Selasa, 13 September 2022

SEMATA 33 MB memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional

 

SEMATA 33 MB Memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut (Doc. Pribadi)

Ada yang berbeda pada tanggal 12 September 2022 di 33 MB. Pagi itu semua anak hebat 33 MB akan melakukan kegiatan rutin sikat gigi di sekolah namun dengan suasana yang berbeda karena bertepatan dengan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional.

Sejak tahun 2011, setiap tanggal 12 September diperingati sebagai Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional. Penggagas Hari Kesehatan Gigi dan Mulut ini adalah Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih yang secara resmi disahkan di Lapangan Gasibu – Bandung. Begitu pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut hingga pemerintah menjadikan 1 hari dalam setahun sebagai Hari Kesehatan Gigi dan Mulut.

Adapun kegiatan yang dilakukan pada Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional tahun ini melalui Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Bangka menghimbau agar seluruh SD di Kabupaten Bangka untuk melakukan bakti sosial kesehatan gigi dengan tema “Cermin Untuk Sehat Anak Indonesia”. Kegiatan sikat gigi ini dilaksanakan di sekolah hari Senin, 12 September 2022 bertepatan dengan perayaan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional. Bersama SEMATA, Kepala UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat, Bapak Soleh menginformasikan kepada seluruh guru dan murid untuk melaksanakan kegiatan ini.

SEMATA (Senyum Manis Kita) menjadi salah satu program unggulan 33 MB yang merupakan program edukasi akan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut serta penanaman kebiasaan baik anak untuk menyikat gigi 2 kali sehari. Program SEMATA diawali dengan sosialisasi akan pentingnya kebersihan gigi dan mulut serta kegiatan sikat gigi yang benar oleh Puskesmas Penagan pada bulan Juli lalu. Kemudian diadakan juga kegiatan rutin sikat gigi di sekolah sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.

SEMATA 33 MB juga mengikuti Lomba Senyum Indonesia yang diselenggarakan oleh salah satu aplikasi belajar bernama KIPIN (Kios Pintar) bekerja sama dengan Pepsodent. Rangkaian kegiatan yang telah SEMATA 33 MB lakukan dalam lomba ini adalah edukasi rutin tentang kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan mulai dari menempelkan poster-poster pada setiap ruang kelas, menonton video tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut yang tersedia pada aplikasi KIPIN, sikat gigi di sekolah, dan memberikan kesempatan kepada para murid menjadi pemimpin untuk teman-temannya dengan memperagakan cara sikat gigi yang benar dan bercerita tentang pengalamannya menjaga kebersihan gigi dan mulut bersama keluarga di rumah.

Adapun salah satu rangkaian dari lomba ini adalah pengisian Kalender Sikat Gigi 21 hari oleh seluruh murid. Pengisian kalender telah berakhir di akhir Agustus lalu dan di Hari Kesehatan Gigi dan Mulut ini diadakan pembagian rewad kepada para murid yang aktif pada program senyum Indonesia.

Lomba Senyum Indonesia bersama KIPIN dan Pepsodent (Doc. Pribadi)

Semua kegiatan yang telah dilaksanakan oleh SEMATA 33 MB ini baik itu dalam bentuk foto, video, artikel, dan lainnya telah dikirim pada pihak panitia KIPIN. Kegiatan di Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional menjadi bagian terakhir dari Lomba Senyum Indonesia ini. Menang atau kalah tidaklah menjadi penting karena yang utama adalah 33  MB telah memulai untuk menanamkan karakter baik (menjaga kebersihan gigi dan mulut) kepada seluruh murid di sekolah sehingga kebiasaan baik ini menjadi budaya positif untuk anak-anak hebat 33 MB.

SEMATA 33 MB mempunyai tujuan besar yaitu melahirkan pemimpin untuk kesehatan gigi dan mulut di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Berawal dari pembentukkan karakter positif untuk selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan rutin sikat gigi 2 kali sehari serta dapat menularkan kebiasaan positif ini kepada orang sekitarnya. Jika banyak orang terinspirasi dengan kebiasaan sikat gigi 2 kali sehari semakin banyak pula orang yang memiliki tubuh sehat karena gigi dan mulut bersih adalah awal dari badan yang sehat.

