Tampilkan postingan dengan label pembelajaranberdiferensiasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembelajaranberdiferensiasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 November 2023

Berbagi Praktik Baik Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi

 

NSBPB (Narasumber Berbagi Praktik Baik) merupakan salah satu dari 6 dukungan Kemendikbudristek bagi satuan pendidikan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka jalur Mandiri. NSBPB adalah para guru/tutor/pendidik lainnya atau kepala sekolah/satuan pendidikan yang telah memiliki praktik baik terkait implementasi Kurikulum Merdeka maupun prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Kesempatan menjadi Narasumber Berbagi Praktik Baik membawa saya pada banyak momen yang tidak akan dapat terlupa. Bertemu banyak orang dalam berbagi praktik baik semakin menguatkan saya bahwa dengan berbagi praktik lain langsung selain menguatkan refleksi kita namun, dapat memberikan referensi praktik baik terutama dalam proses pembelajaran kepada para pendidik. Salah satu kesempatan itu ketika saya diberi kesempatan untuk memenuhi undangan BGP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai fasilitator dalam kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi bagi Guru Jenjang Sekolah Dasar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 20 sampai 23 Oktober 2023 lalu bertempat di Hotel Santika Bangka Tengah.

Pelatihan dan Pendampingan yang berlangsung selama 4 hari ini merupakan bagian dari bentuk dukungan BGP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk memperkuat pemahaman para guru jenjang Sekolah Dasar dalam menerapkan pembelajaran berdirefensiasi. BGP Provinsi Kepualauan Bangka Belitung dalam kegiatan ini berkolaborasi dengan BGP Provinsi Jambi. Ibu Nenden dan Ibu Rosi berasal dari BGP Provinsi Jambi menjadi narasumber dalam pengembangan modul ajarnya.  Selain itu, hadir pula NSBPB dari Bangka Selatan, Ibu Wistri sebagai patner saya dalam berbagi praktik baik penerapan pembelajaran berdiferensiasi.

Selama 4 hari, 48 peserta guru muda jenjang SD yang berasal dari 7 Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendapatkan materi dari narasumber terkait dengan refleksi bersama proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, mengapa pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan dalam proses pembelajaran, penguatan pemahaman tentang pentingnya memetakan  kebutuhan belajar murid, dan merancang modul ajar pembelajaran berdiferensiasi. Setelah itu, para peserta bersama fasilitator mempersiapkan modul ajar yang telah dirancang sesuai dengan kebutuhan sekolahnya masing-masing. Sesi terakhirnya para peserta melakukan simulasi mengajar untuk mempraktikkan modul ajar yang telah dirancang pada sesi sebelumnya.

Sebagai fasilitator dalam kegiatan ini, pada awal pertamuan saya mendapat banyak kesempatan mendengarkan pengalaman para guru dari berbagai wilayah di Bangka Belitung pada setiap sesinya. Termasuk pada bagian refleksi awal, ketika seorang guru yang menceritakan jarak tempuh 90 KM untuk menuju ke sekolah. Selain itu, guru lain menceritakan harus tetap fokus dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik namun, diberi amanah sebagai bendahara sekolah serta tugas penting lainnya di dalam maupun luar sekolah. Hal ini membuatnya mengalami kesulitan dalam mengatur waktu. Banyak lagi pengalaman yang saya dengarkan pada sesi refleksi awal ini.

Keterlibaran para guru dalam kegiatan selanjutnya juga sungguh luar biasa. Salah satunya ketika para guru mempersiapkan rancangan modul ajar untuk dipraktikkan di akhir pertemuan (sesi simulasi mengajar). Keaktifan peserta dalam tanya jawab dan diskusi terjadi sepanjang kegiatan berlangsung. Termasuk miss konsepsi penerapan pembelajaran berdiferensiasi yang terjadi di sekolah. Sehingga untuk memecahkan miss konsepsi ini saya mengajak para peserta untuk kembali lagi pada hakikat belajar. Proses belajar tidak dapat berlangsung dalam waktu yang singkat dan satu-dua kali pertemuan saja. Proses belajar yang beriringan dengan refleksi akan membawa pada perencanaan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya. Jika bagian ini terlewatkan maka, dipastikan miss konsepsi itu akan terus terjadi.

