Selasa, 20 September 2022

Kolaborasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial-Emosional

 

Koneksi Antar Materi Modul 2.2 (Doc. Pribadi)

Peran pendidik yang telah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu maupun anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran KHD ini mengingatkan kita bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi murid untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna untuk para murid.

Pada materi sebelumnya telah dipaparkan bagaimana keberpihakkan kepada murid menjadi langkah awal untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Bagaimana bentuk keberpihakkan itu ? Memenuhi kebutuhan para murid adalah jawabannya. Beragamnya potensi dan minat murid membuat banyak kebutuhan mereka yang harus terpenuhi. Melalui pembelajaran berdiferensiasi diharapkan

dapat mengakomodir keberagaman kebutuhan murid tersebut. Selain itu, guru juga perlu mengetahui dengan baik bagaimana kondisi sosial-emosional murid yang akan dihadapinya. Dari sinilah peran Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses pembentukkan karakter murid.

Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa pembelajaran berdiferensiasi sudah cukup sebagai rencana yang dipersiapkan guru untuk memenuhi kebutuhan para muridnya sehingga membuat modul ajar yang berdiferensiasi sudah sangat baik dilakukan. Setelah mempelajari modul ini, ternyata pembelajaran berdiferensiasi tidak cukup untuk menuntun tumbuh kembang murid secara holistik. Pembelajaran seyogianya dapat mendorong perkembangan anak secara positif dengan program yang terkoordinasi antara berbagai pihak dalam komunitas di lingkungan sekitar anak untuk tumbuh terutama di komunitas sekolah. Jadi, mengkolaborasikan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial-emosional bagai paket komplit dalam usaha sadar guru untuk memenuhi kebutuhan muridnya.

Ada 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari dari modul ini :

1.   Saya mendapat berbagai referensi praktik baik dalam implementasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) di lingkungan sekolah. Praktik baik ini tentunya saya dapatkan dari berbagi bersama rekan sesama CGP di Ruang Kolaborasi. Kami berdiskusi dan menyusun inisiatif program penguatan KSE bagi murid dan rekan sejawat. Kemudian mempresentasikan hasil kelompok dan saling membagikan praktik baik dalam impelementasi KSE. Ruang Kolaborasi kali ini menjadi inspirasi untuk saya dalam menerapkan KSE di sekolah nantinya.

2.   Saya mendemonstrasikan implementasi KSE dengan belajar membuat modul ajar. Jika pada modul sebelumnya saya belajar membuat modul ajar berdiferensiasi maka, pada modul ini saya melengkapi modul ajar saya sebelumnya dengan paket lengkap yaitu Modul Ajar Berdiferensiasi dan Terintegrasi Kompetensi Sosial-Emosional (KSE).

3.   Saya juga memperkuat materi yang telah didapat pada modul 2.2 dari Elaborasi Pemahaman bersama instruktur di ruang virtual sore ini. Bersama Bapak Melkianus Dju Rohi, S.Pd., M.Hum, kami menggali dan mengkonsolidasi pemahaman serta implementasi PSE di kelas, sekolah, dan sekitar. Saya semakin memahami bahwa PSE ini tidak dapat dikerjakan sendiri oleh kita (guru) namun, perlu adanya kolaborasi oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperolah dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

Perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah setelah mempelajari modul ini adalah mulai mengimplementasikan praktik-praktik baik PSE yang telah saya dapatkan pada lingkungan sekitar terutama para murid dan rekan sejawat di sekolah. Pastinya...praktik baik itu disesuaikan dengan kondisi 33 MB (UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat), tempat saya menghabiskan hampir seperempat waktu setiap harinya. 

Demikian Koneksi Antar Materi Modul 2.2 saya, semoga bermanfaat untuk para pembaca khususnya bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

 

Alumni SMANSALI bersama Gerbang Si Budi

Kujungan ke SMANSALI (Doc. Pribadi)

Selasa / 20 September 2022, kembali lagi ke sekolah yang dulunya menjadi tempat saya menuntut ilmu. Inilah dia, SMANSALI (SMA Negeri 1 Pemali) Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung. Belasan tahun tidak lagi berada disini, telah banyak hal yang berubah termasuk sarana dan prasarana baru yang kian bertambah. Sungguh..pemandangan indah, saat memasuki gerbang yang penuh lukisan indah disambut  pohon-pohon rindangnya. Sejuknya..

