Senin, 12 September 2022

33 MB Berbagi Praktik Baik Budaya Positif

 

                                            Berbagi Praktik Baik Budaya Positif (Doc. Pribadi)

Berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat di sekolah adalah pengalaman yang luar biasa untuk saya. Tidak hanya rekan sejawat di 33 MB namun, rekan sejawat di dua sekolah terdekat yaitu UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat.

Berbagi praktik baik ini merupakan salah satu tugas aksi nyata dari Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sedang saya ikuti. Aksi nyata ini bukan hanya sekedar tuntutan tugas saja buat kami Calon Guru Penggerak (CGP) namun juga menjadi kali pertama kami berbagi praktik-praktik baik yang telah kami laksanakan kepada rekan-rekan sejawat di dalam ataupun luar sekolah.

Awal membaca tugas ini di LMS (Learning Management System / Sistem Manajemen Pembelajaran), terpikir oleh saya : “Mengapa aksi nyata kali ini harus berupa pengimbasan dengan berbagi praktik baik kepada rekan-rekan sejawat ?” Ingatlah saya pada pernyataan Bapak Nadiem Anwar Makarim atau yang biasa di panggil Mas Menteri bahwa sekarang bukan lagi zamannya para guru berkompetisi namun, inilah zamannya para guru untuk saling berkolaborasi. Dengan berbagi praktik baik, diharapkan menginspirasi para pejuang pendidikan untuk terus semangat berjuang mentransformasi pembelajaran di sekolah khususnya di kelas sehingga nilai/karakter positif dapat terbentuk dalam diri murid.

Aksi nyata ini dilaksanakan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat tepatnya di Kelas 3. Kelas yang hampir setiap waktunya saya habiskan bersama 18 anak-anak hebat Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat. Suasana kelas yang sederhana tidak menyurutkan saya untuk menjadikan kelas 3 sebagai ruang pertemuan bersama rekan sejawat dari UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat. Sarana prasarana yang minim tidak lagi menjadi alasan untuk tidak berkarya. Anak-anak hebat Kelas 3 mampu menggoreskan dan meninggalkan jejak sejarah perjalanan mereka di ruang yang mereka hias dengan karya-karya terbaik mereka.

Pada aksi nyata kali ini saya menceritakan pengalaman-pengalaman luar biasa saat mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini termasuk mendapatkan materi budaya positif. Budaya positif terbentuk dari perilaku baik yang berkembang menjadi kebiasaan baik/positif sehingga terbentuklah budaya positif. Budaya positif dapat dibentuk dari hal terkecil di dalam kelas dengan membuat keyakinan/kesepakatan kelas bersama para murid. Ada juga materi tentang 5 kebutuhan dasar yang menjadi alasan untuk setiap tindakan yang dilakukan anak. Kemudian lanjut dengan materi 5 posisi kontrol guru dan penerapannya pada restitusi.

Sebelum mengakhiri aksi nyata, saya juga berbagi praktik baik dari 4 program unggulan 33 MB yaitu PULAS, SEMATA, NADI, dan D-Ka. Saya juga berbagi praktik-praktik baik yang telah dilaksanakan di dalam kelas 3. Untuk lengkapnya, berikut ini video aksi nyata budaya positif bersama rekan sejawat :

Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 1 (Doc. Pribadi)

dan

                                  Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 2 (Doc. Pribadi)

Mari…terus semangat dalam menanamkan budaya positif di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertuang dalam visi sekolah impian. Mulai dari langkah kecil namun konsisten untuk melakukannya.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


*Artikel ini juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/631eee5ea65da822277578d3/33-mb-berbagi-praktik-baik-budaya-positif 

Sabtu, 10 September 2022

Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran Berdiferensiasi (Doc. Pribadi)

Tujuan pendidikan nasional berakar dari pemikiran Menteri Pertama Indonesia yang sekaligus menjadi tokoh pendidikan nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih kita kenal Ki Hajar Dewantara (KHD). Pendidikan yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh KHD saat masa penjajahan masih relevan. Hal ini terbukti dengan dijadikannya pemikiran-pemikiran KHD sebagai landasan praktik pendidikan hingga saat ini terutama pada Kurikulum Merdeka yang resmi diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek Februari 2022 lalu.

Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KHD adalah Taman Siswa. Taman siswa bukan hanya menjadi tempat bermain untuk anak namun, juga menjadi tempat untuk anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Anak diberi kemerdekaan untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat serta dilengkapi dengan dukungan dalam proses belajarnya. Prinsip dasar Taman Siswa sejatinya tidak menghilangkan kodrat anak untuk bermain namun, anak tetap dapat menikmati proses belajar dengan bahagia di dalamnya.

Pendidikan yang bersumber dari referensi KHD ini merupakan pendidikan yang berpihak pada murid. Bentuk keberpihakkan kepada murid membawa kita sebagai guru menyiapkan proses pembelajaran yang berpusat pada murid. Bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid ? Pastinya pembelajaran yang disiapkan atas dasar kebutuhan murid. Esensi dari profesi guru sama halnya seperti profesi dokter. Seorang dokter menentukan keputusan terbaik dalam mengobati pasiennya dimulai dengan mendiagnosa sakit yang dirasa/keluhkan oleh pasiennya. Setelah itu dokter menganalisis untuk menentukan tindakan terbaik yang harus dilakukan untuk langkah pengobatan pasiennya. Jika kita berada pada posisi pasien, melihat dokter langsung melakukan tindakan tanpa bertanya keluhan yang kita rasa, apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan percaya tindakan yang dilakukan untuk kebaikan kita ?

Sama seperti guru, sebelum memulai proses pembelajaran di kelas, seorang guru haruslah tahu dengan baik siapa muridnya, apa yang dipunya murid (kemampuan/minat/bakatnya), apa yang dibutuhkan murid untuk mengembangkan kemampuannya, dan cara terbaik apa yang bisa diberikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan para muridnya ?

Guru seyogiyanya menyiapkan pembelajaran terbaik yang dapat dimulai dengan melakukan asesmen diagnosis. Asesmen diagnosis terbagi menjadi 2 yaitu non kognitif dan kognitif. Asesmen diagnosis non kognitif bertujuan untuk mengetahui psikologis sosial emosi murid, aktivitas belajar murid di rumah, latar belakang pergaulan murid, gaya belajar murid, karakter serta minat murid. Sementara asesmen diagnosis kognitif dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar dalam memahami suatu materi/konsep pada mata pelajaran tertentu. Bagaimana bentuk asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif ? Tentunya alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil asesmen diagnosis ini disesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan kondisi lingkungan murid berada. Hasil dari asesmen diagnosis ini digunakan guru untuk memetakan kebutuhan dasar murid berdasarkan minat dan profil belajar murid. Sederhananya asesmen diagnosis dilakukan guru untuk mengetahui murid seperti apa yang dihadapinya dan guru bebas menggunakan alat/cara apapun untuk mengetahui kondisi muridnya.

Jika guru sudah memetakan kebutuhan dasar muridnya maka, cara terbaik yang dapat dilakukan guru dalam memenuhi keberagaman kebutuhan belajar murid adalah melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan segala usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan ? Karena pembelajaran berdiferensiasi memiliki karakter :

1.     Kurikulum memiliki Tujuan Pembelajaran (TP) yang didefinisikan secara jelas untuk para muridnya.

2.     Guru merespon dengan menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

3.     Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

4.     Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

5.     Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui.

Ketika pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan terbaik guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas maka, guru dapat mulai menyusun RPP / Modul Ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dapat menentukan model pembelajaran dan penilaian yang relevan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran (TP) yang diharapkan.

Berikut ini salah satu contoh Modul Ajar SD Kelas 3 pada mata pelajaran Matematika yang saya susun setelah melakukan asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif serta memetakan kebutuhan murid. (Modul ajar tersedia di link : https://drive.google.com/file/d/1lP97Fd35d-LRcnKshFDDuv2hmFDqPs9n/view?usp=sharing / Doc. Pribadi).

Namun, perlu diingat bapak/ibu guru, tidak ada modul ajar khusus yang dapat digunakan oleh guru dalam membawa pembelajaran berdiferensiasi ke dalam kelas kita. Guru diberi kebebasan dalam membuat modul ajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan muridnya sendiri karena yang terpenting adalah proses pembelajaran itu memenuhi kebutuhan dasar murid yang berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil murid.