Waktu kegiatan yang berlangsung selama 4 hari dengan jumlah peserta yang terbatas membuat saya sebagai fasilitator punya kesempatan lebih untuk mengenal para peserta termasuk beberapa peserta yang mendominiasi dalam mengeluarkan pendapatnya. Saya juga memberikan dukungan semangat kepada para peserta yang kurang aktif mengeluarkan pendapatnya menggunakan media online (aplikasi padlet). Dalam suatu kesempatan saya menampilkan pendapat peserta yang telah ditulis pada link padlet. Beberapa peserta saya berikan kesempatan untuk membaca tulisannya sendiri dan menceritakan hal lainnya sebagai penguatan kondisi tersebut. Dari hal  ini, memberikan pemahaman baru untuk saya bahwa semua orang dapat menceritakan pengalamannya dengan berbagai media maupun cara yang nyaman untuknya. Ada yang langsung menceritakan di depan banyak orang dan ada juga dalam bentuk tulisan pada berbagai media yang tersedia. Pastinya sebagai fasilitator, saya harus menghargai itu sebagai bentuk keberagaman dalam berpendapat. Saya juga memberikan kesempatan para peserta berbagi peran dalam kelompoknya saat sesi simulasi mengajar. Ada peserta yang bertindak sebagai guru yang melakukan simulasi mengajar, MC, dokumentasi, dan asesor. Sehingga semua peran diharapkan dapat mengakomodir keberagaman para peserta.

Tantangan yang saya hadapi dan juga menjadi bahan refleksi saya ketika banyak peserta yang menyampaikan bahwa waktu yang diberikan untuk kegiatan ini tidak cukup. Banyak dari guru baru kali pertama dilibatkan dalam pelatihan Kurikulum Merdeka. Padahal saat ini banyak tersedia pelatihan untuk mengenal dan mempelajari Kurikulum Merdeka yang tersedia secara daring. Namun, itu belum terbiasa untuk para guru lakukan. Refleksi lain ketika para guru yang belum memiliki modal cukup untuk prinsip-prinsip penerapan Kurikulum Merdeka sehingga, banyak materi dasar yang harus saya sampaikan pada kegiatan ini.

Pengalaman berbagi ini menjadi momen berharga karena saya pun belajar banyak hal dari mendengarkan cerita/pengalaman dari guru lain sebagai bahan refleksi saya untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Semangat belajar untuk kita semua..

Salam dan Bahagia..

Senin, 28 November 2022

MB bawa pulang 7 trofi di peringatan HGN Tk. Kabupaten

Peringatan HGN Tahun 2022 di Kabupaten Bangka (Doc. Pribadi)


Satu hari sebelum puncak peringatan Hari Guru Nasional, saya mendapatkan surat undangan untuk mengikuti upacara HUT PGRI dan KORPRI di Kabupaten Bangka. Surat undangan ini saya terima dari salah seorang guru di Kecamatan Mendo Barat yang sedari awal banyak membantu saya memberikan informasi dalam lomba penulisan artikel baik di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Tepat di peringatan Hari Guru Nasional Jum’at / 25 November 2022 lalu, saya mengikuti upacara bendera di SMA Negeri 1 Mendo Barat dengan jarak kurang lebih 36 KM, hari ini upacara bendera di halaman kantor bupati Bangka hanya saya tempuh kurang lebih 2 KM saja.  Sungguh..sensasi upacara yang berbeda, namun penuh dengan cerita.

Bertindak sebagai pembina upacara Bupati Bangka, Bapak Mulkan, S.H., M.H. Pada amanat upacara bendera peringatan HUT ke-77 PGRI dan ke-51 KORPRI, bapak bupati membacakan dua naskah pidato. Naskah pidato pertama dari Menteri Kemdikbudristek, Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A sebagai peringatan HUT ke-77 PGRI dan Hari Guru Nasional. Naskah pidato kedua dari Ketua Umum Pengurus KORPRI Nasional, Bapak Prof. Dr. Zudan Arid Fakrullah, S.H., M.H sebagai peringatan HUT ke-51 KORPRI .