Kedatangan saya hari ini ke SMANSALI khususnya di Perpustakaan HAYAMU (Cahaya Ilmu) dalam rangka berpartisipasi bersama “Gerbang Si Budi”. Gerbang Si Budi merupakan Gerakan Menyumbang Koleksi Buku Pribadi. Program mandiri ini digagas oleh Perpustakaan HAYAMU untuk menambah koleksi bukunya. Selain itu juga menanamkan budaya positif yaitu menggiatkan literasi sekolah khususnya kecintaan para murid dengan buku yang konon dislogankan sebagai “Jendela Dunia” ini.

Menurut Kepala SMANSALI, Ibu Efflina, M.Pd, dibukanya Gerbang Si Budi selain untuk menambah koleksi buku bacaan di perpustakaan sekolah, juga sebagai salah satu bentuk aksi nyata untuk lebih mendekatkan warga sekolah pada buku-buku.

Sumbangan buku-buku bacaan ini datang dari para murid/guru dalam sekolah dan juga para alumni SMANSALI sendiri. Bahkan ada diantar langsung oleh para alumni ke sekolah dan ada pula yang dikirim via jasa pengiriman.

Saat pertama kali mendapatkan informasi tentang program ini melalui media sosial Facebook, saya pun menginformasikan kembali kepada para alumni untuk hadir berpartisipasi menebarkan Cahaya Ilmu ini sejauh mungkin bersama Gerakan Si Budi. Alhamdulillah..bersama teman-teman dari angkatan tahun 2002, kami berpartisipasi dalam menambah koleksi buku di Perpustakaan HAYAMU. Jumlah buku yang terkumpul mungkin tidak seberapa namun, gerakan aksi nyata dari teman-teman alumni dalam menggiatkan para generasi bangsa untuk cinta dengan buku ini semoga menginspirasi untuk alumni angkatan lainnya.

Saya juga bertemu dengan beberapa guru hebat yang masih aktif mengajar di SMANSALI. Tidak ada yang berubah, senyum manis itu masih terus ada bahkan selalu dirindukan. Salah satu guru yang selalu menginspirasi saya yaitu Ibu Risma (guru mata pelajaran matematika). Hmm…beliau juga menjadi salah satu alasan saya kuliah mengambil jurusan pendidikan matematika.

Bersama Ibu Efflina, saya diberi kesempatan untuk masuk di kelas XII IPA 5 memberikan sedikit cerita tentang “Jangan pernah berhenti bermimpi”. Sangat berbeda rasanya ketika berhadapan dengan para murid yang usianya akan menginjak dewasa ini.

Terima kasih untuk teman-teman alumni angkatan tahun 2002 yang telah bergabung dalam Gerbang Si Budi. Semoga jejak yang ditinggalkan melalui buku-buku dapat bermanfaat untuk para generasi milineal ini.

Terus maju SMANSALI, tidak hanya untuk Perpustakaan HAYAMU nya namun di setiap sudutnya bersama murid-murid hebat penerus daerah dan bangsa.

Semoga Gerakan Si Budi Perpustakaan  HAYAMU ini menjadi awal dari menumbuhkan kembali kecintaan kita pada buku dan melahirkan para penggiat literasi.

Mari…tidak hentinya saya mengajak para alumni SMANSALI dari pelosok negeri untuk bergabung dalam Gerakan Si Budi. Kalau bukan kita, siapa lagi ??!!

Semangat belajar untuk kita semua..

Jayalah SMANSALI.. Salam Literasi.. Salam Bahagia..


*Artikel ini juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/632972307bda0222fd30aef3/alumni-smansali-bersama-gerbang-si-budi

Minggu, 18 September 2022

Modul Ajar SD Berdiferensiasi dan Terintegrasi KSE

 

Modul Ajar SD Berdiferensiasi dan Terintegrasi KSE (Doc. Pribadi)

Setelah pada modul sebelumnya mempelajari tentang pembelajaran berdiferensiasi yang digunakan dalam memenuhi keragaman kebutuhan belajar murid, selanjutnya pada modul ini kembali lagi mempelajari tentang pembelajaran yang berbasis kebutuhan murid namun tentang kesiapan psikis murid (sosial dan emosional).