Untuk memeriahkan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional, SEMATA 33 MB membuat twibbon dengan link : http://twb.nz/harikesehatangigidanmulut33mb (Doc. Pribadi). Kegiatan sikat gigi dan kumpulan twibbon juga tersedia pada link : https://vt.tiktok.com/ZSRa385bG/ dan https://vt.tiktok.com/ZSRa3Ft65/  (Doc. Syagilsa).

Mari..dukung kegiatan rutin anak-anak kita dalam menjaga kebersihan gigi dan mulutnya dengan sikat gigi secara rutin 2 kali sehari (30 menit setelah sarapan pagi dan sebelum tidur di malam hari).

Gigi dan mulut yang bersih adalah bagian dari tubuh sehat anak-anak bangsa. Senyum Anak Indonesia Senyum Bahagia Mereka…

Selalu semangat belajar dan salam bahagia..

 

*Artikel ini telah tayang di Kompasiana dengan link :

https://www.kompasiana.com/lisasya/63202c7c04dff02ede0b3ac3/semata-33-mb-dalam-lomba-senyum-indonesia


Senin, 12 September 2022

Jurnal Refleksi Ke-4

Jurnal Refleksi Ke-4 (Doc. Pribadi)

Tiba saatnya membuat jurnal refleksi untuk minggu ke-8 (jurnal refleksi ke-4) Modul 1.4 “Budaya Positif”.

Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-8 (jurnal refleksi ke-4) ini, saya menggunakan Segitiga Refleksi. Dalam sebuah segitiga besar terbagi menjadi 4 segitiga kecil. Adapun penjabaran segitiga-segitiga kecil itu :

Segitiga kecil pertama. Setelah mempelajari Modul 1.4 Budaya Positif, akhirnya saya mampu sedikit demi sedikit menerapkan budaya positif di kelas dan lingkungan sekolah. Hal ini terwujud dari kegiatan/program yang sudah digerakkan di kelas 3 (kelas yang saya ampuh di tahun pelajaran 2022/2023). Saya memulai semester ini dengan membuat kesepakatan kelas bersama anak-anak hebat. Saya juga menyiapkan asesmen diagnosis non kognitif untuk memetakan kebutuhan dasar murid yang diisi oleh orang tua bersama anaknya. Saya juga membuat program CUAN (Curhat Anak) untuk menerapkan restitusi dalam setiap permasalahan yang terjadi. Melaksanakan kegiatan operasi semut yang rutin dilaksanakan, memulai pembelajaran dengan ice breaking, memberi 1 hari dalam seminggu untuk anak menonton bersama juga mengembangkan bakatnya. Menyediakan dinding literasi kelas yang berisi pengetahuan umum, foto kegiatan anak, dan memajang hasil karya terbaik mereka. Banyak lagi kegiatan yang telah saya lakukan bersama anak-anak hebat kelas 3 33 MB ini. Dalam lingkungan sekolah, telah dilaksanakannya program PULAS (Paguyuban Kelas), SEMATA (Senyum Manis Kita), NADI (Nabung Sejak Dini), dan D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Semua program ini terus berlangsung dan tidak hanya melibatkan pihak dalam sekolah namun, juga berkolaborasi dengan pihak luar sekolah termasuk orangtua, Bank Sumsel, Puskesmas Penagan, Yudistira, dan lainnya.

Segitiga kecil ke-dua. Setelah pembelajaran pada Modul 1.4 Budaya Positif, saya akhirnya memahami bahwa setiap tindakan murid pastilah untuk tujuan tertentu (memenuhi kebutuhan dasar). Setiap manusia yang tumbuh dan berkembang akan melakukan suatu tindakan tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar akan kekuasaan, kesenangan, bertahan hidup, perhatian, ataupun kebebasan. Tidak semua tindakan yang dilakukan anak yang dapat diterima lingkungannya, terkadang berdampak negatif untuk orang sekitarnya. Jika sudah seperti ini guru sebisa mungkin berada pada posisi kontrol manager untuk mengembalikan anak pada nilai yang diyakini bersama. Tahap restitusi dapat membantu guru dalam menjalankan posisi kontol manager tersebut. Fokus pada penyelesaian masalah anak dan bukan pada kesalahan yang dilakukannya. Sehingga tujuan akhirnya adalah terbentuk karakter/nilai positif yang kuat dalam diri anak.