Hadir sebagai peserta upacara adalah seluruh guru, pemimpin, dan praktisi pendidikan, serta para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka. Walaupun matahari pagi ini terasa sedikit menyengat, namun tidak mengurangi rasa bahagia bisa hadir dalam acara peringatan HUT PGRI dan KORPRI tahun 2022. Setelah upacara bendera, pemotongan tumpeng yang bertema HUT ke-77 PGRI oleh bapak bupati kemudian diberikan kepada perwakilan guru yang memasuki purnabakti. Acara selanjutnya adalah pemberian tali kasih kepada perwakilan anggota KORPRI di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka yang memasuki purnabakti pada tahun 2022. Dari informasi yang saya terima, pada tahun 2022 ini ada 166 orang PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka yang memasuki purnabakti, 113 orang diantaranya merupakan PNS guru dan pengawas.

Hadir juga diantaranya Bapak Teguh Supriadi, S.Pd, Bapak Tri Gunawan, S.Pd, dan Bapak Gandung Suwardi, A.Md yang bulan Oktober lalu di Gugus IV Prasasti Kotakapur telah memasuki masa purnabakti (link artikel tersedia di: https://www.kompasiana.com/lisasya/6339c7fd5cc80449520cacf2/purnabakti-di-gugus-iv-mb dan Jum’at lalu juga mengikuti upacara bendera dalam peringatan Hari Guru Nasional di Kecamatan Mendo Barat (link artikel tersedia di: https://www.kompasiana.com/lisasya/63822cb34addee342d7e9603/kue-hgn-paling-berharga ).

Artikel dengan judul yang sama ketika mengikuti lomba menulis artikel non penelitian di tingkat Kecamatan Mendo Barat, membawa saya menjadi Juara 2 di tingkat Kabupaten Bangka. Artikel ini terinspirasi dari pembelajaran berdiferensiasi yang perlahan mulai saya lakukan pada kelas 3 di 33 MB. Walaupun dalam proses yang dilakukan masih banyak kekurangan, namun mencoba memulai perubahan dalam proses pembelajaran menjadi tanggung jawab kita bersama dalam menuntun para murid kita untuk tumbuh dan berkembang di zamannya dengan potensi/kekuatan yang dimiliki. Seperti potongan kalimat mas menteri dalam naskah pidato yang dibacakan oleh semua pembina upacara pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 2022, “Memang, pada dasarnya tidak ada perubahan yang membuat kita nyaman. Jika masih nyaman, itu artinya kita tidak berubah.”

Peringatan HUT ke-77 PGRI dan HGN tahun 2022 ini juga terasa spesial karena PGRI cabang Kecamatan Mendo Barat membawa pulang 7 trofi dari berbagai lomba HUT PGRI yang diselenggarkan pada tingkat kabupaten. Juara 2 SKJ PGRI, juara 2 Volly Putra, juara 3 Paduan Suara, dan juara 3 masak lempah kuning (makanan khas Bangka). Selain itu, 3 trofi lainnya dari lomba menulis artikel non penelitian, juara 2 tingkat SD, juara 1 tingkat SMP dan SMA.

Terima kasih untuk seluruh pihak yang terus menginspirasi saya dalam menulis. Terkhusus 33 MB mulai dari kepala sekolah, rekan-rekan sejawat, dan para murid hebatnya. Terima kasih juga untuk rekan-rekan seperjuangan di Kecamatan Mendo Barat dan Kabupaten Bangka.

Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh pejuang pendidikan. Secanggih apapun dunia…peran GURU tak akan pernah tergantikan. Mari..tinggalkan kisah perjuangan kita dalam sebuah tulisan.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

*Artikel ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/6384707f08a8b5686b0416a4/mb-bawa-pulang-7-trofi-di-peringatan-hgn-tk-kabupaten

 


Selasa, 11 Oktober 2022

Jurnal Refleksi Ke-6

 

Jurnal Refleksi Ke-6 (Doc. Pribadi)


Tidak terasa telah memasuki Jurnal Refleksi ke-6 (Minggu ke-12) pada Pendidikan Guru Penggerak.

Berikut ini Jurnal Refleksi untuk minggu ke-12 (jurnal refleksi ke-6) Modul 2.2 “Pembelajaran Sosial dan Emosional”.

Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-12 (jurnal refleksi ke-6) ini, saya menggunakan model Papan Cerita Reflektif (Reflective Storyboard). Model ini terdiri dari beberapa gambar bersambung yang mengilustrasikan refleksi yang dialami. Kemudian setiap gambar juga disertai penjelasan singkat.

 Adapun hasil refleksi saya setelah mempelajari Modul 2.2 ini :

Gambar 1. Moment awal yang penting pada modul 2.2 ini adalah pada saat Ruang Kolaborasi bersama rekan-rekan CGP lainnya dan juga fasilitator. Adapun materi yang dibahas adalah ide-ide program penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) di lingkungan sekolah. Saya bersama dua rekan CGP lainnya dalam kelompok kami membahas tentang ide mengimpelentasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) pada jenjang SD. Saya mendapatkan beberapa praktik baik implementasi PSE pada ruang diskusi ini. Kemudian kami mempresentasikan hasil kelompok dan saling membagikan praktik baik dalam mengimpelementasi KSE.  Ada beberapa penerapan KSE yang sebenarnya pernah bahkan sering saya terapkan dalam proses pembelajaran seperti Kesadaran Diri (Temukan Zonamu yang biasanya diterapkan sebelum mulai Kegiatan Belajar Mengajar, Ice Breaking diterapkan untuk memusatkan perhatian murid sebelum memulai proses pembelajaran, dan Restitusi yang telah dipelajari pada modul 1.4 Budaya Positif yang diterapkan pada program CUAN/Curhat Anak). Manajemen Diri dengan bentuk implementasinya dalam organisasi yang telah disedia di sekolah seperti Pramuka, olahrga, dan Kesenian. Kesadaran Sosial juga telah diimplementasikan dengan kegiatan Jum’at Amal dan Program Sosial D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Keterampilan Relasi diimpelemtasikan dengan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun dan Diskusi Kelompok dalam proses pembelajaran di kelas. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab dengan implementasi membuat kesepakatan kelas dan pemilihan ketua kelas.

Gambar 2. Moment berikutnya ketika membuat Modul Ajar / RPP pada Demonstrasi Kontekstual. Modul ajar ini saya buat dengan menintegrasikan 5 Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yang akan diimplementasikan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Adapun alasan dalam memilih 5 KSE agar modul ajar ini memuat satu paket komplit KSE yang dibutuhkan dalam perkembangan sosial dan emosional para murid

 

Gambar 3. Moment akhir adalah ketika semua yang dipelajari pada Modul 2.2 mulai dari memahami konsep Pembelajaran PSE dan merancang modul ajar yang diintegrasikan KSE ini di bawa ke dalam aksi nyata (praktik) di kelas. Ada banyak kekurangan dalam praktik yang telah dilakukan ini termasuk mengkondisikan para murid pada kelompoknya. Namun, refleksi ini akan saya bawa sebagai bahan untuk mengevaluasi praktik yang telah dilakukan untuk mempersiapkan pembelajaran selanjutnya.

 

Sekian jurnal refleksi ini saya buat dan semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 11 Oktober 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Kamis, 22 September 2022

“Refleksi 4P” Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

Aksi Nyata Modul 2.2 (Doc. Pribadi)

Peran pendidik yang telah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu maupun anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran KHD ini mengingatkan kita bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi murid untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna untuk para murid.

Pada alur MERDEKA Modul 2.2 ini telah dipaparkan bagaimana keberpihakkan kepada murid menjadi langkah awal untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Bagaimana bentuk keberpihakkan itu ? Memenuhi kebutuhan para murid adalah jawabannya. Beragamnya potensi dan minat murid membuat banyak kebutuhan mereka yang harus terpenuhi. Melalui pembelajaran berdiferensiasi diharapkan dapat mengakomodir keberagaman kebutuhan murid tersebut. Selain itu, guru juga perlu mengetahui dengan baik bagaimana kondisi sosial-emosional murid yang akan dihadapinya. Dari sinilah peran Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses pembentukkan karakter murid. 

Pada aksi nyata modul 2.2 menggunakan Model Refleksi 4P. Model refleksi 4P merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4P dapat diterjemahkan menjadi 4F, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal). Berikut ini penjelasan Model 4F / Model 4P :

1. Facts (Peristiwa). Menceritakan pengalaman saya mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas ? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut ? Menceritakan juga hambatan atau kesulitan saya selama proses pembelajaran pada minggu ini ? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut ?