Pada Ruang Kolaborasi Modul 2.2, saya juga telah belajar banyak tentang bagaimana Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) penting untuk dipelajari dalam proses pembelajaran terutama di dalam kelas. Menyiapkan psikis murid sebelum memulai pembelajaran sangat penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal. PSE merupakan proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, manajemen diri, dan kemampuan relasi, serta berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan murid untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan pembelajaran memecahkannya.

Tugas Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE), kami diharapkan dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran Kompetensi Sosial dan Emosional dalam RPP / Modul Ajar.

Modul ajar ini saya buat dengan menintegrasikan 5 Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yang akan diimplementasikan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Adapun alasan dalam memilih 5 KSE agar modul ajar ini memuat satu paket komplit KSE yang dibutuhkan dalam perkembangan sosial dan emosional para murid.

Modul ajar ini bukan hanya untuk memenuhi tugas demonstrasi kontekstual di PGP saja tetapi, materi modul ajar ini juga merupakan bagian dari materi kelas yang saya ampuh sekarang yaitu kelas 3 SD. Saya berencana untuk menggunakan modul ajar ini dalam proses pembelajaran di semester ganjil ini. Pertama kali mengajar di kelas dengan pembelajaran berdiferensiasi serta berintegrasi PSE sungguh menantang untuk saya. Semoga saya mampu membawa pembelajaran berdiferensiasi berintegrasi PSE ini ke dalam kelas. Aamiin.

Berikut ini adalah modul ajar yang telah saya persiapkan : https://drive.google.com/file/d/1yZhH4yTOB8Rt-BZfbj2asBwjgQYVmGmI/view?usp=sharing

Saran dan kritik dari bapak/ibu guru yang membaca sangat membantu saya untuk memperbaiki modul ajar berikutnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca…

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Jumat, 16 September 2022

Ide Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) Jenjang SD

 

Ide Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional Jenjang SD (Doc. Pribadi)

Kembali hadir di Ruang Kolaborasi pada Modul 2. Diskusi kami pada ruang kolaborasi pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional ini membahas Ide Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) Jenjang SD.

Pada Ruang Kolaborasi sesi diskusi Kamis / 15 September 2022, kami membahas tentang ide-ide yang dapat diimplementasikan pada pembelajaran sosial dan emosional untuk murid dan PTK pada jenjang SD.

Sebelum membahas beberapa implementasi PSE pada jenjang SD, ada beberapa materi utama yang kami tampilkan pada presentasi, yaitu :


§  Pengertian Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE)

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) merupakan proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, manajemen diri, dan kemampuan relasi, serta berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan pembelajaran memecahkannya.

 

§  Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yang dapat dikembangkan

Adapun 5 KSE yang dapat dikembangkan antara lain :

-       Kesadaran diri (pengenalan emosi)

-       Manajemen diri (mengelola emosi dan melatih fokus)

-       Kesadaran sosial (keterampilan berempati)

-       Keterampilan relasi (keterampilan bekerjasama)

-       Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

 

§  Bentuk Implementasi Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yang dapat dikembangkan

Bentuk implementasi KSE yang dapat dikembangkan pada jenjang SD antara lain :

1.     Kesadaran diri, bentuk implementasinya :

-  Teknik STOP dengan langkah-langkah dimulai dari Stop (berhenti sejenak), Take a breath (ambil nafas dalam), Observe (amati sensasi pada tubuh, perasaan, pikiran, dan lingkungan), Proceed (selesai dan lanjutkan).

-  Ekspresi Diri dengan Temukan Zonamu. Murid mengekpresikan perasaan yang dirasa murid di hari itu dan menentukan zona warnanya kemudian menceritakan perasaannya itu di depan kelas.

-  Ice breaking. Kegiatan ini ibarat sebuah pemanasan sebelum memulai pembelajaran dan bisa dalam bentuk apa saja, seperti tarian, menyanyi, cerita, bermain tebak-tebakkan, atau lainnya yang dapat meningkatkan semangat murid setelah melakukannya.

-  Restitusi. Guru mengajak murid menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan 3 langkah, yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan/kesepakatan kelas sehingga murid dapat kembali ke dalam kelompoknya dengan karakter/nilai yang lebih kuat.