Segitiga kecil ke-tiga. Perasaan saya setelah melakukan pembelajaran pada Modul 1.4 adalah bahagia karena mulai perlahan memahami kebutuhan dasar murid. Sebisa mungkin menjalankan posisi kontrol manajer dalam menyikapi setiap permasalahan anak yang terjadi.

Segitiga kecil ke-empat. Setelah melakukan pembelajaran pada Modul 1.4 ini, target saya berikutnya adalah akan terus menanamkan budaya positif di lingkungan sekolah. Mulai dengan membiasakan perilaku-perilaku positif yang sederhana seperti menjaga lingkungan dengan terbiasa membuang sampah pada tempat sampah, menjaga kebersihan kelas, membawa bekal untuk mengurangi sampah plastik, dan sebagainya.

Pengalaman luar biasa juga saya rasakan setelah mempelajari Modul 1.4 Budaya Positif ini adalah melakukan aksi nyata berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat di sekolah.  Bukan hanya rekan sejawat di 33 MB namun, rekan sejawat di dua sekolah terdekat yaitu UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat.

Saat pertama bergabung di 33 MB bulan Mei lalu, ada kekhwatiran dalam diri hingga pertanyaan ini muncul di benak : “Apakah saya bisa menjadi bagian dari keluarga baru (sekolah) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangka Tengah ini ?” Mengingat di saat bersamaan saya juga mulai menjalani Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 5 Kabupaten Bangka. Tidak mudah untuk saya memulai semua ini karena saya harus melawan rasa khawatir dalam diri ini. Bagaikan menemukan Oase di padang pasir, keluarga baru 33 MB begitu hangat menyambut kedatangan saya dan perlahan demi perlahan meluluhkan rasa khawatir itu.

Bulan pertama di sekolah sebisa mungkin saya harus cepat beradaptasi sambil membaca situasi sekolah dan merancang kegiatan/hal positif yang dapat dilakukan bersama di sekolah dengan melibatkan anak-anak, rekan sejawat, orang tua dan pihak luar sekolah. Hingga di awal tahun ajaran baru ini mulai terlaksananya satu per satu 4 Program Unggulan 33 MB. Sungguh semangat anak-anak hebat dan dukungan para orangtua sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa para orangtua mendukung semua kegiatan sekolah yang berpihak pada anak-anaknya.

Mari…terus semangat dalam menanamkan budaya positif di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertuang dalam visi sekolah impian. Mulai dari langkah kecil namun konsisten untuk melakukannya.

Sekian jurnal refleksi ini saya buat dan semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 12 September 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)


33 MB Berbagi Praktik Baik Budaya Positif

 

                                            Berbagi Praktik Baik Budaya Positif (Doc. Pribadi)

Berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat di sekolah adalah pengalaman yang luar biasa untuk saya. Tidak hanya rekan sejawat di 33 MB namun, rekan sejawat di dua sekolah terdekat yaitu UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat.

Berbagi praktik baik ini merupakan salah satu tugas aksi nyata dari Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sedang saya ikuti. Aksi nyata ini bukan hanya sekedar tuntutan tugas saja buat kami Calon Guru Penggerak (CGP) namun juga menjadi kali pertama kami berbagi praktik-praktik baik yang telah kami laksanakan kepada rekan-rekan sejawat di dalam ataupun luar sekolah.

Awal membaca tugas ini di LMS (Learning Management System / Sistem Manajemen Pembelajaran), terpikir oleh saya : “Mengapa aksi nyata kali ini harus berupa pengimbasan dengan berbagi praktik baik kepada rekan-rekan sejawat ?” Ingatlah saya pada pernyataan Bapak Nadiem Anwar Makarim atau yang biasa di panggil Mas Menteri bahwa sekarang bukan lagi zamannya para guru berkompetisi namun, inilah zamannya para guru untuk saling berkolaborasi. Dengan berbagi praktik baik, diharapkan menginspirasi para pejuang pendidikan untuk terus semangat berjuang mentransformasi pembelajaran di sekolah khususnya di kelas sehingga nilai/karakter positif dapat terbentuk dalam diri murid.

Aksi nyata ini dilaksanakan di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat tepatnya di Kelas 3. Kelas yang hampir setiap waktunya saya habiskan bersama 18 anak-anak hebat Dusun Air Pelempang Desa Air Buluh Kecamatan Mendo Barat. Suasana kelas yang sederhana tidak menyurutkan saya untuk menjadikan kelas 3 sebagai ruang pertemuan bersama rekan sejawat dari UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat. Sarana prasarana yang minim tidak lagi menjadi alasan untuk tidak berkarya. Anak-anak hebat Kelas 3 mampu menggoreskan dan meninggalkan jejak sejarah perjalanan mereka di ruang yang mereka hias dengan karya-karya terbaik mereka.