2. Feelings (Perasaan). Bagaimana perasaan saya selama pembelajaran berlangsung ? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas ? Menceritakan hal yang membuat saya memiliki perasaan tersebut.

3. Findings (Pembelajaran). Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini ?

4. Future (Penerapan). Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan ? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini ?

Berikut ini refleksi saya pada Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dengan Model Refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan) :

PERISTIWA (FACTS). Moment yang paling penting bagi saya setelah melakukan aksi nyata modul 2.2 ini adalah saya mendapatkan berbagai referensi praktik baik (program penguatan) Kompetensi Sosial dan Emosional di lingkungan sekolah pada Ruang Kolaborasi bersama fasilitator dan rekan CGP lainnya. Kami berdiskusi dan menyusun inisiatif program penguatan KSE bagi murid dan rekan sejawat. Kemudian mempresentasikan hasil kelompok dan saling membagikan praktik baik dalam impelementasi KSE. Ruang Kolaborasi kali ini menjadi inspirasi untuk saya dalam menerapkan KSE di sekolah nantinya.

PERASAAN (FEELINGS). Saya mendemonstrasikan implementasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) dengan membuat modul ajar yang tidak hanya terintegrasi KSE namun juga modul ajar berdiferensiasi. Sehingga modul ajar yang saya desain pada demonstrasi kontestual dan telah di terapkan di Kelas 3 adalah Modul Ajar Berdiferensiasi dan Terintegrasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Sungguh ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan karena ini merupakan bagian dari usaha sadar saya sebagai seorang pendidik dalam memenuhi kebutuhan belajar murid-murid hebat saya di 33 MB.

PEMBELAJARAN (FINDINGS). Hal yang bermanfaat adalah setiap alur MERDEKA pada modul ini memberikan inspirasi kepada saya untuk mempersiapkan pembelajaran yang berpihak kepada murid mulai dari pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi KSE. Umpan balik yang saya dapatkan adalah kebahagiaan pada murid pada setiap perubahan dari proses pembelajaran yang dilakukan serta saya semakin belajar memahami bahwa sejatinya setiap individu berhak mendapatkan apa yang dibutuhkan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.

PENERAPAN (FUTURE). Rencana saya ke depan untuk meningkatkan pengalaman aksi nyata ini agar lebih luas adalah membagikan praktik baik ini kepada rekan sejawat di sekolah. Mungkin ini tidak mudah namun, mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Mulai dari hal kecil dengan berbagi hasil tugas yang telah dikerjakan pada PGP dan diunggah pada media online dan media sosial.

Demikianlah aksi nyata modul 2.2 saya, semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

Membawa Pembelajaran Berdiferensiasi ke Kelas 3 (Aksi Nyata Modul 2.1)

Aksi Nyata Modul 2.1 (Doc. Pribadi)

Tujuan pendidikan nasional berakar dari pemikiran Menteri Pertama Indonesia yang sekaligus menjadi tokoh pendidikan nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih kita kenal Ki Hajar Dewantara (KHD). Pendidikan yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh KHD saat masa penjajahan masih relevan. Hal ini terbukti dengan dijadikannya pemikiran-pemikiran KHD sebagai landasan praktik pendidikan hingga saat ini terutama pada Kurikulum Merdeka yang resmi diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek Februari 2022 lalu.

Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KHD adalah Taman Siswa. Taman siswa bukan hanya menjadi tempat bermain untuk anak namun, juga menjadi tempat untuk anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Anak diberi kemerdekaan untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat serta dilengkapi dengan dukungan dalam proses belajarnya. Prinsip dasar Taman Siswa sejatinya tidak menghilangkan kodrat anak untuk bermain namun, anak tetap dapat menikmati proses belajar dengan bahagia di dalamnya.