Demikian artikel saya kali ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca khususnya bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

*Artikel ini telah tayang di link : https://www.kompasiana.com/lisasya/631cc8bf4addee2222184632/memenuhi-kebutuhan-belajar-murid-melalui-pembelajaran-berdiferensiasi 

Selasa, 06 September 2022

Modul Ajar SD dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Modul Ajar SD dengan Pembelajaran Berdiferensiasi (Doc. Pribadi)

Memasuki Alur MERRDEKA selanjutnya adalah Demonstrasi Kontekstual. Ketika membaca petunjuk tugas demonstrasi kontekstual Modul 2.1 di LMS membuat RPP, langsung teringat dengan pelatihan mandiri yang pernah saya ikuti 2 bulan lalu.

Saya pernah mengikuti dua kali pelatihan mandiri secara online yang membahas tentang pembuatan Modul Ajar (dalam K-13 dikenal RPP). Walaupun tahun pelajaran 2022/2023 ini sekolah saya belum mengimplementasi Kurikulum Merdeka namun, saya selalu semangat untuk lebih mengenal kurikulum yang resmi diluncurkan Februari 2022 lalu oleh Menteri Kemdikbudristek, Bapak Nadiem Anwar Makarim. 

Saya juga terus belajar dan berlatih menggunakan aplikasi Canva guna membantu menyiapkan beberapa kebutuhan termasuk pembuatan Modul Ajar. Inspirasi ini saya dapatkan pada salah satu postingan seorang guru di Grup Facebook “Canva Untuk Pendidikan”. Guru tersebut membuat modul ajar dengan media Canva. Saya pun tertarik untuk mencoba membuatnya.

Selain sebagai tugas pelatihan mandiri pada salah satu komunitas praktisi di PMM bernama GPBI (Guru Penggerak Berbagi Ilmu), modul ajar itu juga saya upload di Bukti Karya pada Platform Merdeka Mengajar (PMM). Tujuannya adalah untuk mendapatkan feedback dari sesama guru yang membacanya. Beberapa feedback yang masuk, membuat saya pun memperbaiki modul ajar ini dengan melengkapi beberapa item yang belum ada.

Pada Ruang Kolaborasi sebelumnya, saya belajar tentang bagaimana pembelajaran berdiferensiasi mengakomodasi kebutuhan murid di kelas. Hasil asesmen yang saya dapat pada awal pertemuan di awal tahun pelajaran ini menjadi acuan saya untuk terus memperbaiki diri agar keberpihakkan kepada murid itu benar-benar terlaksana maksimal dalam proses pembelajaran.

Modul ajar ini bukan hanya untuk memenuhi tugas demonstrasi kontekstual di PGP saja tetapi, materi modul ajar ini juga merupakan bagian dari materi kelas yang saya ampuh sekarang yaitu kelas 3 SD. Saya berencana untuk menggunakan modul ajar ini dalam proses pembelajaran di semester ganjil ini. Pertama kali mengajar di kelas dengan pembelajaran berdiferensiasi sepertinya menarik. Membayangkannya saja sudah membuat saya tersenyum…

Berikut ini adalah modul ajar yang telah saya persiapkan : https://drive.google.com/file/d/1lP97Fd35d-LRcnKshFDDuv2hmFDqPs9n/view?usp=sharing 

Saran dan kritik dari bapak/ibu guru yang membaca sangat membantu saya untuk memperbaiki modul ajar berikutnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca…

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


Minggu, 04 September 2022

Antologi Bunga Rampai Jilid 3

 

Buku Antologi Bunga Rampai Jilid 1,2,3 (D0c. Pribadi)

Menjadi bagian dari sebuah buku antologi bersama para penulis di seluruh tanah air adalah hal yang membahagiakan. Selain dapat berbagi cerita tentang pengalaman hidup, saya juga belajar untuk terus konsisten dalam menulis walaupun masih dalam sebuah buku antologi.

Setelah buku antologi pertama dengan judul yang sama terbit bulan Januari 2022, kemudian berlanjut di bulan Mei terbit buku antologi jilid 2. Kini..buku antologi jilid 3 kembali hadir dan masih mewarnai tema hangat “Bunga Rampai Suka Duka Menjadi ASN.”

