Tampilkan postingan dengan label lisasya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lisasya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Maret 2024

Observasi Kelas Penuh Cerita

 

Observasi Kelas 1 33 MB, Rabu/06 Maret 2024 (Doc. Pribadi)

        Dalam upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di dunia pendidikan, Kemendikbudristek hadir membersamai pembelajaran yang berdampak pada capaian belajar murid, salah satunya melalui peningkatan peran profesional guru sebagai garda terdepan pendidikan Indonesia melalui transfromasi Pengelolaan Kinerja yang tersedia di aplikasi Platform Merdeka Mengajar (PMM). Tujuannya tidak lain agar Pengelolaan Kinerja dapat lebih praktis, relevan, dan berdampak nyata. Para guru dan kepala sekolah tidak perlu lagi mengisi E-Kinerja BKN karena Pengelolaan Kinerja yang tersedia di PMM telah terintegrasi dengan E-Kinerja BKN.

Proses penggunaan Pengelolaan Kinerja di PMM oleh para guru dan kepala sekolah mulai Januari 2024 juga telah dirasakan oleh saya dan rekan-rekan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut “33 MB”). Perencanaan yang dituangkan dalam Rencana Hasil Kinerja (RHK) pada bulan Januari lalu kini telah memasuki pelaksanaan observasi kelas di bulan Maret. Namun, sebelumnya persiapan observasi kelas ini telah dikomunikasikan bersama kepala sekolah di bulan Februari.

Observasi kelas atau dulunya lebih dikenal supervisi kelas menjadi agenda wajib yang dilaksanakan oleh kepala satuan pendidikan (kepala sekolah) sebagai upaya meningkatkan peran profesional guru dalam proses pembelajaran yang telah berlangsung di sekolah. Namun, hal menarik yang saya rasakan dalam menyiapkan observasi kelas tahun ini adalah kebebasan guru dalam menentukan fokus perilaku yang akan dikembangkan. Observasi kelas kini dirancang bukan hanya mengidentifikasi kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran namun, dikemas dengan lebih ringkas seperti banyak melibatkan guru dalam proses menemukan dan menyelesaikan kesulitan yang ditemui dalam proses belajar mengajarnya. Melalui banyak rerkomendasi yang nantinya akan disediakan dalam tahapan Pengelolaan Kinerja di PMM, guru diharapkan dapat lebih fokus pada praktik kinerja dan perilaku kinerja.

Bulan Maret menjadi jadwal observasi kelas untuk para guru termasuk kami di 33 MB. Fokus observasi yang saya tentukan dalam observasi kelas semester ini adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran yang memberi peran pada semua murid dengan memotivasi para murid untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, menyediakan peran dalam kelompok untuk memastikan semua anggota kelompok mendapatkan peran, dan memberi dukungan serta kesempatan pada murid yang pasif untuk berperan. Fokus perilaku ini menjadi kunci saya dalam mendesain Modul Ajar dalam observasi kelas.

Rabu / 06 Maret 2024 menjadi jadwal observasi kelas saya bersama anak-anak hebat kelas 1. Saya melanjutkan materi matematika “Mengenal Bangun Datar”. Mulai dengan menayangkan video lagu “Topi Saya Bundar” dan bernyanyi bersama menggunakan topi yang telah dibawa dari rumah menjadi awal untuk mengingat kembali materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya. Selanjutnya, mengindentifikasi bangun datar dari video yang ditayangkan serta benda konkret yang ada di dalam kelas hingga mengerjakan Lembar Kerja (LK) dalam kelompok. Lalu, bagaimana anak-anak kelas 1 dapat membagi peran dalam suatu kelompok? Apalagi di pertengahan pembelajaran, beberapa anak menangis karena belum mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Sungguh..ini menjadi tantangan terbesar bagi saya. Menyikapi kejadian tak terduga ini, saya memberikan kesempatan kepada beberapa anak yang belum tampil untuk maju bersamaan. Alhasil, mereka pun dapat menyimpulkan bahwa keadaan menjadi lebih ramai karena anak-anak menjawab pertanyaan secara bersamaan.

Banyak hal menarik lainnya yang membuat saya  terus tersenyum disepanjang proses pembelajaran, salah satunya pembagian peran anak-anak dalam mengerjakan LK kelompok (menulis, menggunting, dan menempel). Ada anak yang langsung membagikan peran untuk anggota kelompoknya dan semuanya menyapakati. Kemudian, ada kelompok yang  menggunakan teknik “hom pim pa” dalam menentukan peran di kelompoknya. Hal ini dilakukan untuk menghindari pertengkaran / rebutan peran. Saya memfasilitasi para murid jika terjadi hal yang tidak terduga terjadi selama proses pembelajaran ini berlangsung.

Setelah semua kelompok menyelesaikan lembar kerjanya, setiap kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil tugas kelompoknya di depan kelas. Setiap anak di dalam kelompok juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk menceritakan hasil kerja kelompoknya. Bagian akhir dari proses pembelajaran ini adalah saya meminta anak-anak mengungkapkan perasaannya dengan memberikan tanda checklist pada emoji yang ditampilkan pada layar proyektor di papan tulis. Semua anak memberikan emoji bahagianya yang menjadi pertanda betapa bahagianya mereka di hari itu. Pembelajaran hari ini pun kami tutup dengan makan kue bersama yang telah disiapkan oleh salah satu ibu dari anak kelas 1.

Pasca observasi kelas, kepala sekolah menanyakan beberapa perihal kepada saya termasuk indikator yang terpenuhi dan perlu dikembangkan selanjutnya. Sembari menunggu hasil penilaian observasi kelas oleh kepala sekolah pada Pengelolaan Kinerja di PMM,  saya pun mulai menulis kembali beberapa hal menarik yang saya temukan, termasuk hal tidak terduga yang muncul, tantangan yang dihadapi, serta hal yang akan terus dikembangkan dalam proses pembelajaran selanjutnya.

Bapak/Ibu guru hebat Indonesia, mari bersama kita mulai kegiatan observasi kelas ini dengan melaraskan persepsi bahwa ini merupakan bagian dari proses belajar kita juga sebagai guru. Kita diberi kesempatan bersama untuk menemukan kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran yang telah berlangsung, didampingi dalam menemukan solusinya baik itu oleh kepala sekolah selaku atasan kita di sekolah, dan diberi banyak rekomendasi perbaikan melalui Pengelolaan Kinerja di PMM untuk belajar. Tentunya observasi kelas ini bukanlah penilaian akhir dari kinerja kita. Penilaian Kinerja sesungguhnya terletak dari perubahan yang kita lakukan sebelum dan sesudah observasi ini dilaksanakan.