2.     Manajemen diri bentuk implementasinya dengan Organisasi. Guru mengarahkan para murid untuk aktif berorganisasi di beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan di sekolah (Pramuka, Olahraga, dan Kesenian).

3.     Kesadaran sosial bentuk implementasinya dengan :

-  Jum’at Amal. Kegiatan infaq yang dilaksanakan setiap hari Jum’at dan seluruh warga sekolah dapat menyisihkan sedikit uang untuk dimasukkan dalam sebuah kotak amal yang nantinya akan digunakan untuk bantuan kepada murid yang mengalami belasungkawa, musibah, dan lainnya.

-  Program Sosial lainnya seperti D-Ka / Dari Kita Untuk Kita. Program sosial dari anak dan untuk anak. Teknisnya anak-anak mengumpulkan sumbangan dalam bentuk apa saja (sembako/barang) untuk diserahkan kepada murid yang membutuhkan dan diadakan dalam momen tertentu seperti perayaan hari besar nasional/agama, akhir semester, dan lainnya.

4.     Keterampilan relasi bentuk implementasinya dengan :

-  5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dapat melalui kegiatan salaman pagi, menerapkan kebiasaan baik seperti memberi salam/senyum kepada warga sekolah, berbicara sopan kepada orang yang usianya lebih tua, dan sebagainya.

-  Diskusi kelompok, dapat diadakan dalam proses pembelajaran baik di kelas maupun luar kelas.

5.     Pengambilan keputusan yang betanggung jawab bentuk implementasinya dengan :

-  Kesepakatan kelas. Guru bersama murid membuat kesepakatan kelas dan menyepakati setiap poin pada kesepakatan kelas agar suasana kelas lebih nyaman dan kondusif.

-  Pemilihan ketua kelas. Mengadakan sistem demokrasi dalam pemilihan ketua kelas dan guru membimbing murid menghormati keputusan dari hasil pemilihan serta ketua kelas yang terpilih bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.

Hasil dari diskusi kelompok dipresentasikan di hari kedua Ruang Kolaborasi Jum’at / 16 September 2022 pada ruang virtual bersama fasilitator dan rekan-rekan CGP lainnya. Berikut ini video hasil diskusi yang kami presentasikan : 


Video Implementasi PSE Jenjang SD (Doc. Pdibadi)

Hal menarik yang saya dapatkan dari Ruang Kolaborasi Modul 2.2 ini, banyak praktik baik dari teman CGP lain dalam implementasi pembelajaran sosial dan emosional di sekolahnya. Sungguh sangat menginspirasi saya untuk menerapkannya di 33 MB.

Demikianlah artikel saya tentang hasil diskusi kelompok di Ruang Kolaborasi Modul 2.2. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Selasa, 13 September 2022

Jurnal Refleksi Ke-5

 

Jurnal Refleksi Ke-5 (Doc. Pribadi)

Akhir dari setiap modul adalah membuat jurnal refleksi. Kali ini adalah refleksi tentang Modul 2.1 yang telah dipelajari selama waktu 2 minggu ini. Berikut ini Jurnal Refleksi untuk minggu ke-10 (jurnal refleksi ke-5) Modul 2.1 “Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid”.

Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-10 (jurnal refleksi ke-4) ini, saya menggunakan model Refleksi 4C. Model ini terdiri dari Connection (Koneksi), Chalengge (Tantangan), Concept (Konsep), dan Change (Mengubah). Model ini dikembangkan pertama kali oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini, yaitu:

1. Connection : Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran saya sebagai Calon Guru Penggerak ?

2. Challenge : Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang saya jalankan selama ini ?

3. Concept : Menceritakan konsep-konsep utama yang saya pelajari dan bagian penting menurut saya yang dapat untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak ?

4) Change : Apa perubahan dalam diri saya yang ingin dilakukan setelah mendapatkan materi ini ?

 

Adapun hasil refleksi saya setelah mempelajari Modul 2.1 ini :

1.   Connection. Pembelajaran Berdiferensiasi bukanlah suatu pilihan untuk saya namun, menjadi suatu konsekuensi logis dari berpusat kepada murid. Hal ini sejalan dengan peran saya sebagai seorang Calon Guru Penggerak yang selalu berpihak kepada kebutuhan murid.