Masih dengan kurator Bapak Sigid Purwo Nugroho, S.H., S.Pd., editor Ibu Sri Sugiastuti, desain sampul Bapak Yassin Cahyo Ramadhan, dan penerbit Oase Pustaka Sukoharjo – Jawa Tengah. Alhamdulillah dengan semangat para penulis dan khususnya tim akhirnya buku antologi Bunga Rampai Suka Duka Menjadi ASN Jilid 3 ini sampai ke tangan para pembaca di akhir bulan lalu.

Bersama penulis seluruh Indonesia, buku ini menceritakan perjuangan dalam mengikuti seleksi ASN. Ada yang sudah menyandang status ASN namun, masih banyak juga yang harus berjuang di kesempatan selanjutnya.

Sama seperti buku antologi Bunga Rampai Suka Duka Jilid 2, pada jilid 3 ini para penulis diperluas oleh kurator sehingga bukan hanya mereka yang bergelut di dunia pendidikan saja namun, lintas bidang juga hadir membagikan pengalaman hidup mereka dalam perjuangannya mendapatkan status ASN.

Ketika Pak Sigid menghubungi saya via Whatsapp mengajak kembali bergabung di jilid 3, saya pun tanpa berpikir panjang “meng-iyakannya”, padahal saat itu belum terpikir bahan materi yang akan saya tulis. Hingga saya temukan materi narasi jilid 3 ini dari sosok laki-laki hebat dalam hidup saya yaitu, Bapak saya sendiri.

Terkadang pilihan di depan jalan kita akan mengalahkan idealisme yang kita jaga sampai sekarang ini. Tidak mudah juga untuk saya memilih keputusan ini namun, saya percaya loyalitas akan menjadi pembuktian bahwa keputusan ini adalah pilihan yang terbaik. Narasi lengkapnya saya tuangkan dalam buku antologi Bunga Rampai Suka Duka Menjadi ASN Jilid 3 ini dengan judul “Titik Akhir Cinta Untuk Matematika”.

Selain narasi untuk kedua orangtua saya, buku ini juga spesial dipersembahkan untuk suami tercinta. Dukungan yang luar biasa darinya mampu mengepakkan sayap ini untuk terus semangat belajar menjadi Guru yang lebih baik lagi. Estafet semangat dan motivasi juga saya dapatkan dari kedua mertua saya. Maha Besar Allah SWT yang telah memberikan orang-orang yang sungguh luar biasa hebat dalam kehidupan ini.

Terima kasih juga untuk seluruh penulis yang terlibat, tim pengeditan hingga percetakkan, dan semua teman-teman seperjuangan di dunia pendidikan.

“Jangan pernah berhenti bermimpi dan terus juga melakukan tindakan-tindakan untuk mimpi itu. Tanpa tindakan maka, selamanya mimpi itu akan tetap menjadi sebuah mimpi.”

Semoga bermanfaat untuk para pembaca…

Salam bahagia dan semangat belajar untuk kita semua…

 

*Artikel ini juga telah tayang di : 

https://www.kompasiana.com/lisasya/631454c808a8b50f865da432/antologi-bunga-rampai-jilid-3 

 

 

 

 

 

Sabtu, 03 September 2022

Skenario Pembelajaran Berdiferensiasi Kasus SD

 

Skenario Pembelajaran Berdiferensiasi Modul 2.1 Ruang Kolaborasi (Doc. Pribadi)

Ruang Kolaborasi Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid ini, saya bersama kelompok membahas skenario pembelajaran berdiferensiasi kasus SD.

 Saat berada di Ruang Kolaborasi hari pertama Jum’at / 02 September 2022, kami berdiskusi tentang pembelajaran berdeferensiasi yang menjadi skenario pada kasus SD. Secara singkat, skenario kasus ini terjadi pada seorang guru SD bernama Pak Dermawan yang akan masuk ke kelasnya untuk mengajar mata pelajaran IPA materi cara kerja sistem pencernaan. Banyak hal yang dipersiapkan oleh Pak Dermawan seminggu sebelum masuk mata pelajaran IPA ini.

Sebelum membahas skenarionya, ada beberapa materi utama yang kami tampilkan pada presentasi, yaitu :

§  Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi, “Serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid (Tomlinson : 2000).” Jadi, pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat belajar murid, dan profil belajar murid.

 

§  Ciri / Karakteristik Pembelajaran Berdiferensiasi

Adapun ciri atau karakter pada pembelajaran berdiferensiasi ini sebagai berikut :

-       Tujuan pembelajaran yang didefinisikan dengan jelas untuk para muridnya.