Tidak ada hal yang perlu kita khawatirkan selama kita bahagia melakukannya. Mari bersama mengingat kembali, bahwa menjadi guru adalah bagian termulia dalam perjalanan hidup kita.

Semangat belajar untuk kita semua…

Salam dan Bahagia.

*Artikel ini juga tersedia di link: https://www.kompasiana.com/lisasya/65e9d2f3c57afb662f012798/observasi-kelas-penuh-cerita


Senin, 09 Oktober 2023

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Berkala bagi Anak Usia Sekolah

 

Tim Puskesmas Penagan bersama 33 MB

Anak usia sekolah merupakan sasaran strategis untuk pelaksanaan program kesehatan. Selain jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan sasaran yang mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik yaitu berada di sekolah/madrasah. Sementara anak yang berada di luar sekolah dapat dijangkau di lembaga pendidikan lainnya. Sebagai amanah dalam pemenuhan atas hak kesehatan yang sama untuk semua anak Indonesia, kegiatan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala perlu dilaksanakan oleh tim terkait. Selain itu, pentingnya kegiatan ini untuk mendeteksi dini masalah kesehatan yang dapat mengganggu proses belajar dan tumbuh kembang anak sehingga dapat ditindak lanjuti dengan segera. Hasil penjaringan kesehatan juga dapat digunakan untuk merencanakan program kesehatan di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Sebagai sekolah yang menjadi naungan Puskesmas Penagan, senin / 09 Oktober 2023 pukul 09.00 WIB, para murid kelas 1  UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat sangat antusias kala dilakukan pemeriksaan oleh tim puskesmas. Walaupun ini bukanlah pengalaman pertama bagi mereka karena sebelumnya sering dilakukan saat masih di TK, namun semangat menyambut kedatangan tim puskesmas tidak dapat terelakkan. Bahkan seorang anak ada yang bertanya kepada tim, “Kenapa kita tidak di suntik, pak?” Mendengar anak itu mengatakan demikian, kami pun tersenyum lebar.

Pemeriksaan Kesehatan di Kelas 1

Sebelum memulai pemeriksaan, salah satu dari tim puskesmas menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan. Para murid pun secara bergantian melakukan pemeriksaan kesehatan mereka. Mulai dari pengukuran Tinggi Badan (TB), pengukuran Berat Badan (BB), pemeriksaan telinga, gigi dan mulut, kuku, kulit serta rambut mereka. Kemudian, para murid juga ditanyakan beberapa pertanyaan terkait pemenuhan kesehatan mereka. Selain itu, kelas lainnya juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan berkala juga dari tim Puskesmas Penagan.

Bapak Dianto Tanzar, S.Pd selaku kepala UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas Penagan ini. Setelah tim puskesmas menyampaikan tujuan dari kegiataan ini, bapak kepala sekolah mengatakan bahwa, “Kesehatan anak adalah tanggung jawab kita bersama agar generasi Indonesia kelaknya tumbuh menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohaninya serta tumbuh menjadi generasi Indonesia yang siap bersaing di eranya.”

Kolaborasi 33 MB bersama Puskesmas Penagan tidak hanya terjalin dari kegiatan pemeriksaan kesehatan berkala yang sedikitnya dilakukan 1 tahun sekali ini saja, namun sebelumnya kolaborasi 33 MB dan Puskesmas Penagan juga telah dilakukan dalam kegiatan sosialisasi sikat gigi bersama dokter gigi dan tim dari Puskesmas Penagan (baca disini). Mengingat pentingnya kegiatan yang serupa, maka untuk ke depan program Semata (Senyum Manis Kita) akan terus 33 MB lanjutkan demi pemenuhan kebutuhan kesehatan anak agar lebih masksimal.

Terima kasih tim Puskesmas Penagan dan tetap berkolaborasi bersama 33 MB dalam semangat sehat bersama anak-anak hebat…

Semangat belajar untuk kita semua…

Salam dan Bahagia…

 

 

 

Selasa, 30 Mei 2023

Pengukuhan Guru Penggerak oleh Wakil Bupati Bangka

Pengukuhan Guru Penggerak Bangka BERAKSI (Doc. Pribadi)


Bangka, 30 Mei 2023 menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi 30 guru penggerak di Kabupaten Bangka. Pukul 11.30 WIB bertepat di Rumah Makan Pangeran Sungailiat, Syahbudin, S.IP., M.Tr.IP selaku wakil bupati Bangka mengukuhkan 30 Guru Penggerak Angkatan 5 Bangka yang berasal dari jenjang TK, SD, SMP SMA, dan SMK. Selain itu, wakil bupati Bangka juga mengukuhkan Komunitas Guru Penggerak Bangka BERAKSI (Berbagi, Bersinergi, dan Berkolaborasi) yang menjadi komunitas guru penggerak pertama di Kabupaten Bangka.

Setelah melewati perjalanan panjang selama 16 bulan, mulai dari proses seleksi tahap pertama dengan melengkapi administrasi dan mengisi esai (Oktober 2021), seleksi tahap kedua dengan mengikuti simulasi mengajar dan wawancara (Januari 2022) oleh asesor dari Kemdikbudristek, barulah Maret 2023 dinyatakan resmi menjadi Calon Guru Penggerak dan siap mengikuti serangkaian pendidikan yang dilaksanakan kurang lebih 6 bulan. Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 dimulai bulan Mei sampai Desember 2022 dan resmi ditutup akhir Januari 2023. Tepatnya 31 Januari 2023, 30 Calon Guru Penggerak Kabupaten Bangka resmi menjadi Guru Penggerak Angkatan 5.

Berangkat dari perjalanan panjang dan berharga itu, tanggal 27 Maret 2023 bertempat di ruang pertemuan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahrga Kabupaten Bangka yang didukung penuh oleh Bapak Rozali, S.H., M.Si selaku kepala Dikpora Bangka, terbentuklah kepengurusan komunitas Guru Penggerak Bangka yang diberi nama “Guru Penggerak Bangka BERAKSI (Berbagi, Bersinergi, dan Berkolaborasi)”. Adapun ketua komunitas, Derry Nodyanto, M.Pd dari SMA Negeri 1 Pemali, wakil ketua Norpiyar, S.Pd dari UPTD SMP Negeri 2 Riau Silip, Sekretaris Lisa, S.Pd dari UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat, dan Fitri Rahayu, S.Pd.I dari TK Tunas Jaya Sungailiat serta 4 Kelompok Kerja (Pokja) yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan 4-5 Guru Penggerak.