Pada aksi nyata kali ini saya menceritakan pengalaman-pengalaman luar biasa saat mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini termasuk mendapatkan materi budaya positif. Budaya positif terbentuk dari perilaku baik yang berkembang menjadi kebiasaan baik/positif sehingga terbentuklah budaya positif. Budaya positif dapat dibentuk dari hal terkecil di dalam kelas dengan membuat keyakinan/kesepakatan kelas bersama para murid. Ada juga materi tentang 5 kebutuhan dasar yang menjadi alasan untuk setiap tindakan yang dilakukan anak. Kemudian lanjut dengan materi 5 posisi kontrol guru dan penerapannya pada restitusi.

Sebelum mengakhiri aksi nyata, saya juga berbagi praktik baik dari 4 program unggulan 33 MB yaitu PULAS, SEMATA, NADI, dan D-Ka. Saya juga berbagi praktik-praktik baik yang telah dilaksanakan di dalam kelas 3. Untuk lengkapnya, berikut ini video aksi nyata budaya positif bersama rekan sejawat :

Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 1 (Doc. Pribadi)

dan

                                  Video Berbagi Praktik Baik Budaya Positif Part. 2 (Doc. Pribadi)

Mari…terus semangat dalam menanamkan budaya positif di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertuang dalam visi sekolah impian. Mulai dari langkah kecil namun konsisten untuk melakukannya.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


*Artikel ini juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/631eee5ea65da822277578d3/33-mb-berbagi-praktik-baik-budaya-positif 

Sabtu, 10 September 2022

Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran Berdiferensiasi (Doc. Pribadi)

Tujuan pendidikan nasional berakar dari pemikiran Menteri Pertama Indonesia yang sekaligus menjadi tokoh pendidikan nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih kita kenal Ki Hajar Dewantara (KHD). Pendidikan yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh KHD saat masa penjajahan masih relevan. Hal ini terbukti dengan dijadikannya pemikiran-pemikiran KHD sebagai landasan praktik pendidikan hingga saat ini terutama pada Kurikulum Merdeka yang resmi diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek Februari 2022 lalu.

Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KHD adalah Taman Siswa. Taman siswa bukan hanya menjadi tempat bermain untuk anak namun, juga menjadi tempat untuk anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Anak diberi kemerdekaan untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat serta dilengkapi dengan dukungan dalam proses belajarnya. Prinsip dasar Taman Siswa sejatinya tidak menghilangkan kodrat anak untuk bermain namun, anak tetap dapat menikmati proses belajar dengan bahagia di dalamnya.

Pendidikan yang bersumber dari referensi KHD ini merupakan pendidikan yang berpihak pada murid. Bentuk keberpihakkan kepada murid membawa kita sebagai guru menyiapkan proses pembelajaran yang berpusat pada murid. Bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid ? Pastinya pembelajaran yang disiapkan atas dasar kebutuhan murid. Esensi dari profesi guru sama halnya seperti profesi dokter. Seorang dokter menentukan keputusan terbaik dalam mengobati pasiennya dimulai dengan mendiagnosa sakit yang dirasa/keluhkan oleh pasiennya. Setelah itu dokter menganalisis untuk menentukan tindakan terbaik yang harus dilakukan untuk langkah pengobatan pasiennya. Jika kita berada pada posisi pasien, melihat dokter langsung melakukan tindakan tanpa bertanya keluhan yang kita rasa, apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan percaya tindakan yang dilakukan untuk kebaikan kita ?

Sama seperti guru, sebelum memulai proses pembelajaran di kelas, seorang guru haruslah tahu dengan baik siapa muridnya, apa yang dipunya murid (kemampuan/minat/bakatnya), apa yang dibutuhkan murid untuk mengembangkan kemampuannya, dan cara terbaik apa yang bisa diberikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan para muridnya ?