Pendidikan yang bersumber dari referensi KHD ini merupakan pendidikan yang berpihak pada murid. Bentuk keberpihakkan kepada murid membawa kita sebagai guru menyiapkan proses pembelajaran yang berpusat pada murid. Bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid ? Pastinya pembelajaran yang disiapkan atas dasar kebutuhan murid. Esensi dari profesi guru sama halnya seperti profesi dokter. Seorang dokter menentukan keputusan terbaik dalam mengobati pasiennya dimulai dengan mendiagnosa sakit yang dirasa/keluhkan oleh pasiennya. Setelah itu dokter menganalisis untuk menentukan tindakan terbaik yang harus dilakukan untuk langkah pengobatan pasiennya. Jika kita berada pada posisi pasien, melihat dokter langsung melakukan tindakan tanpa bertanya keluhan yang kita rasa, apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan percaya tindakan yang dilakukan untuk kebaikan kita ?

Sama seperti guru, sebelum memulai proses pembelajaran di kelas, seorang guru haruslah tahu dengan baik siapa muridnya, apa yang dipunya murid (kemampuan/minat/bakatnya), apa yang dibutuhkan murid untuk mengembangkan kemampuannya, dan cara terbaik apa yang bisa diberikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan para muridnya ?

Guru seyogiyanya menyiapkan pembelajaran terbaik yang dapat dimulai dengan melakukan asesmen diagnosis. Asesmen diagnosis terbagi menjadi 2 yaitu non kognitif dan kognitif. Asesmen diagnosis non kognitif bertujuan untuk mengetahui psikologis sosial emosi murid, aktivitas belajar murid di rumah, latar belakang pergaulan murid, gaya belajar murid, karakter serta minat murid. Sementara asesmen diagnosis kognitif dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar dalam memahami suatu materi/konsep pada mata pelajaran tertentu. Bagaimana bentuk asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif ? Tentunya alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil asesmen diagnosis ini disesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan kondisi lingkungan murid berada. Hasil dari asesmen diagnosis ini digunakan guru untuk memetakan kebutuhan dasar murid berdasarkan minat dan profil belajar murid. Sederhananya asesmen diagnosis dilakukan guru untuk mengetahui murid seperti apa yang dihadapinya dan guru bebas menggunakan alat/cara apapun untuk mengetahui kondisi muridnya.

Jika guru sudah memetakan kebutuhan dasar muridnya maka, cara terbaik yang dapat dilakukan guru dalam memenuhi keberagaman kebutuhan belajar murid adalah melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan segala usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan ? Karena pembelajaran berdiferensiasi memiliki karakter :

1.     Kurikulum memiliki Tujuan Pembelajaran (TP) yang didefinisikan secara jelas untuk para muridnya.

2.     Guru merespon dengan menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

3.     Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

4.     Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

5.     Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui.

Ketika pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan terbaik guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas maka, guru dapat mulai menyusun RPP / Modul Ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dapat menentukan model pembelajaran dan penilaian yang relevan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran (TP) yang diharapkan.

Pembelajaran berdiferensiasi yang telah saya tuangkan dalam modul ajar memuat pembelajaran berdiferensiasi konten, proses, dan produk. Saya mendesai konten modul ajar ini bersumber dari hasil asesmen non kognitif dan kognitif di awal semester. Proses dari implementasi modul ajar ini di kelas berjalan baik dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dan terakhir produk yang dihasilkan berupa kemampuan individu yang mulai berkembang sesuai dengan kelebihan yang dipunya baik itu dari bercerita, menggambar, maupun menulis.

Setelah mempelajari dan memahami makna dari memenuhi kebutuhan murid tentang pembelajaran berdiferensiasi, saya telah mencoba mempraktikkan modul ajar berdiferensiasi yang telah didesain pada modul 2.1. Adapun evaluasi yang saya gunakan untuk refleksi berikutnya adalah pembelajaran diferensiasi terbukti mampu mengakomodir keragaman kebutuhan belajar murid di kelas. Ini merupakan pengalaman baru untuk saya dan pastinya juga untuk para murid. Kekurangan di beberapa komponen tidak dapat dipungkiri, contohnya beberapa murid yang belum bisa fokus pada kelompoknya dan lebih senang melihat kerja kelompok lain. Kemudian ada beberapa murid yang membutuhkan bantuan lebih yaitu murid yang cenderung aktif secara motorik sehingga diperlukan lagi penambahan praktik pada Lembar Kerja Kelompok (LKK). Adapun murid yang perlu mendapat tantangan adalah murid yang mengerjakan LKK dengan baik dan cepat serta mempresentasikan hasilnya dengan baik.