Dalam sambutannya, wakil bupati Bangka menyampaikan, “Sebagai bagian dari pemerintah daerah, saya sangat bangga dan bersyukur kepada guru penggerak angkatan 5 ini yang memiliki komitmen dan dedikasi yg luar biasa dalam memajukan kualitas pendidikan di daerah kita. Guru penggerak ini adalah para pendidik terpilih dan memiliki kualitas membanggakan. Mereka adalah agen perubahan di dunia pendidikan kita”. Bapak Syahbudin juga mengajak para stakehoder pendidikan untuk memberikan apresiasi dan dukungan kepada para guru penggerak dan komunitas belajar Bangka BERAKSI untuk kita bersama-sama menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, berdaya saing dan berkualitas.

Pengukuhan siang itu juga dihadiri oleh para tamu undangan dari Balai Guru Penggerak Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jajaran Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka, kepala sekolah dan pengawas sekolah di instansi guru penggerak bertugas, serta Pengajar Praktik. Saipul Bakhri, S.Pd selaku Kabid Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Provinsi mendukung komunitas ini sebagai bentuk kolaborasi para guru dari berbagai jenjang mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA/SMK dalam memajukan pendidikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pengukuhan Guru Penggerak Bangka BERAKSI (Doc. Pribadi)


Pengukuhan Guru Penggerak dan Komunitas Bangka BERAKSI merupakan bentuk keseriusan 30 Guru Penggerak dalam berkolaborasi berbagi praktik baik dan menjadi bagian dari agen transformasi dalam dunia pendidikan Indonesia khususnya di Kabupaten Bangka dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini disampaikan Derry Nodyanto selaku ketua komunitas,
“Kita guru penggerak angkatan 5 dan komunitas guru penggerak Bangka BERAKSI (Berbagi, Bersinergi, dan Berkolaborasi) sesuai dengan akronimnya siap bersama-sama dengan pemerintah daerah untuk bergotong royong berbagi informasi dan berbagi praktik baik dalam transformasi pendidikan agar wajah dan kualitas pendidikan Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Kep. Babel menjadi lebih baik lagi sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional dan cita luhur bapak Ki Hajar Dewantara”.

Terakhir..terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang terlibat dalam proses perjalanan panjang kami hingga kegiatan pengukuhan ini terlaksana dengan lancar dan sukses. Bersama…kita berbagi, bersinergi, dan berkolaborasi menuju Pendidikan Indonesia yang Merdeka.

Semangat belajar untuk kita semua.

Salam Guru Penggerak… Salam dan Bahagia…

 

*Artikel ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/6476bc2d8221992138542582/pengukuhan-guru-penggerak-oleh-wakil-bupati-bangka 

 

Senin, 27 Maret 2023

Menata Kelas 3 dengan aset yang dimiliki 33 MB

Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Pribadi)

Apa yang terbesit di pikiran kita ketika mendengar kata “aset sekolah” ?? Akankah kita hanya berfokus pada sarana prasarana sekolah ?? atau finansial sekolah ?? Lalu, bagaimana dengan sekolah yang mempunyai sarana prasarana belum memadai dan keuangan yang terbatas ??

Ketika saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP), saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Dalam modul itu, ada materi menarik yang sungguh menyentuh hati bahkan saya ingat betul ketika menyelesaikan salah satu tugasnya, saya sampai meneteskan airmata. Video pembuka yang ditampilkan pada materi itu mengingatkan pada sekolah yang hampir setiap hari menjadi tujuan saya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di kelas 3, saya berusaha menyediakan tempat ternyaman untuk 18 anak hebat Air Pelempang dengan aset terbesar yang dimiliki oleh kelas yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).

Ada 7 aset atau modal yang dimiliki oleh sebuah komunitas termasuk itu sekolah, yaitu manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, agama dan budaya. Jika selama ini aset hanya berfokus pada fisik dan finansial maka, sesungguhnya aset terbesar terletak pada SDM (Sumber Daya Manusia) dan hubungan sosial yang tercipta dari individu manusia di dalamnya. Bukan berarti aset lain tidak penting, kita tetap butuh aset lainnya untuk melengkapi agar tujuan dari sekolah sebagai tempat pendidikan formal terbaik yang berada di lingkungan masyarakat tercapai dengan maksimal.

Pemanfaatan aset sekolah saya implementasikan dalam menata kelas 3 di tahun pelajaran 2022/2023 ini. Mengapa kelas menjadi pilihan pertama ? Karena kelas adalah tempat pertama murid belajar di sekolah sehingga banyak waktu dihabiskan di kelas. Kelas juga menjadi tempat pertama para murid membekali diri mereka untuk ke lingkungan yang lebih luas. Sebagai seorang guru, kelas juga menjadi tempat penting untuk saya yang berdomisili jauh dari sekolah dengan jarak tempuh 55 KM.

Sebelum saya mempelajari modul Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, saya telah mengajak para murid membayangkan kelas impian mereka. Keinginan dan harapan itu mereka tulis dalam catatan kecil kala kami sedang membuat kesepakatan kelas 3 di awal tahun ajaran baru, Juli 2022 lalu. Banyak anak yang mengharapkan kelas yang cantik, indah, bagus, dan nyaman. Tidak harus fisiknya saja, namun kehidupan sosial yang tumbuh di dalamnya. Saya selalu mengajak para murid berdiskusi sebelum memulai proses belajar mereka sebagai modal awal saya mempersiapkan desain pembelajaran di kelas (bagian dari asesmen diagnostik non kognitif). Kelas menjadi tempat pertama mereka mencurahkan apa yang mereka sukai, harapkan/inginkan, dan impikan untuk proses belajar mereka ke depannya. Selain itu, saya juga turut serta mengajak para orangtua yang tergabung dalam PULAS-3 (Paguyuban Kelas 3) untuk mendukung program kelas yang berpihak kepada murid. Salah satunya dengan menata kelas 3 menjadi tempat nyaman untuk anak-anak belajar di sekolah. Menata kelas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tidak hanya materi/finansial tetapi, ide dan kreativitas para orangtua dan murid.