Guru seyogiyanya menyiapkan pembelajaran terbaik yang dapat dimulai dengan melakukan asesmen diagnosis. Asesmen diagnosis terbagi menjadi 2 yaitu non kognitif dan kognitif. Asesmen diagnosis non kognitif bertujuan untuk mengetahui psikologis sosial emosi murid, aktivitas belajar murid di rumah, latar belakang pergaulan murid, gaya belajar murid, karakter serta minat murid. Sementara asesmen diagnosis kognitif dilakukan untuk mengetahui kemampuan dasar dalam memahami suatu materi/konsep pada mata pelajaran tertentu. Bagaimana bentuk asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif ? Tentunya alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil asesmen diagnosis ini disesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan kondisi lingkungan murid berada. Hasil dari asesmen diagnosis ini digunakan guru untuk memetakan kebutuhan dasar murid berdasarkan minat dan profil belajar murid. Sederhananya asesmen diagnosis dilakukan guru untuk mengetahui murid seperti apa yang dihadapinya dan guru bebas menggunakan alat/cara apapun untuk mengetahui kondisi muridnya.

Jika guru sudah memetakan kebutuhan dasar muridnya maka, cara terbaik yang dapat dilakukan guru dalam memenuhi keberagaman kebutuhan belajar murid adalah melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan segala usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan ? Karena pembelajaran berdiferensiasi memiliki karakter :

1.     Kurikulum memiliki Tujuan Pembelajaran (TP) yang didefinisikan secara jelas untuk para muridnya.

2.     Guru merespon dengan menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

3.     Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

4.     Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

5.     Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui.

Ketika pembelajaran berdiferensiasi menjadi pilihan terbaik guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas maka, guru dapat mulai menyusun RPP / Modul Ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu guru juga dapat menentukan model pembelajaran dan penilaian yang relevan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran (TP) yang diharapkan.

Berikut ini salah satu contoh Modul Ajar SD Kelas 3 pada mata pelajaran Matematika yang saya susun setelah melakukan asesmen diagnosis non kognitif dan kognitif serta memetakan kebutuhan murid. (Modul ajar tersedia di link : https://drive.google.com/file/d/1lP97Fd35d-LRcnKshFDDuv2hmFDqPs9n/view?usp=sharing / Doc. Pribadi).

Namun, perlu diingat bapak/ibu guru, tidak ada modul ajar khusus yang dapat digunakan oleh guru dalam membawa pembelajaran berdiferensiasi ke dalam kelas kita. Guru diberi kebebasan dalam membuat modul ajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan muridnya sendiri karena yang terpenting adalah proses pembelajaran itu memenuhi kebutuhan dasar murid yang berfokus pada kesiapan belajar, minat, dan profil murid.

Demikian artikel saya kali ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca khususnya bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

*Artikel ini telah tayang di link : https://www.kompasiana.com/lisasya/631cc8bf4addee2222184632/memenuhi-kebutuhan-belajar-murid-melalui-pembelajaran-berdiferensiasi 

Selasa, 06 September 2022

Modul Ajar SD dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Modul Ajar SD dengan Pembelajaran Berdiferensiasi (Doc. Pribadi)

Memasuki Alur MERRDEKA selanjutnya adalah Demonstrasi Kontekstual. Ketika membaca petunjuk tugas demonstrasi kontekstual Modul 2.1 di LMS membuat RPP, langsung teringat dengan pelatihan mandiri yang pernah saya ikuti 2 bulan lalu.

Saya pernah mengikuti dua kali pelatihan mandiri secara online yang membahas tentang pembuatan Modul Ajar (dalam K-13 dikenal RPP). Walaupun tahun pelajaran 2022/2023 ini sekolah saya belum mengimplementasi Kurikulum Merdeka namun, saya selalu semangat untuk lebih mengenal kurikulum yang resmi diluncurkan Februari 2022 lalu oleh Menteri Kemdikbudristek, Bapak Nadiem Anwar Makarim. 

Saya juga terus belajar dan berlatih menggunakan aplikasi Canva guna membantu menyiapkan beberapa kebutuhan termasuk pembuatan Modul Ajar. Inspirasi ini saya dapatkan pada salah satu postingan seorang guru di Grup Facebook “Canva Untuk Pendidikan”. Guru tersebut membuat modul ajar dengan media Canva. Saya pun tertarik untuk mencoba membuatnya.

Selain sebagai tugas pelatihan mandiri pada salah satu komunitas praktisi di PMM bernama GPBI (Guru Penggerak Berbagi Ilmu), modul ajar itu juga saya upload di Bukti Karya pada Platform Merdeka Mengajar (PMM). Tujuannya adalah untuk mendapatkan feedback dari sesama guru yang membacanya. Beberapa feedback yang masuk, membuat saya pun memperbaiki modul ajar ini dengan melengkapi beberapa item yang belum ada.