-       Guru mengetahui kebutuhan murid untuk menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif.

-       Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

-       Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

-       Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui. 

§  Aspek Kebutuhan Murid sebagai berikut :

-       Kesiapan belajar murid

-       Minat belajar murid

-       Profil belajar murid

Ada 4 pertanyaan yang dibahas dalam scenario pembelajaran berdeferensiasi pada kasus Pak Dermawan, yaitu menentukan kebutuhan belajar murid, kebutuhan murid yang sedang dipenuhi oleh Pak Dermawan, strategi pembelajaran berdiferensiasi yang digunakan Pak Dermawan, dan penilaian yang dilakukannya.

Semua pertanyaan telah kelompok saya diskusikan di hari pertama Ruang Kolaborasi. Kemudian hari kedua Ruang Kolaborasi Sabtu / 03 September 2022 saya bersama rekan kelompok mempresentasikan hasil diskusi dalam ruang virtual bersama fasilitator dan rekan-rekan CGP lainnya. Berikut ini video hasil diskusi yang kami presentasikan : 


Video Skenario Pembelajaran Berdiferensiasi Modul 2.1 Ruang Kolaborasi (Doc. Pribadi)

Demikianlah artikel kali ini tentang hasil diskusi kelompok saya di Ruang Kolaborasi Modul 2.1. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Jumat, 02 September 2022

Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Diagram Frayer

Diagram Frayer Pembelajaran Difirensiasi (Doc. Pribadi)

Alur Merrdeka pada Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid ini telah memasuki alur Eksplorasi Konsep. Kami diminta untuk membuat definisi, ciri/karakter, contoh dan bukan contoh dari pembelajaran berdiferensiasi dalam sebuah diagram yang diberi nama Diagram Frayer. 

Sesuai dengan namanya, diagram ini dikembangkan pertama kali oleh seorang educational psychologist yang bernama Dorothy Frayer. Dalam Modul 2.1.a.4.2, dijelaskan bahwa : “Diagram Frayer adalah pengatur grafis untuk membantu membangun pemahaman atas kosakata atau terminologi tertentu. Teknik ini menuntut seseorang untuk mendefinisikan kosakata atau terminologi yang menjadi target dan menerapkan pemahamannya dengan mengidentifikasi apa yang merupakan contoh dan bukan contoh, memberi ciri, dan/atau mendeskripsikan arti kata tersebut. Informasi ini ditempatkan pada bagan yang dibagi menjadi empat bagian untuk memberikan representasi visual.” 

Bagaimana definisi, ciri/karakteristik, contoh dan bukan contoh dari pembelajaran diferensiasi ini menurut saya berdasar dari materi yang tersedia di Eksplor Konsep yang telah saya baca dan pelajari adalah :

 

§  Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi

Segala usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan, minat, dan profil belajar murid.

 

§  Ciri / Karakteristik Pembelajaran Berdiferensiasi

Adapun ciri atau karakter pada pembelajaran berdiferensiasi ini sebagai berikut :

-       Tujuan pembelajaran yang didefinisikan dengan jelas untuk para muridnya.

-       Guru mengetahui kebutuhan murid untuk menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif.

-       Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

-       Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

-       Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui. 

§   Contoh Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai berikut :

-       Melaksanakan asesmen diagnostik non kognitif dan asesmen diagnostik kognitif untuk mengetahui kebutuhan awal murid pada awal proses pembelajaran.

-       Mengklasifikasi materi sesuai dengan kebutuhan murid. Ada murid yang telah memahami materi dasar sehingga di awal pembelajaran di perlukan materi lanjutan atau menghubungkan antar materi. Ada juga murid yang belum memahami materi dasar sehingga materi yang disediakan harus memenuhi kebutuhan dasar materinya.

-       Menggunakan strategi yang variatif dan fleksibel. Strategi pembelajaran yang bervariasi dan bersifat fleksibel memacu para murid terus semangat belajar dan mengksplor diri dengan maksimal.

-       Penilaian produk sesuai dengan ekspresi yang diinginkan murid. Ketika materi dan proses sesuai dengan kebutuhan murid, pastinya penilaian pun mengikuti tahapan sebelumnya yang telah dilalui murid sehingga satu paket pembelajaran yang didapat murid ini utuh dan saling berkaitan dengan kebutuhan belajarnya.  