Perjalanan belajar bersama anak-anak hebat dari Juli 2022 sampai Maret 2023 telah mentransformasi kelas 3 menjadi kelas yang lebih nyaman versi anak-anak. Selain melengkapi kelengkapan kelas, ada beberapa poin yang menjadi fokus dalam menata kelas 3, yaitu adanya :

1.       Kesepakatan Kelas yang dibuat guru dan murid pada awal tahun ajaran baru ditempel di dinding kelas dengan versi yang lebih menarik.

2.      Pohon cita-cita terdapat foto anak dan profesi mereka di masa depan.

3.      Pohon harapan berisi do’a orangtua yang ditulis sendiri oleh orangtua di selembar kertas berbentuk hati.

4.     Pojok baca dengan desain yang disesuaikan dengan lingkungan kelas (tidak bisa duduk dibawah karena kondisi lingkungan kelas yang banyak hewan melata) sehingga menggunakan tangga berbahan papan sebagai tempat duduk murid ketika membaca di pojok baca.

5.      Dinding literasi menggunakan spanduk bekas sebagai media untuk menempelkan berbagai informasi dan edukasi.

6.     Zonasi kehadiran murid yang setiap di pagi hari menjadi mainan pertama para murid karena mereka memasukkan sebuah stik yang berisi foto profesi mereka pada sebuah kantong yang terbuat dari bekas minuman bertuliskan Hadir, Izin, Sakit, dan Kemana ?? (artinya alpa).

7.      Stiker tinggi badan yang digunakan para murid untuk mengukur tinggi badannya setiap waktu sekaligus sambil belajar nama hewan dalam kosakata Bahasa Inggris.

8.     Beberapa perlengkapan kelas yang terbuat dari bahan bekas seperti Kotak P3K terbuat dari kotak sepatu bekas, kalender tahun 2023 yang berisi foto-foto kegiatan anak-anak kelas 3 di sekolah terbuat dari kalender bekas, dan sebagainya.

9.     Jadwal pelajaran, jadwal piket, struktur organisasi kelas, dan struktur organisasi PULAS-3 dibuat lebih menarik.

10.  Hiasan yang tergantung di langit-langit kelas berisi berbagai foto profesi masa depan para murid. Suasana kelas yang sejuk dan berangin membuat gantungan ini sering bergerak-gerak di langit kelas. Selain sebagai hiasan di kelas, ini juga menjadi media saya mengajak para murid merefleksi sejenak sambil memandang profesi di langit kelas.

11.    Karya-karya para murid yang ditempel pada dinding kelas dan di susun pada meja yang telah disediakan dalam kelas.

Transformasi kelas juga dilakukan 5 kelas lainnya di 33 MB. Bersama guru kelas dan PULAS (Paguyuban Kelas) masing-masing berupaya menata kelas lebih nyaman lagi agar proses belajar mengajar di kelas lebih nyaman. Menjadikan sekolah khususnya kelas sebagai tempat yang selalu dirindukan oleh warga sekolah.

Perubahan yang sedikit demi sedikit 33 MB lakukan dengan mendesain dan melaksanakan 4 program unggulan yang berpihak kepada murid di awal Juli 2022 lalu mulai PULAS (Paguyuban Kelas), NADI (Nabung Sejak Dini), SEMATA (Senyum Manis Kita), dan D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Program unggulan ke-5 33 MB yang bernama Operasi Semut juga mulai dilaksanakan pada awal tahun 2023 ini (semester genap). Program ini berfokus pada upaya sekolah menanamkan cinta lingkungan sedini mungkin yang dimulai dari lingkungan terdekat para murid dengan menjaga lingkungan dan alam sekolah. Beberapa kegiatan dalam Program Operasi Semut seperti pengadaan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah dan mencanangkan hari rabu sebagai HTS (Hari Tanpa Sampah) dengan membawa bekal makanan/minuman pada kotak bekal/botol minuman dari rumah sebagai usaha dalam menggalakkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Serta berkolaborasi dengan pihak lain khususnya yang berada dekat di lingkungan sekolah dalam edukasi tentang cinta lingkungan dan alam.

Pemerintah daerah Kabupaten Bangka dalam hal ini Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah pusat mengapresiasi gerakan perubahan yang telah dilakukan 33 MB dengan memberikan bantuan renovasi dua unit kelas kepada 33 MB di tahun 2023. Alhamdulillah… Satu dari dua kelas itu adalah kelas 3.

Tidak ada yang instan dalam proses belajar termasuk menata kelas ini. Tantangan pun tidak lepas dari usaha sekolah yang terus berupaya mendesain program positif berpihak kepada para murid. Tantangan terbesar adalah ketika melawan rasa ketidak percayaan diri sehingga selalu muncul pertanyaan : “Apakah bisa kita melakukan ini ?” Namun, 33 MB percaya waktu akan menjawabnya selama kita terus berkolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di daerah perbatasan kabupaten.

Sebagai seorang pendidik, saya meyakinkan para murid dengan semangat-semangat positif yang setiap waktu selalu disampaikan. Kebersamaan anak-anak bersama para orangtua menata kelas juga menjadi bukti bahwa proses belajar anak di sekolah juga menjadi bagian dari kolaborasi antara pihak sekolah dan keluarga.

Selanjutnya video Menata Kelas 3 dengan memanfaatkan aset sekolah tersedia di channel Youtube :

                            Kelas Impian versi anak-anak hebat Kelas 3 (Doc. Youtube Lisa Sya)

 

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

*Artikel ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/642199e1d3aa0f498642f512/menata-kelas-3-dengan-aset-yang-dimiliki-33-mb 

 

Selasa, 07 Februari 2023

D-Ka 33 MB Berbagi Paket Alat Tulis

 

Program D-Ka 33 MB Berbagi Paket Alat Tulis (Doc. Pribadi)

D-Ka (Dari Kita Untuk Kita) merupakan program sosial anak dan menjadi salah satu program unggulan UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB). Tujuan dari program yang berdampak pada murid ini adalah menanamkan sikap saling berbagi dan peduli kepada orang lain, mengajarkan anak untuk hidup sederhana, juga mendukung tumbuh kembang kemampuan kognitif serta fisik anak.