2.   Challenge. Setelah mempelajari modul ini, saya memahami bahwa hal pertama yang harus dilakukan di awal tahun pelajaran baru adalah menyiapkan asesmen diagnosis non kognitif untuk memetakan kebutuhan murid di kelas. Hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya harus memiliki data lengkap tentang murid saya termasuk kesukaannya, minat, bakat, hal yang disukainya, hal yang tidak disukainya, dan banyak hal lainnya.

3.   Concept. Konsep utama yang akan selalu saya kerjakan selama saya menjadi seorang guru adalah selalu melakukan pemetaan kebutuhan murid agar proses pembelajaran selanjutnya lebih menyenangkan dan bermakna bagi murid.

4.   Change. Ketika kita memilih untuk menyiapkan pembelajaran yang berpusat kepada murid maka, banyak perubahan baru yang akan terjadi termasuk dalam membiasakan diri kita untuk selalu memetakan kebutuhan murid.

Setelah kita mendapatkan pemetaan kebutuhan murid maka, pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi pilihan yang ideal untuk dapat diterapkan dalam kelas. Hal baru untuk kita pastinya akan diawali juga dengan perasaan khawatir dalam menjalaninya. Namun, percayalah kita tidak sendiri. Niat baik dan tekad kuat akan mengalahkan rasa khawatir ini. Pastinya kita juga berada dalam ruang yang tepat yaitu bersama para intruktur, fasilitator, pengajar praktik, rekan CGP dalam Pendidikan Guru Penggerak ini.

Sekian jurnal refleksi ini saya buat dan semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk membawa pembelajaran diferensiasi ke dalam kelas kita semua… 

Salam bahagia…

-------------------------------------Bangka, 13 September 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)


SEMATA 33 MB memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional

 

SEMATA 33 MB Memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut (Doc. Pribadi)

Ada yang berbeda pada tanggal 12 September 2022 di 33 MB. Pagi itu semua anak hebat 33 MB akan melakukan kegiatan rutin sikat gigi di sekolah namun dengan suasana yang berbeda karena bertepatan dengan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional.

Sejak tahun 2011, setiap tanggal 12 September diperingati sebagai Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional. Penggagas Hari Kesehatan Gigi dan Mulut ini adalah Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih yang secara resmi disahkan di Lapangan Gasibu – Bandung. Begitu pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut hingga pemerintah menjadikan 1 hari dalam setahun sebagai Hari Kesehatan Gigi dan Mulut.

Adapun kegiatan yang dilakukan pada Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional tahun ini melalui Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Bangka menghimbau agar seluruh SD di Kabupaten Bangka untuk melakukan bakti sosial kesehatan gigi dengan tema “Cermin Untuk Sehat Anak Indonesia”. Kegiatan sikat gigi ini dilaksanakan di sekolah hari Senin, 12 September 2022 bertepatan dengan perayaan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional. Bersama SEMATA, Kepala UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat, Bapak Soleh menginformasikan kepada seluruh guru dan murid untuk melaksanakan kegiatan ini.

SEMATA (Senyum Manis Kita) menjadi salah satu program unggulan 33 MB yang merupakan program edukasi akan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut serta penanaman kebiasaan baik anak untuk menyikat gigi 2 kali sehari. Program SEMATA diawali dengan sosialisasi akan pentingnya kebersihan gigi dan mulut serta kegiatan sikat gigi yang benar oleh Puskesmas Penagan pada bulan Juli lalu. Kemudian diadakan juga kegiatan rutin sikat gigi di sekolah sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.

SEMATA 33 MB juga mengikuti Lomba Senyum Indonesia yang diselenggarakan oleh salah satu aplikasi belajar bernama KIPIN (Kios Pintar) bekerja sama dengan Pepsodent. Rangkaian kegiatan yang telah SEMATA 33 MB lakukan dalam lomba ini adalah edukasi rutin tentang kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan mulai dari menempelkan poster-poster pada setiap ruang kelas, menonton video tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut yang tersedia pada aplikasi KIPIN, sikat gigi di sekolah, dan memberikan kesempatan kepada para murid menjadi pemimpin untuk teman-temannya dengan memperagakan cara sikat gigi yang benar dan bercerita tentang pengalamannya menjaga kebersihan gigi dan mulut bersama keluarga di rumah.