-       Memberikan ruang untuk murid menunjukkan karya terbaiknya. Kelas menjadi tempat yang paling mudah untuk memajang hasil karya murid. Murid dapat menempelkan karyanya pada dinding yang telah disediakan atau dapat juga menggantungnya di jendela kelas.

-       Kolaborasi yang baik bersama orangtua. Tanggung jawab pendidikan anak bukan hanya pada guru namun, peran orangtua sangatlah penting untuk pendidikan anak di sekolah karena tujuan pendidikan nasional akan tercapai dengan maksimal dengan adanya kolaborasi semua pihak termasuk orangtua dan sekolah.   

§   Bukan Contoh dari Pembelajaran Berdiferensiasi adalah sebagai berikut :

-       Guru tidak memiliki catatan untuk kebutuhan murid. Ibarat seorang dokter yang tidak melakukan diagnoasa pada pasien.

-       Memberikan materi yang sama pada semua murid. Dokter itupun memberikan resep yang sama pada semua pasien. Waaah….sungguh menakutkan.

-       Strategi pembelajaran yang monoton membuat para murid akan bosen dan tidak nyaman ketika proses belajarnya.

-       Penilaian yang digunakan sama untuk semua murid.

-       Tidak ada ruang untuk mengapresiasi hasil karya murid.

-       Tidak membangun Kerjasama kepada orangtua dalam proses belajar anak di sekolah.

Demikianlah artikel saya kali ini tentang konsep awal dan contoh Pembelajaran Berdiferensiasi versi terbaik yang saya ketahui, semoga mengispirasi para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Kamis, 01 September 2022

Refleksi Diri di 33 MB

 

Anak-anak Hebat Kelas 3 (Doc. Pribadi)

Tahun pelajaran 2022/2023 ini menjadi sejarah baru dalam perjalanan saya menjadi seorang guru. Mengapa demikian ? Karena pertama kali saya mengajar pada jenjang sekolah yang berbeda dan saya dipindah tugaskan di lingkungan yang baru saya kenal. Saya mendapatkan amanah untuk mengajar Kelas 3 di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat. Anak-anak hebat yang sungguh setiap hari menginspirasi dan memotivasi saya untuk datang ke sekolah walau jarak yang saya tempuh setiap harinya 54 KM untuk dapat menuju ke sekolah yang terletak di perbatasan antara Bangka Induk dan Bangka Tengah ini.

Mempelajari Modul 1 membawa saya pada salah satu harapan dan keinginan untuk mengubah cara mengajar saya di kelas. Saya bertekad untuk mengawali langkah ini dengan mengenal siapa murid yang saya ajar ? Apa yang mereka sukai ? Apa yang mereka butuhkan ? Apa yang mereka harapkan dari saya sebagai gurunya ? Semua pertanyaan itu saya tuangkan dalam sebuah Asesment Diagnostik Non Formatif yang selama 1 minggu saya rancang sendiri. Mengapa Asesment Diagnostik Non Formatif menjadi pilihan saya ? Karena berdasarkan pelatihan mandiri yang saya ikuti dan mempelajari Modul 1 di PGP ini, mengetahui kebutuhan murid itu yang utama. Ketika kita mengetahui apa yang mereka butuhkan maka, sebagai guru akan lebih mudah dan terarah dalam merancang pembelajaran selanjutnya. Asesmen ini saya buat sesuai dengan kebutuhan para murid kelas saya dan diisi oleh murid juga orangtuanya di rumah. Bahkan saya mengundang para orangtua ke kelas 3 untuk menjelaskan tujuan, manfaat, dan cara pengisian asesemen ini.

Hasil Asesment Diagnostik Non Formatif ini menjadi acuan untuk mempermudah saya dalam melayani para murid yang memiliki keberagaman berbeda-beda. Setelah Asesment Diagnostik Non Formatif dikembalikan lagi kepada saya dan dianalisis, gambaran secara umum dari para murid dan orangtua adalah melihat anak-anaknya bahagia. Sederhana namun, penuh makna. Asesmen ini juga menjadi acuan untuk saya dalam membuat beberapa kegiatan kelas 3. Mulai dari Kesepakatan Kelas, Operasi Semut, Pemilihan Ketua Kelas secara berkala, Program CUAN (Curhat Anak), menambahkan minat dan bakat juga menonton bersama pada jadwal pelajaran, belajar di alam terbuka, dan lainnya. Saya juga membuat Dinding Literasi yang ditempel semua karya anak, tulisan motivasi, ilmu tentang alam dan sosial, dan sebagainya.