Menciptakan lingkungan belajar yang nyaman untuk mengundang murid bahagia dalam proses pembelajarannya tidaklah mudah. Terkadang desain yang sudah kita siapkan dengan versi terbaik masih saja ada kekurangan dalam mengaplikasikannya di kelas. Namun, perlu disadari satu hal bahwa semua butuh proses baik itu untuk saya sebagai guru dan murid sebagai aktor utamanya. Proses yang telah berjalan ini memacu saya untuk terus melakukan evaluasi dan refleksi agar berikutnya bisa berjalan lebih maksimal lagi. Pastinya..proses yang telah berjalan ini pun membuat anak-anak hebat kelas 3 lebih bahagia.

Terakhir..terima kasih anak-anak hebat 33 MB khususnya Kelas 3.

Demikian artikel saya kali ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca khususnya bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia… 

Minggu, 18 September 2022

Modul Ajar SD Berdiferensiasi dan Terintegrasi KSE

 

Modul Ajar SD Berdiferensiasi dan Terintegrasi KSE (Doc. Pribadi)

Setelah pada modul sebelumnya mempelajari tentang pembelajaran berdiferensiasi yang digunakan dalam memenuhi keragaman kebutuhan belajar murid, selanjutnya pada modul ini kembali lagi mempelajari tentang pembelajaran yang berbasis kebutuhan murid namun tentang kesiapan psikis murid (sosial dan emosional).

Pada Ruang Kolaborasi Modul 2.2, saya juga telah belajar banyak tentang bagaimana Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) penting untuk dipelajari dalam proses pembelajaran terutama di dalam kelas. Menyiapkan psikis murid sebelum memulai pembelajaran sangat penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal. PSE merupakan proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, manajemen diri, dan kemampuan relasi, serta berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan murid untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan pembelajaran memecahkannya.

Tugas Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE), kami diharapkan dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran Kompetensi Sosial dan Emosional dalam RPP / Modul Ajar.

Modul ajar ini saya buat dengan menintegrasikan 5 Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yang akan diimplementasikan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Adapun alasan dalam memilih 5 KSE agar modul ajar ini memuat satu paket komplit KSE yang dibutuhkan dalam perkembangan sosial dan emosional para murid.

Modul ajar ini bukan hanya untuk memenuhi tugas demonstrasi kontekstual di PGP saja tetapi, materi modul ajar ini juga merupakan bagian dari materi kelas yang saya ampuh sekarang yaitu kelas 3 SD. Saya berencana untuk menggunakan modul ajar ini dalam proses pembelajaran di semester ganjil ini. Pertama kali mengajar di kelas dengan pembelajaran berdiferensiasi serta berintegrasi PSE sungguh menantang untuk saya. Semoga saya mampu membawa pembelajaran berdiferensiasi berintegrasi PSE ini ke dalam kelas. Aamiin.

Berikut ini adalah modul ajar yang telah saya persiapkan : https://drive.google.com/file/d/1yZhH4yTOB8Rt-BZfbj2asBwjgQYVmGmI/view?usp=sharing

Saran dan kritik dari bapak/ibu guru yang membaca sangat membantu saya untuk memperbaiki modul ajar berikutnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca…

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Sabtu, 10 September 2022

Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran Berdiferensiasi (Doc. Pribadi)

Tujuan pendidikan nasional berakar dari pemikiran Menteri Pertama Indonesia yang sekaligus menjadi tokoh pendidikan nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih kita kenal Ki Hajar Dewantara (KHD). Pendidikan yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh KHD saat masa penjajahan masih relevan. Hal ini terbukti dengan dijadikannya pemikiran-pemikiran KHD sebagai landasan praktik pendidikan hingga saat ini terutama pada Kurikulum Merdeka yang resmi diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek Februari 2022 lalu.

Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KHD adalah Taman Siswa. Taman siswa bukan hanya menjadi tempat bermain untuk anak namun, juga menjadi tempat untuk anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Anak diberi kemerdekaan untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat serta dilengkapi dengan dukungan dalam proses belajarnya. Prinsip dasar Taman Siswa sejatinya tidak menghilangkan kodrat anak untuk bermain namun, anak tetap dapat menikmati proses belajar dengan bahagia di dalamnya.