Adapun salah satu rangkaian dari lomba ini adalah pengisian Kalender Sikat Gigi 21 hari oleh seluruh murid. Pengisian kalender telah berakhir di akhir Agustus lalu dan di Hari Kesehatan Gigi dan Mulut ini diadakan pembagian rewad kepada para murid yang aktif pada program senyum Indonesia.

Lomba Senyum Indonesia bersama KIPIN dan Pepsodent (Doc. Pribadi)

Semua kegiatan yang telah dilaksanakan oleh SEMATA 33 MB ini baik itu dalam bentuk foto, video, artikel, dan lainnya telah dikirim pada pihak panitia KIPIN. Kegiatan di Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional menjadi bagian terakhir dari Lomba Senyum Indonesia ini. Menang atau kalah tidaklah menjadi penting karena yang utama adalah 33  MB telah memulai untuk menanamkan karakter baik (menjaga kebersihan gigi dan mulut) kepada seluruh murid di sekolah sehingga kebiasaan baik ini menjadi budaya positif untuk anak-anak hebat 33 MB.

SEMATA 33 MB mempunyai tujuan besar yaitu melahirkan pemimpin untuk kesehatan gigi dan mulut di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Berawal dari pembentukkan karakter positif untuk selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan rutin sikat gigi 2 kali sehari serta dapat menularkan kebiasaan positif ini kepada orang sekitarnya. Jika banyak orang terinspirasi dengan kebiasaan sikat gigi 2 kali sehari semakin banyak pula orang yang memiliki tubuh sehat karena gigi dan mulut bersih adalah awal dari badan yang sehat.

Untuk memeriahkan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional, SEMATA 33 MB membuat twibbon dengan link : http://twb.nz/harikesehatangigidanmulut33mb (Doc. Pribadi). Kegiatan sikat gigi dan kumpulan twibbon juga tersedia pada link : https://vt.tiktok.com/ZSRa385bG/ dan https://vt.tiktok.com/ZSRa3Ft65/  (Doc. Syagilsa).

Mari..dukung kegiatan rutin anak-anak kita dalam menjaga kebersihan gigi dan mulutnya dengan sikat gigi secara rutin 2 kali sehari (30 menit setelah sarapan pagi dan sebelum tidur di malam hari).

Gigi dan mulut yang bersih adalah bagian dari tubuh sehat anak-anak bangsa. Senyum Anak Indonesia Senyum Bahagia Mereka…

Selalu semangat belajar dan salam bahagia..

 

*Artikel ini telah tayang di Kompasiana dengan link :

https://www.kompasiana.com/lisasya/63202c7c04dff02ede0b3ac3/semata-33-mb-dalam-lomba-senyum-indonesia


Senin, 12 September 2022

Jurnal Refleksi Ke-4

Jurnal Refleksi Ke-4 (Doc. Pribadi)

Tiba saatnya membuat jurnal refleksi untuk minggu ke-8 (jurnal refleksi ke-4) Modul 1.4 “Budaya Positif”.

Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-8 (jurnal refleksi ke-4) ini, saya menggunakan Segitiga Refleksi. Dalam sebuah segitiga besar terbagi menjadi 4 segitiga kecil. Adapun penjabaran segitiga-segitiga kecil itu :

Segitiga kecil pertama. Setelah mempelajari Modul 1.4 Budaya Positif, akhirnya saya mampu sedikit demi sedikit menerapkan budaya positif di kelas dan lingkungan sekolah. Hal ini terwujud dari kegiatan/program yang sudah digerakkan di kelas 3 (kelas yang saya ampuh di tahun pelajaran 2022/2023). Saya memulai semester ini dengan membuat kesepakatan kelas bersama anak-anak hebat. Saya juga menyiapkan asesmen diagnosis non kognitif untuk memetakan kebutuhan dasar murid yang diisi oleh orang tua bersama anaknya. Saya juga membuat program CUAN (Curhat Anak) untuk menerapkan restitusi dalam setiap permasalahan yang terjadi. Melaksanakan kegiatan operasi semut yang rutin dilaksanakan, memulai pembelajaran dengan ice breaking, memberi 1 hari dalam seminggu untuk anak menonton bersama juga mengembangkan bakatnya. Menyediakan dinding literasi kelas yang berisi pengetahuan umum, foto kegiatan anak, dan memajang hasil karya terbaik mereka. Banyak lagi kegiatan yang telah saya lakukan bersama anak-anak hebat kelas 3 33 MB ini. Dalam lingkungan sekolah, telah dilaksanakannya program PULAS (Paguyuban Kelas), SEMATA (Senyum Manis Kita), NADI (Nabung Sejak Dini), dan D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Semua program ini terus berlangsung dan tidak hanya melibatkan pihak dalam sekolah namun, juga berkolaborasi dengan pihak luar sekolah termasuk orangtua, Bank Sumsel, Puskesmas Penagan, Yudistira, dan lainnya.