Pada Ruang Kolaborasi sebelumnya, saya belajar tentang bagaimana pembelajaran berdiferensiasi mengakomodasi kebutuhan murid di kelas. Hasil asesmen yang saya dapat pada awal pertemuan di awal tahun pelajaran ini menjadi acuan saya untuk terus memperbaiki diri agar keberpihakkan kepada murid itu benar-benar terlaksana maksimal dalam proses pembelajaran.

Modul ajar ini bukan hanya untuk memenuhi tugas demonstrasi kontekstual di PGP saja tetapi, materi modul ajar ini juga merupakan bagian dari materi kelas yang saya ampuh sekarang yaitu kelas 3 SD. Saya berencana untuk menggunakan modul ajar ini dalam proses pembelajaran di semester ganjil ini. Pertama kali mengajar di kelas dengan pembelajaran berdiferensiasi sepertinya menarik. Membayangkannya saja sudah membuat saya tersenyum…

Berikut ini adalah modul ajar yang telah saya persiapkan : https://drive.google.com/file/d/1lP97Fd35d-LRcnKshFDDuv2hmFDqPs9n/view?usp=sharing 

Saran dan kritik dari bapak/ibu guru yang membaca sangat membantu saya untuk memperbaiki modul ajar berikutnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca…

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


Minggu, 04 September 2022

Antologi Bunga Rampai Jilid 3

 

Buku Antologi Bunga Rampai Jilid 1,2,3 (D0c. Pribadi)

Menjadi bagian dari sebuah buku antologi bersama para penulis di seluruh tanah air adalah hal yang membahagiakan. Selain dapat berbagi cerita tentang pengalaman hidup, saya juga belajar untuk terus konsisten dalam menulis walaupun masih dalam sebuah buku antologi.

Setelah buku antologi pertama dengan judul yang sama terbit bulan Januari 2022, kemudian berlanjut di bulan Mei terbit buku antologi jilid 2. Kini..buku antologi jilid 3 kembali hadir dan masih mewarnai tema hangat “Bunga Rampai Suka Duka Menjadi ASN.”

Masih dengan kurator Bapak Sigid Purwo Nugroho, S.H., S.Pd., editor Ibu Sri Sugiastuti, desain sampul Bapak Yassin Cahyo Ramadhan, dan penerbit Oase Pustaka Sukoharjo – Jawa Tengah. Alhamdulillah dengan semangat para penulis dan khususnya tim akhirnya buku antologi Bunga Rampai Suka Duka Menjadi ASN Jilid 3 ini sampai ke tangan para pembaca di akhir bulan lalu.

Bersama penulis seluruh Indonesia, buku ini menceritakan perjuangan dalam mengikuti seleksi ASN. Ada yang sudah menyandang status ASN namun, masih banyak juga yang harus berjuang di kesempatan selanjutnya.

Sama seperti buku antologi Bunga Rampai Suka Duka Jilid 2, pada jilid 3 ini para penulis diperluas oleh kurator sehingga bukan hanya mereka yang bergelut di dunia pendidikan saja namun, lintas bidang juga hadir membagikan pengalaman hidup mereka dalam perjuangannya mendapatkan status ASN.

Ketika Pak Sigid menghubungi saya via Whatsapp mengajak kembali bergabung di jilid 3, saya pun tanpa berpikir panjang “meng-iyakannya”, padahal saat itu belum terpikir bahan materi yang akan saya tulis. Hingga saya temukan materi narasi jilid 3 ini dari sosok laki-laki hebat dalam hidup saya yaitu, Bapak saya sendiri.

Terkadang pilihan di depan jalan kita akan mengalahkan idealisme yang kita jaga sampai sekarang ini. Tidak mudah juga untuk saya memilih keputusan ini namun, saya percaya loyalitas akan menjadi pembuktian bahwa keputusan ini adalah pilihan yang terbaik. Narasi lengkapnya saya tuangkan dalam buku antologi Bunga Rampai Suka Duka Menjadi ASN Jilid 3 ini dengan judul “Titik Akhir Cinta Untuk Matematika”.