D-Ka perdana hadir di perayaan ulang tahun negara tercinta Republik Indonesia bulan Agustus 2022 lalu tepat satu hari sebelum perayaan HUT ke-77 RI (baca di sini). Saat itu D-Ka dilaksanakan dengan berbagi sembako. Sembako yang dikumpulkan para murid 33 MB dibagikan kepada 11 murid yang membutuhkan. Antusias para murid dan semangat para orangtua yang tergabung dalam PULAS (Paguyuban Kelas) membuat program D-Ka ini kembali menyelenggarakan kegiatan berbagi di tahun baru 2023. Berbeda dengan program D-Ka sebelumnya dengan berbagi sembako, D-Ka kali ini berbagi paket alat tulis dalam rangka menyambut tahun pelajaran 2022/2023 semester genap.

Teknis pelaksanaan sama dengan D-Ka sebelumnya, para murid 33 MB secara sukarela menyumbangkan alat tulis baru yang mereka miliki. Alat tulis dapat berupa buku tulis, buku gambar, pulpen, pensil, penghapus, penggaris, dan/atau alat tulis lainnya. Semua alat tulis yang dikumpulkan para murid dibagi menjadi beberapa paket alat tulis. Semua proses ini dilakukan sendiri oleh para murid dan peran guru memantau agar kegiatan dapat terlaksana semestinya. Selain itu, peran Komite PULAS (Paguyuban Kelas) 33 MB juga sangat penting dalam program ini. Ketua PULAS yang tergabung dalam Komite PULAS 33 MB menentukan anak-anak yang berhak menerima paket alat tulis dan dari 6 kelas ada 22 murid yang menerima paket alat tulis.

Hari ini, Selasa / 07 Februari 2023 paket alat tulis dibagikan kepada 22 murid yang membutuhkan. Hal menarik yang ditemui dalam kegiatan hari ini adalah antusias para murid lain dalam membagikan paket alat tulis kepada teman-temannya. Pendidikan sejatinya tidak hanya berfokus pada mengajarkan materi pelajaran saja, namun menguatkan karakter positif seperti sikap peduli dan empati yang telah tumbuh dalam pribadi anak juga menjadi bagian terpenting untuk kehidupan mereka nantinya.

Selanjutnya Program D-Ka akan terus dilaksanakan di 33 MB dalam moment perayaan agama, hari nasional atau perayaan lainnya. Kemudian orangtua dalam PULAS juga dilibatkan untuk menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan dan target penerima D-Ka ini karena pendidikan karakter akan tercapai maksimal dengan melibatkan semua pihak termasuk kolaborasi antara sekolah dan para orangtua.

Terima kasih untuk seluruh anak hebat 33 MB juga para orangtua yang selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah terutama kegiatan yang berpusat kepada anak.

Mari..dukung program D-Ka (Dari Kita Untuk Kita) 33 MB. Harapan 33 MB kepada seluruh murid dengan adanya program ini menumbuhkan sikap saling berbagi dan peduli sesama mulai dari hal kecil dan lingkungan sekitar kita.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia..

 

*Artikel ini telah tayang di Kompasiana dengan link :

https://www.kompasiana.com/lisasya/63e2631c936a2d7cde6b78a2/d-ka-33-mb-berbagi-paket-alat-tulis

Selasa, 06 Desember 2022

Kumpulan Aksi Nyata CGP Desa Air Buluh Kab. Bangka

 

Kumpulan Aksi Nyata CGP A.5 (Doc. Pribadi)

Desember pun tiba, tidak terasa telah memasuki bulan ke-8 dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5. Walaupun sempat terhenti sejenak karena peralihan kepemimpinan ke Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) dan Balai Guru Penggerak (BGP) provinsi, tidak menyurutkan semangat para Calon Guru Penggerak (CGP) dalam mengikuti pendidikan ini hingga selesai. Berakhirnya materi / modul yang tersedia di Learning Managmenet System (LMS) beriringan dengan munculnya tampilan dashboard para CGP yang menujukkan rata-rata di atas angka 95 %. Untuk menuju ke angka 100% masih tersisa Lokakarya 6 dan Lokakarya 7.

Materi Pendidikan Guru Penggerak disajikan dalam 10 modul dengan durasi waktu 6 bulan. Pembelajaran daring yang di desain dengan menggunakan alur belajar MERRDEKA sendiri terdiri dari : M (Mulai dari diri), E (Eksplorasi konsep), R (Ruang kolaborasi), R (Refleksi terbimbing), D (Demonstrasi kontekstual), E (Elaborasi pemahaman), K (Koneksi antar materi), dan A (Aksi nyata). Pada artikel sebelumnya, saya pernah menuliskan salah satu alur MERRDEKA yaitu, Ruang Kolaborasi (tersedia di sini). Artikel saya kali ini membahas mengenai tahapan terakhir pada alur MERRDEKA, yaitu Aksi Nyata.

Aksi nyata memberikan ruang pada CGP menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Aksi nyata dimaksudkan sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan karena dapat mengambarkan sebuah kesatuan antara proses pembelajaran dan implementasinya. Dalam harapannya, aksi nyata perlu dijalankan secara terus menerus bahkan hingga Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) telah diselesaikan.

Tidak mudah bagi saya menyelesaikan program PGP ini, bahkan saat pertama kali memulainya banyak muncul rasa khawatir yang tak terbendungkan. Salah satunya ketika pendidikan ini dimulai, saya dipindah tugas ke sekolah baru. Bukan hanya sekolah baru, namun lingkungan dan daerah pun baru. UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat (biasa kami sebut 33 MB) merupakan sekolah kecil yang terletak di Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Sebuah sekolah yang berbatasan langsung dengan Desa Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah. Desa Air Buluh berjarak hampir 60 KM dari ibukota kabupaten, Kota Sungailiat tempat tinggal saya. Jika para pembaca mengikuti artikel yang sering saya tulis sebelumnya, perjalanan menuju sekolah ini harus saya tempuh dengan waktu 1,5 jam dengan kendaraan roda dua. Alhamdulillah akses jalan lumayan baik, sehingga saya pun dengan lancar melakukan perjalanan pergi dan pulang sekolah setiap harinya.

Bagi saya, aksi nyata yang telah dilakukan ini bukan hanya sekedar tagihan tugas semata. Namun, selalu menjadi bagian terpenting dalam evaluasi dan refleksi dari proses pembelajaran yang terus saya lakukan. Saya sadar betul bahwa semua yang telah dilakukan ini masih jauh dari kata sempurna, namun harapan untuk terus membenah diri menjadi lebih baik dari hari kemarin bagian dalam tujuan yang tidak akan pernah putus. Bersama orang-orang hebat yang setiap waktu memberikan dukungan, motivasi, dan menginspirasi saya, alhamdulillah saksi nyata semua modul di pendidikan ini telah selesai.

