJARAN (FINDINGS). Hal yang bermanfaat adalah setiap alur MERDEKA pada modul ini memberikan inspirasi kepada saya untuk mempersiapkan pembelajaran yang berpihak kepada murid mulai dari pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi KSE. Umpan balik yang saya dapatkan adalah kebahagiaan pada murid pada setiap perubahan dari proses pembelajaran yang dilakukan serta saya semakin belajar memahami bahwa sejatinya setiap individu berhak mendapatkan apa yang dibutuhkan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.

PENERAPAN (FUTURE). Rencana saya ke depan untuk meningkatkan pengalaman aksi nyata ini agar lebih luas adalah membagikan praktik baik ini kepada rekan sejawat di sekolah. Mungkin ini tidak mudah namun, mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Mulai dari hal kecil dengan berbagi hasil tugas yang telah dikerjakan pada PGP dan diunggah pada media online dan media sosial.

Demikianlah aksi nyata modul 2.2 saya, semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

Membawa Pembelajaran Berdiferensiasi ke Kelas 3 (Aksi Nyata Modul 2.1)

Aksi Nyata Modul 2.1 (Doc. Pribadi)

Tujuan pendidikan nasional berakar dari pemikiran Menteri Pertama Indonesia yang sekaligus menjadi tokoh pendidikan nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih kita kenal Ki Hajar Dewantara (KHD). Pendidikan yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh KHD saat masa penjajahan masih relevan. Hal ini terbukti dengan dijadikannya pemikiran-pemikiran KHD sebagai landasan praktik pendidikan hingga saat ini terutama pada Kurikulum Merdeka yang resmi diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek Februari 2022 lalu.

Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KHD adalah Taman Siswa. Taman siswa bukan hanya menjadi tempat bermain untuk anak namun, juga menjadi tempat untuk anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Anak diberi kemerdekaan untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat serta dilengkapi dengan dukungan dalam proses belajarnya. Prinsip dasar Taman Siswa sejatinya tidak menghilangkan kodrat anak untuk bermain namun, anak tetap dapat menikmati proses belajar dengan bahagia di dalamnya.

Pendidikan yang bersumber dari referensi KHD ini merupakan pendidikan yang berpihak pada murid. Bentuk keberpihakkan kepada murid membawa kita sebagai guru menyiapkan proses pembelajaran yang berpusat pada murid. Bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid ? Pastinya pembelajaran yang disiapkan atas dasar kebutuhan murid. Esensi dari profesi guru sama halnya seperti profesi dokter. Seorang dokter menentukan keputusan terbaik dalam mengobati pasiennya dimulai dengan mendiagnosa sakit yang dirasa/keluhkan oleh pasiennya. Setelah itu dokter menganalisis untuk menentukan tindakan terbaik yang harus dilakukan untuk langkah pengobatan pasiennya. Jika kita berada pada posisi pasien, melihat dokter langsung melakukan tindakan tanpa bertanya keluhan yang kita rasa, apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan percaya tindakan yang dilakukan untuk kebaikan kita ?

Sama seperti guru, sebelum memulai proses pembelajaran di kelas, seorang guru haruslah tahu dengan baik siapa muridnya, apa yang dipunya murid (kemampuan/minat/bakatnya), apa yang dibutuhkan murid untuk mengembangkan kemampuannya, dan cara terbaik apa yang bisa diberikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan para muridnya ?

Guru seyogiyanya menyiapkan pembelajaran terbaik yang dapat dimulai dengan melakukan asesmen diagnosis. Asesmen diagnosis terbagi menjadi 2 yaitu non kognitif dan kognitif. Asesmen diagnosis non kognitif bertujuan untuk mengetahui psikologis sosial emosi murid, aktivitas belajar murid di rumah, latar belakang pergaulan murid, gaya belajar murid, karakter serta minat murid. Sementara asesmen diagnosis kognitif dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar dalam memahami suatu materi/konsep pada mata pelajaran tertentu. Bagaimana bentuk asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif ? Tentunya alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil asesmen diagnosis ini disesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan kondisi lingkungan murid berada. Hasil dari asesmen diagnosis ini digunakan guru untuk memetakan kebutuhan dasar murid berdasarkan minat dan profil belajar murid. Sederhananya asesmen diagnosis dilakukan guru untuk mengetahui murid seperti apa yang dihadapinya dan guru bebas menggunakan alat/cara apapun untuk mengetahui kondisi muridnya.

Jika guru sudah memetakan kebutuhan dasar muridnya maka, cara terbaik yang dapat dilakukan guru dalam memenuhi keberagaman kebutuhan belajar murid adalah melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan segala usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan ? Karena pembelajaran berdiferensiasi memiliki karakter :

1.     Kurikulum memiliki Tujuan Pembelajaran (TP) yang didefinisikan secara jelas untuk para muridnya.

2.     Guru merespon dengan menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

3.     Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

4.     Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

5.     Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui.

Ketika pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan terbaik guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas maka, guru dapat mulai menyusun RPP / Modul Ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dapat menentukan model pembelajaran dan penilaian yang relevan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran (TP) yang diharapkan.

Pembelajaran berdiferensiasi yang telah saya tuangkan dalam modul ajar memuat pembelajaran berdiferensiasi konten, proses, dan produk. Saya mendesai konten modul ajar ini bersumber dari hasil asesmen non kognitif dan kognitif di awal semester. Proses dari implementasi modul ajar ini di kelas berjalan baik dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dan terakhir produk yang dihasilkan berupa kemampuan individu yang mulai berkembang sesuai dengan kelebihan yang dipunya baik itu dari bercerita, menggambar, maupun menulis.

Setelah mempelajari dan memahami makna dari memenuhi kebutuhan murid tentang pembelajaran berdiferensiasi, saya telah mencoba mempraktikkan modul ajar berdiferensiasi yang telah didesain pada modul 2.1. Adapun evaluasi yang saya gunakan untuk refleksi berikutnya adalah pembelajaran diferensiasi terbukti mampu mengakomodir keragaman kebutuhan belajar murid di kelas. Ini merupakan pengalaman baru untuk saya dan pastinya juga untuk para murid. Kekurangan di beberapa komponen tidak dapat dipungkiri, contohnya beberapa murid yang belum bisa fokus pada kelompoknya dan lebih senang melihat kerja kelompok lain. Kemudian ada beberapa murid yang membutuhkan bantuan lebih yaitu murid yang cenderung aktif secara motorik sehingga diperlukan lagi penambahan praktik pada Lembar Kerja Kelompok (LKK). Adapun murid yang perlu mendapat tantangan adalah murid yang mengerjakan LKK dengan baik dan cepat serta mempresentasikan hasilnya dengan baik.

Menciptakan lingkungan belajar yang nyaman untuk mengundang murid bahagia dalam proses pembelajarannya tidaklah mudah. Terkadang desain yang sudah kita siapkan dengan versi terbaik masih saja ada kekurangan dalam mengaplikasikannya di kelas. Namun, perlu disadari satu hal bahwa semua butuh proses baik itu untuk saya sebagai guru dan murid sebagai aktor utamanya. Proses yang telah berjalan ini memacu saya untuk terus melakukan evaluasi dan refleksi agar berikutnya bisa berjalan lebih maksimal lagi. Pastinya..proses yang telah berjalan ini pun membuat anak-anak hebat kelas 3 lebih bahagia.

Terakhir..terima kasih anak-anak hebat 33 MB khususnya Kelas 3.

Demikian artikel saya kali ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca khususnya bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia… 

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...