Selain narasi untuk kedua orangtua saya, buku ini juga spesial dipersembahkan untuk suami tercinta. Dukungan yang luar biasa darinya mampu mengepakkan sayap ini untuk terus semangat belajar menjadi Guru yang lebih baik lagi. Estafet semangat dan motivasi juga saya dapatkan dari kedua mertua saya. Maha Besar Allah SWT yang telah memberikan orang-orang yang sungguh luar biasa hebat dalam kehidupan ini.

Terima kasih juga untuk seluruh penulis yang terlibat, tim pengeditan hingga percetakkan, dan semua teman-teman seperjuangan di dunia pendidikan.

“Jangan pernah berhenti bermimpi dan terus juga melakukan tindakan-tindakan untuk mimpi itu. Tanpa tindakan maka, selamanya mimpi itu akan tetap menjadi sebuah mimpi.”

Semoga bermanfaat untuk para pembaca…

Salam bahagia dan semangat belajar untuk kita semua…

 

*Artikel ini juga telah tayang di : 

https://www.kompasiana.com/lisasya/631454c808a8b50f865da432/antologi-bunga-rampai-jilid-3 

 

 

 

 

 

Sabtu, 03 September 2022

Skenario Pembelajaran Berdiferensiasi Kasus SD

 

Skenario Pembelajaran Berdiferensiasi Modul 2.1 Ruang Kolaborasi (Doc. Pribadi)

Ruang Kolaborasi Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid ini, saya bersama kelompok membahas skenario pembelajaran berdiferensiasi kasus SD.

 Saat berada di Ruang Kolaborasi hari pertama Jum’at / 02 September 2022, kami berdiskusi tentang pembelajaran berdeferensiasi yang menjadi skenario pada kasus SD. Secara singkat, skenario kasus ini terjadi pada seorang guru SD bernama Pak Dermawan yang akan masuk ke kelasnya untuk mengajar mata pelajaran IPA materi cara kerja sistem pencernaan. Banyak hal yang dipersiapkan oleh Pak Dermawan seminggu sebelum masuk mata pelajaran IPA ini.

Sebelum membahas skenarionya, ada beberapa materi utama yang kami tampilkan pada presentasi, yaitu :

§  Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi, “Serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid (Tomlinson : 2000).” Jadi, pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha terbaik guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam memenuhi kebutuhan murid dan berfokus pada kesiapan belajar, minat belajar murid, dan profil belajar murid.

 

§  Ciri / Karakteristik Pembelajaran Berdiferensiasi

Adapun ciri atau karakter pada pembelajaran berdiferensiasi ini sebagai berikut :

-       Tujuan pembelajaran yang didefinisikan dengan jelas untuk para muridnya.

-       Guru mengetahui kebutuhan murid untuk menyiapkan dan menyesuaikan rencana pembelajaran yang efektif.

-       Lingkungan nyaman yang mengundang murid untuk belajar dengan bahagia, tanpa tekanan, dan murid merasa aman di dalamnya.

-       Manajemen kelas yang efektif dengan menciptakan rutinitas yang lebih fleksibel namun tetap terstruktur dengan jelas.

-       Penilaian yang berkelanjutan yang didapat dari penilaian formatif yang telah dilakukan untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilalui. 

§  Aspek Kebutuhan Murid sebagai berikut :

-       Kesiapan belajar murid

-       Minat belajar murid

-       Profil belajar murid

Ada 4 pertanyaan yang dibahas dalam scenario pembelajaran berdeferensiasi pada kasus Pak Dermawan, yaitu menentukan kebutuhan belajar murid, kebutuhan murid yang sedang dipenuhi oleh Pak Dermawan, strategi pembelajaran berdiferensiasi yang digunakan Pak Dermawan, dan penilaian yang dilakukannya.

Semua pertanyaan telah kelompok saya diskusikan di hari pertama Ruang Kolaborasi. Kemudian hari kedua Ruang Kolaborasi Sabtu / 03 September 2022 saya bersama rekan kelompok mempresentasikan hasil diskusi dalam ruang virtual bersama fasilitator dan rekan-rekan CGP lainnya. Berikut ini video hasil diskusi yang kami presentasikan : 


Video Skenario Pembelajaran Berdiferensiasi Modul 2.1 Ruang Kolaborasi (Doc. Pribadi)

Demikianlah artikel kali ini tentang hasil diskusi kelompok saya di Ruang Kolaborasi Modul 2.1. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...