Berikut ini adalah kumpulan aksi nyata dari proses pembelajaran yang telah saya dapatkan pada PGP dan perlahan telah diimpelementasikan di 33 MB :

Aksi Nyata 1 (Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara). Mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pengembangan karakter. Hasil aksi nyata 1 tersedia di Aksi Nyata 1.1.

Aksi Nyata 2 (Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak). Melakukan proses pengembangan diri untuk menguatkan nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Hasil aksi nyata 2 tersedia dalam channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 3 (Modul 1.3 Visi Guru Penggerak). Menjalankan rencana manajemen prakarsa perubahan BAGJA yang telah dibuat. Hasil aksi nyata 3 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 4 (Modul 1.4 Budaya Positif). Menyampaikan pembelajaran dari penerapan dan pemahaman mengenai konsep-konsep inti dari modul budaya positif dengan membuat webinar kecil berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat. Hasil aksi nyata 4 terdiri dari 2 bagian dan tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 1 (Doc. Pribadi)

Video Aksi Nyata Modul 1.4 Part 2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 5 (Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid melalui Pembelajaran Berdiferensiasi). Mendesain, mempraktikkan dan melakukan refleksi terhadap implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Hasil aksi nyata 5 tersedia di Aksi Nyata 2.1.

Aksi Nyata 6 (Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional). Membagikan pemahaman tentang implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) dengan 4 indikator, yaitu pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan sekolah, dan penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) pendidikn dan tenaga kependidikan di sekolah serta merefleksikannya. Hasil aksi nyata tersedia di Aksi Nyata 2.2.

Aksi Nyata 7 (Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik). Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik dalam pembelajaran dengan menggunakan paradigma berpikir coaching. Aksi nyata 7 tersedia  di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 2.3 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 8 (Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin). Mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah. Hasil aksi nyata 8 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.1 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 9 (Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya). Mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah. Hasil aksi nyata 9 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.2 (Doc. Pribadi)

Aksi Nyata 10 (Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Bedampak Positif pada Murid). Menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) dan A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual. Adapun hasil aksi nyata 10 tersedia di channel youtube : 

Video Aksi Nyata Modul 3.3 (Doc. Pribadi)

Rasa khawatir di awal pendidikan kian sirna seiring berjalannya waktu. Hal ini tidak lepas dari dukungan semua pihak yang turut membantu proses perjuangan ini. Terima kasih saya haturkan untuk 33 MB (Bapak Soleh, S.Pd.I selaku kepala sekolah, rekan-rekan sejawat, pengawas sekolah, para murid hebat 33 MB, dan orangtua), KKG gugus IV Prasasti Kotakapur, komunitas praktisi lainnya di Mendo Barat dan Kabupaten Bangka, serta rekan-rekan seperjuangan di PGP Angkatan 5 Kabupaten Bangka. Pastinya juga untuk keluarga tercinta yang tak pernah henti mendukung tiap jengkal perjuangan ini.

Terima kasih juga untuk fasilitator, Bapak Muhari, S.Pd., M.Pd., dan pengajar praktik, Bapak Selamet Simbolon, S.Pd atas bimbingan dan dukungannya kepada saya selama Program Pendidikan Guru Penggerak ini. Terakhir..terima kasih saya ucapkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam rangkaian aksi nyata pada PGP yang telah terlaksana. Harapan terbesar saya semoga aksi nyata yang telah dilakukan dan berjalan tidak berhenti sampai disini saja, namun terus berproses setiap waktunya sebagai bagian dari transformasi pendidikan di daerah saya khususnya di lingkungan 33 MB.

Sekian dari saya. Semangat belajar untuk kita semua.

Salam dan bahagia..

*Artikel juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/638ff8134addee5b547dc7e3/kumpulan-aksi-nyata-cgp-desa-air-buluh-kab-bangka 

Kumpulan Jurnal Refleksi CGP Desa Air Buluh Kab. Bangka

 

Kumpulan Jurnal Refleksi (Doc. Pribadi)

Bagian akhir dari semua modul pada Pendidikan Guru Penggerak (PGP) adalah menuliskan jurnal refleksi. Selama program PGP, Calon Guru Penggerak (CGP) mendapat kesempatan untuk menuliskan refleksi setiap dua minggu sekali (lebih dikenal jurnal refleksi dwi mingguan). Tidak hanya dalam Pendidikan Guru Penggerak, dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Menulis jurnal refleksi juga bagian dari keterampilan menulis kita sebagai seorang guru. Sehingga untuk mengasah keterampilan menulis jurnal refleksi pun perlu latihan dan pembiasaan agar nanti dapat dirasakan manfaatnya. Pada awalnya, mungkin tidak mudah untuk menuangkan gagasan reflektif ke dalam bentuk tulisan, namun kita dapat menggunakan beberapa model jurnal refleksi yang telah disediakan sebagai panduan dalam mencurahkan isi pikiran dan perasaan kita. Ada beberapa model jurnal refleksi yang dapat digunakan sebagai pilihan kita dalam memuliskan jurnal refleksi.

Sebagai penyempurna dari siklus pembelajaran MERRDEKA yang telah diselesaikan pada LMS (Learning Management System), bagian akhir selalu ditutup dengan sebuah jurnal refleksi. Memasuki bulan ke-8 pada PGP ini, saya telah menuliskan 10 jurnal refleksi sebagai akhir dari selesainya semua modul. Berikut ini jurnal refleksi saya selama mengikuti PGP dalam waktu hampir 8 bulan ini :

Jurnal Refleksi minggu ke-2 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-1

Jurnal Refleksi minggu ke-4 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-2

Jurnal Refleksi minggu ke-6 tersedia di  Jurnal Refleksi Ke-3  

Jurnal Refleksi minggu ke-8 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-4

Jurnal Refleksi minggu ke-10 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-5

Jurnal Refleksi minggu ke-12 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-6

Jurnal Refleksi minggu ke-14 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-7 

Jurnal Refleksi minggu ke-16 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-8

Jurnal Refleksi minggu ke-18 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-9 

Jurnal Refleksi minggu ke-20 tersedia di Jurnal Refleksi Ke-10

Hal yang baik yang saya dapatkan dari menulis jurnal refleksi adalah saya mulai terbiasa merefleksi dari rangkaian kegiatan yang telah saya lakukan dalam periode waktu tertentu. Saat menulis jurnal refleksi juga, terlihat pula bagian mana yang perlu perbaikan dan pengembangan lebih lanjut pada proses perencanaan di masa datang. Selain itu, praktik baik yang tumbuh akan terus dilanjutkan dengan harapan menjadi budaya positif dalam pribadi setiap subjek baik itu di dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah.