Saya memfokuskan kegiatan yang dilakukan berdasarkan aset terbesar yang dimiliki kelas yaitu anak-anak hebat ini. Bangunan kelas yang belum maksimal dan sarana prasarana sekolah belum memadai bukan menjadi penting ketika semangat belajar ini tumbuh bersama senyum anak-anak dan dukungan para orangtuanya.

Ketika mengetahui bagaimana murid saya, ada beberapa tindakan saya yang pastinya berbeda kepada mereka. Hal ini bukan karena perlakuan tidak adil namun, dilakukan semata-mata karena ada beberapa murid yang butuh perhatian khusus untuk lebih mengenalnya. Termasuk murid yang tidak naik kelas, murid yang kategori ABK, dan murid yang mendapat kekerasan di rumahnya.

Awal saya masuk ke kelas, saya melihat murid-murid terbiasa untuk menuduh temannya melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan dilakukan oleh temannya. Contohnya saat ditemukan sapu patah, saya bertanya : “Siapa yang melakukannya?” Beberapa murid menunjuk pada 1 temannya yang tinggal kelas itu, sehingga saat saya menyelesaikan masalah ini saya dapati bukan murid itu yang melakukannya. Hal ini terus terjadi dengan beberapa masalah yang berbeda, seolah murid itu menjadi pelaku utamanya. Akhirnya..perlakuan murid-murid mulai berubah ketika ada satu kejadian yang membuat mereka kagum. Hari itu kelas kami bocor karena hujan dan menyebabkan lantai tergenang air sehingga, kami pindah ke ruang kelas di sebelah. Kami pun gotong royong membersihkan kelas baru termasuk area plafon yang sulit digapai murid-murid. Saya naik meja dan memegang sebuah sapu untuk membersihkannya. Tiba-tiba dari arah samping kanan saya, seorang murid berkata : “Sini bu..saya aja yang melakukannya.” Sungguh hal yang sangat luar biasa dan hari itu saya bersama semua temannya melihat begitu gagahnya dia membersihkan kelas, mendorong papan pembatas kelas, dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang besar.

Tantangan terbesar saya adalah membiasakan para murid melakukan tindakan positif yang muara akhirnya budaya positif. Mereka terbiasa dengan gaya lama ditambah dengan perbedaaan lingkungan sekolah dan rumah sehingga mereka kesulitan untuk konsisten melakukan sesuatu. Contohnya anak yang selalu mendapat Juara 1 di kelas bertanya mengapa saya jarang memberikan PR untuk dikerjakan di rumah. Saya pun bertanya balik mengapa harus ada PR ? Dia berkata bahwa dia suka dengan nilai 100 di bukunya. Namun saat ada perlombaan di sekolah, dia tidak jadi juara dan saya dapati dia menangis di dalam kelas. Saya berpikir apakah para murid terbiasa dengan prestasi akademik saja ? Bagaiman dengan non akademik ? Bagaimana dengan karakter baik yang saya dapati dari seorang murid tidak naik kelas namun, hingga detik ini setiap saya pegang sapu dia menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan kepada saya ?

Hal-hal yang saya lakukan di kelas adalah hal baru untuk para anak dan orangtua. Tidak mudah untuk mereka beradaptasi dengan gaya baru ini namun, saya percaya ketika pembelajaran yang dipersiapkan mengakomodir kebutuhan murid maka, esensi dari pembelajaran di sekolah akan bermakna bagi para murid.

Menurut pendapat saya, pembelajaran yang mampu mengakomodasi tantangan yang terkait keberagaman murid harus dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi dengan langkah utama yang tepat. Diagnosa kebutuhan murid menjadi awal dan sangat penting, setelah itu sebagai guru kita akan punya arah jelas bagaimana pembelajaran selanjutnya dan evalusi terus dilakukan baik itu selama proses pembelajaran dan di akhir pembelajaran.

Mari…selalu semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...