Segitiga kecil ke-dua. Setelah pembelajaran pada Modul 1.4 Budaya Positif, saya akhirnya memahami bahwa setiap tindakan murid pastilah untuk tujuan tertentu (memenuhi kebutuhan dasar). Setiap manusia yang tumbuh dan berkembang akan melakukan suatu tindakan tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar akan kekuasaan, kesenangan, bertahan hidup, perhatian, ataupun kebebasan. Tidak semua tindakan yang dilakukan anak yang dapat diterima lingkungannya, terkadang berdampak negatif untuk orang sekitarnya. Jika sudah seperti ini guru sebisa mungkin berada pada posisi kontrol manager untuk mengembalikan anak pada nilai yang diyakini bersama. Tahap restitusi dapat membantu guru dalam menjalankan posisi kontol manager tersebut. Fokus pada penyelesaian masalah anak dan bukan pada kesalahan yang dilakukannya. Sehingga tujuan akhirnya adalah terbentuk karakter/nilai positif yang kuat dalam diri anak.

Segitiga kecil ke-tiga. Perasaan saya setelah melakukan pembelajaran pada Modul 1.4 adalah bahagia karena mulai perlahan memahami kebutuhan dasar murid. Sebisa mungkin menjalankan posisi kontrol manajer dalam menyikapi setiap permasalahan anak yang terjadi.

Segitiga kecil ke-empat. Setelah melakukan pembelajaran pada Modul 1.4 ini, target saya berikutnya adalah akan terus menanamkan budaya positif di lingkungan sekolah. Mulai dengan membiasakan perilaku-perilaku positif yang sederhana seperti menjaga lingkungan dengan terbiasa membuang sampah pada tempat sampah, menjaga kebersihan kelas, membawa bekal untuk mengurangi sampah plastik, dan sebagainya.

Pengalaman luar biasa juga saya rasakan setelah mempelajari Modul 1.4 Budaya Positif ini adalah melakukan aksi nyata berbagi praktik baik budaya positif bersama rekan sejawat di sekolah.  Bukan hanya rekan sejawat di 33 MB namun, rekan sejawat di dua sekolah terdekat yaitu UPTD SD Negeri 24 dan 25 Mendo Barat.

Saat pertama bergabung di 33 MB bulan Mei lalu, ada kekhwatiran dalam diri hingga pertanyaan ini muncul di benak : “Apakah saya bisa menjadi bagian dari keluarga baru (sekolah) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangka Tengah ini ?” Mengingat di saat bersamaan saya juga mulai menjalani Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 5 Kabupaten Bangka. Tidak mudah untuk saya memulai semua ini karena saya harus melawan rasa khawatir dalam diri ini. Bagaikan menemukan Oase di padang pasir, keluarga baru 33 MB begitu hangat menyambut kedatangan saya dan perlahan demi perlahan meluluhkan rasa khawatir itu.

Bulan pertama di sekolah sebisa mungkin saya harus cepat beradaptasi sambil membaca situasi sekolah dan merancang kegiatan/hal positif yang dapat dilakukan bersama di sekolah dengan melibatkan anak-anak, rekan sejawat, orang tua dan pihak luar sekolah. Hingga di awal tahun ajaran baru ini mulai terlaksananya satu per satu 4 Program Unggulan 33 MB. Sungguh semangat anak-anak hebat dan dukungan para orangtua sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa para orangtua mendukung semua kegiatan sekolah yang berpihak pada anak-anaknya.

Mari…terus semangat dalam menanamkan budaya positif di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertuang dalam visi sekolah impian. Mulai dari langkah kecil namun konsisten untuk melakukannya.

Sekian jurnal refleksi ini saya buat dan semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 12 September 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)


Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...