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 06 Desember 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Sabtu, 03 Desember 2022

Jurnal Refleksi Ke-10

 

Jurnal Refleksi Ke-10 (Doc. Pribadi)

Jurnal Refleksi Ke-10 (Minggu ke-20) pada Pendidikan Guru Penggerak tentang Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif Kepada Murid.

Tiba akhirnya pada penghunjung jurnal refleksi di minggu ke-20 Pendidikan Guru Penggerak ini. Sedikit flashback, beberapa jurnal refleksi pada modul-modul terakhir melewati waktu yang ditentukan dalam jadwal LMS, namun ini tidak terlepas dari pertimbangan saya untuk menyelesaikan alur MERRDEKA sampai bagian Aksi nyata. Sehingga jurnal refleksi saya tulis ketika satu modul penuh telah diselesaikan agar semua yang dikerjakan dalam alur MERRDEKA dapat diceritakan dalam rangkaian yang utuh.

Tidak ada model khusus dalam jurnal refleksi pada modul terakhir ini karena saya ingin menceritakan secara menyeluruh bagaimana hingga akhirnya program Operasi Semut ini menjadi pilihan bersama dari warga sekolah.

Program operasi semut sebenarnya adalah program awal saya ketika pertama kali dipindah tugaskan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat bulan Mei 2022 lalu. Adapun kegiatan dalam operasi semut ini lebih berfokus kepada kebersihan lingkungan bersama para murid karena keprihatinan saya terhadap lingkungan sekolah yang setiap harinya penuh dengan sampah terutama sampah an-organik. Tidak tersedianya tempat sampah yang memadai dan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah menyebabkan sampah tidak punya tempat penampungan akhir, ditambah kebiasaan para murid setelah mengkonsumsi makanan dari kantin yang menghasilkan sampah plastik menyebabkan susahnya mengendalikan banyaknya sampah. Berangkat dari menjaga kebersihan sekolah dari sampah plastik inilah, asal mula operasi semut.

Setelah melalui proses observasi dan evaluasi selama satu bulan, awal semester ganjil di tahun pelajaran 2022/2023 saya mulai menerapkan cinta kebersihan dalam kelas yang saya ampuh, yaitu kelas 3. Kesepakatan kelas yang dibuat bersama anak-anak kelas 3 dengan dua poin yang mendukung sekolah ramah lingkungan, yaitu menjaga kebersihan dan bawa bekal dari rumah menjadi awal dari wujud nyata program sekolah yang ramah lingkungan. Setelah beberapa bulan terlaksana di kelas 3, akhir Oktober lalu mulailah Operasi Semut merambah ke lingkungan yang lebih luas dari kelas, yaitu sekolah.

Pertemuan bersama kepala sekolah dan rekan sejawat mendiskusikan aset/potensi sekolah menjadi awal saya dalam mengidentifikasi harapan dari rekan-rekan sejawat dalam kebersihan dengan meminimalisir sampah yang ada di sekolah. Kemudian berlanjut pada pertemuan bersama ketua dan pengurus Komite sekolah yang mewakili PULAS (Paguyuban Kelas) dalam rapat rutin setiap bulannya. Pertemuan di awal bulan November lalu, menjadi momen saya untuk menanyakan pendapat/pandangan orangtua tentang kondisi lingkungan sekolah yang lebih bersih dan membuat kegiatan-kegiatan sekolah yang ramah lingkungan. Dalam pertemuan ini, ketua dan pengurus Komite sekolah sepakat untuk membangun TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di sekolah dengan uang yang terkumpul dari kegiatan Jum’at Amal. Mengingat jumlah uang yang terkumpul dalam kegiatan Jum’at Amal terbaras, mereka pun bersedia secara swadaya membangun TPS di sekolah untuk menekan penggunaan uang jika harus dikerjakan oleh tukang bangunan. Masyaallah…

Dialog bersama murid menjadi bagian penting karena merekalah objek terpenting dari perencanaan dan pelaksanaan program sekolah. Saya melakukan tanya jawab baik secara individu atau kelompok kecil dengan murid kelas 1 sampai kelas 3 mengenai kegiatan mereka yang mempresentasikan sekolah ramah lingkungan. Saya juga melakukan dialog terbuka bersama perwakilan murid kelas 4 sampai kelas 5 dan diskusi bersama murid di kelas 5 juga bersama guru kelasnya membahas tentang sekolah yang ramah lingkungan.

Hal menarik yang saya dapatkan ketika dialog bersama murid bahwa selama ini kebersihan lingkungan yang mereka lakukan hanya berfokus pada membersihkan sampah di kelas dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan yang bersifat meminimalisir jumlah sampah tidak pernah dilakukan oleh mereka. Bahkan beberapa murid berharap ada kegiatan sekolah yang mendukung agar berkurangnya sampah di sekolah. Aspek suara dan pilihan para murid ini melahirkan sebuah program sekolah yang berdampak positif kepada murid. Walaupun nama operasi semut sendiri bukanlah berasal dari mereka sendiri, namun inspirasi dari nama program ini kenyataannya terinpirasi dari kegiatan gotong royong yang sering mereka lakukan dalam membersihkan lingkungan sekolah.

Suara dan pilihan murid membawa saya bersama mereka mendesain kegiatan-kegiatan dalam program operasi semut, banyak diantaranya yang telah dilakukan di kelas 3. Mulai dari  membuat kesepakatan kelas yang salah satu poin mendukung kebersihan lingkungan sekolah, satu hari dalam seminggu bebas dari sampah plastik (Hari Bebas Plastik/HBS) dengan membawa bekal bersama (Rakel/Rabu nge-beKel), dan kegiatan lainnya yang menjadi ide/gagasan (suara) dari mereka.

Setelah program ini di desain bersama warga sekolah khususnya para murid, bagian selanjutnya adalah mulai menerapkan di lingkungan sekolah. Ada beberapa kegiatan yang telah dimulai dan ada beberapa juga yang akan dimulai pada awal semester genap Januari 2023 nanti.