Pendidikan yang bersumber dari referensi KHD ini merupakan pendidikan yang berpihak pada murid. Bentuk keberpihakkan kepada murid membawa kita sebagai guru menyiapkan proses pembelajaran yang berpusat pada murid. Bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid ? Pastinya pembelajaran yang disiapkan atas dasar kebutuhan murid. Esensi dari profesi guru sama halnya seperti profesi dokter. Seorang dokter menentukan keputusan terbaik dalam mengobati pasiennya dimulai dengan mendiagnosa sakit yang dirasa/keluhkan oleh pasiennya. Setelah itu dokter menganalisis untuk menentukan tindakan terbaik yang harus dilakukan untuk langkah pengobatan pasiennya. Jika kita berada pada posisi pasien, melihat dokter langsung melakukan tindakan tanpa bertanya keluhan yang kita rasa, apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan percaya tindakan yang dilakukan untuk kebaikan kita ?

Sama seperti guru, sebelum memulai proses pembelajaran di kelas, seorang guru haruslah tahu dengan baik siapa muridnya, apa yang dipunya murid (kemampuan/minat/bakatnya), apa yang dibutuhkan murid untuk mengembangkan kemampuannya, dan cara terbaik apa yang bisa diberikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan para muridnya ?

Guru seyogiyanya menyiapkan pembelajaran terbaik yang dapat dimulai dengan melakukan asesmen diagnosis. Asesmen diagnosis terbagi menjadi 2 yaitu non kognitif dan kognitif. Asesmen diagnosis non kognitif bertujuan untuk mengetahui psikologis sosial emosi murid, aktivitas belajar murid di rumah, latar belakang pergaulan murid, gaya belajar murid, karakter serta minat murid. Sementara asesmen diagnosis kognitif dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar dalam memahami suatu materi/konsep pada mata pelajaran tertentu. Bagaimana bentuk asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif ? Tentunya alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil asesmen diagnosis ini disesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan kondisi lingkungan murid berada. Hasil dari asesmen diagnosis ini digunakan guru untuk memetakan kebutuhan dasar murid berdasarkan minat dan profil belajar murid. Sederhananya asesmen diagnosis dilakukan guru untuk mengetahui murid seperti apa yang dihadapinya dan guru bebas menggunakan alat/cara apapun untuk mengetahui kondisi muridnya.

Jika guru sudah memetakan kebutuhan dasar muridnya maka, cara terbaik yang dapat dilakukan guru dalam memenuhi keberagaman kebutuhan belajar murid adalah melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan segala usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan ? Karena pembelajaran berdiferensiasi memiliki karakter :

1.     Kurikulum memiliki Tujuan Pembelajaran (TP) yang didefinisikan secara jelas untuk para muridnya.

2.     Guru merespon dengan menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

3.     Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

4.     Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

5.     Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui.

Ketika pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan terbaik guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas maka, guru dapat mulai menyusun RPP / Modul Ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dapat menentukan model pembelajaran dan penilaian yang relevan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran (TP) yang diharapkan.

Berikut ini salah satu contoh Modul Ajar SD Kelas 3 pada mata pelajaran Matematika yang saya susun setelah melakukan asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif serta memetakan kebutuhan murid. (Modul ajar tersedia di link : https://drive.google.com/file/d/1lP97Fd35d-LRcnKshFDDuv2hmFDqPs9n/view?usp=sharing / Doc. Pribadi).

Namun, perlu diingat bapak/ibu guru, tidak ada modul ajar khusus yang dapat digunakan oleh guru dalam membawa pembelajaran berdiferensiasi ke dalam kelas kita. Guru diberi kebebasan dalam membuat modul ajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan muridnya sendiri karena yang terpenting adalah proses pembelajaran itu memenuhi kebutuhan dasar murid yang berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil murid.

Demikian artikel saya kali ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca khususnya bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

*Artikel ini telah tayang di link : https://www.kompasiana.com/lisasya/631cc8bf4addee2222184632/memenuhi-kebutuhan-belajar-murid-melalui-pembelajaran-berdiferensiasi 

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...