Semoga dengan adanya program ini dapat mewujudkan sekolah yang ramah lingkungan dan menjadi bagian dari kepemimpinan murid sebagai bentuk nyata program positif yang berdampak bagi mereka.

Mari semua warga 33 MB..lanjutkan Program Operasi Semut yang telah didesain bersama para anak-anak hebat 33 MB. Maknai proses ini sebagai bagian dari sejarah pada zaman kalian nantinya. Semangat….

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 03 Desember 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Kamis, 01 Desember 2022

Jurnal Refleksi Ke-9

 

Jurnal Refleksi Ke-9 (Doc. Pribadi)

Jurnal Refleksi Ke-9 (Minggu ke-18) pada Pendidikan Guru Penggerak tentang Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Mendekati akhir dari modul dalam Pendidikan Guru Penggerak ini, jurnal refleksi semakin mendalam menelaah semua materi maupun aspek yang telah di ditemui. Mulai dari alur MERRDEKA yang rutin di akses oleh para CGP, adapun salah satu alurnya yaitu Ruang Kolaborasi membangun kerjasama dengan para CGP lainnya dalam bimbingan fasilitator. Selain itu, pendampingan individu bersama pengajar praktik membuat para CGP mendapatkan bimbingan yang terarah dalam membangun dan mengembangkan potensi maupun kemampuan diri untuk lebih siap mengaplikasikan praktik-praktik baik di lingkungan sekolah dan komunitas praktisi lainnya. Terakhir pada lokakarya bersama para pengajar praktik dan CGP lainnya membangun kolaborasi lebih luas dan saling berbagi praktik baik/ide baru untuk program yang berkelanjutan.

Sama hal dengan jurnal refleksi pada modul sebelumnya, jurnal refleksi kali ini menjadi bagian penting dalam pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-18 (jurnal refleksi ke-9), saya menggunakan model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing). Menurut Bain, dkk : 2022 (dalam Ryan & Ryan : 2013), adapun 5R terdiri dari langkah-langkah :

1.   Reporting (mendeskripsikan). Menceritakan ulang peristiwa yang terjadi.

2.   Responding (Merespon). Menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, atau tindakan yang diambil saat peristiwa berlangsung.

3.   Relating (Mengaitkan). Menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengetahuan, keterampilan, keyakinan, atau informasi lain yang dimiliki.

4.   Reasoning (Menganalisis). Menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, lalu  mengambil beberapa perspektif lain, misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupa untuk mendukung analisis tersebut.

5.   Reconstructing (Merancang ulang). Menuliskan rencana alternatif jika menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

 

Adapun hasil refleksi saya setelah mempelajari Modul 3.2 adalah :

Reporting. Melalui penerapan pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset-based approach), seorang pemimpin di sekolah dapat mengajak warga sekolah memetakan aset/potensi yang dimiliki sekolah dalam mewujudkan ekosistem sekolah yang berpusat kepada kebutuhan murid. Proses identifikasi dan pemetaan potensi sekolah diharapkan dapat menjadi sumber kekuatan sekolah dalam mewadahi semua semangat, dukungan, dan apresiasi yang bersumber dari warga sekolah.

Responding. Sebagai pemimpin di sekolah, dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah dapat dilakukan komunikasi dengan para warga sekolah. Komunikasi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Jika dilakukan secara langsung ,maka akan ada pertemuan tatap muka dan dialog terbuka dengan warga sekolah. Jika dilakukan secara tidak langsung, maka akan menggunakan media lain yang bersifat offline. Dapat dengan menggunakan angket atau pengisian google form. Proses pemetaan aset/potensi 33 MB dilakukan secara langsung (pertemuan dan dialog) dengan warga sekolah. Pertemuan pertama bersama kepala sekolah dan rekan sejawat di sekolah, pertemuan kedua bersama perwakilan PULAS/Paguyuban Kelas yang diwakili oleh KOMITE sekolah, dan pertemuan ketiga bersama perwakilan murid kelas 4, 5, dan 6. Pertemuan antara rekan sejawat, orangtua, dan para murid dilakukan terpisah untuk memberikan keluasan dan keterbukaan semua pihak dalam mengungkapkan ide/gagasannya tanpa ada yang mendominasi. Adapun harapan dari pertemuan dan dialog ini, sekolah dapat mengetahui dengan pasti apa yang diharapkan semua pihak di sekolah (terutama murid) dalam proses pembelajaran di sekolah.

 

Relating. Pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset-based approach) mampu mengsugesti kita secara sadar untuk berpikir positif dalam kehidupan karena kita diajak menjadi lebih fokus pada hal-hal yang telah ada dan sedang berjalan dengan baik di lingkungan, sehingga itu menjadi sumber motivasi juga inspirasi kita serta lingkungan sekitar untuk terus menata kehidupan yang lebih baik demi anak-anak hebat bangsa di 33 MB.

 

Reasoning. Identifikasi dan pemetaan aset/potensi sekolah membawa kita pada tujuan penting pada program sekolah yang berpusat kepada murid. Sehingga peran pemimpin dalam mengajak warga sekolah memetakan aset/potensi harus menjadi agenda wajib yang tak bisa terlewatkan.

 

Reconstructing. Terus berfokus pada aset/potensi yang dimiliki sekolah dalam membangun ekosistem seolah yang berpihak kepada murid dengan mengajak warga sekolah memetakan aset/potensi sekolah secara bersama-sama sebagai sumber kekuatan yang berkelanjutan.

 

Bukan hal yang mudah untuk duduk bersama, berdiskusi bersama, dan berbicara dari hati ke hati di tengah banyaknya perbedaan pandangan, pendapat, dan ide. Namun, tidak ada yang tidak mungkin selama kita terus mencoba hal-hal terbaik yang dapat dilakukan demi anak-anak bangsa. Sekolah kecil yang terletak di ujung Kabupaten Bangka ini, UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat telah membuktikan itu. Kami duduk bersama, berpikir terbuka, dan menyatukan pandangan dalam memetakan aset sekolah demi merencanakan program-program sekolah yang berpihak kepada murid.

Mari..terus jaga dan kembangkan potensi/aset yang dimiliki sekolah dengan kolaborasi bersama untuk mewujudkan Merdeka Belajari di 33 MB.

Desain Jurnal Refleksi Ke-9 tersedia di : https://drive.google.com/file/d/1eOu--Qf83rh6HsdjzFRVstT5BF7zw7I1/view?usp=share_link

Semoga jurnal refleksi ini bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 02 Desember 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...