Sabtu, 15 Oktober 2022

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Ruang Kolaborasi Modul 3.1 (Doc. Pribadi)

“Guru penggerak menjadi agen transformasi di dunia pendidikan”. Makna dari kalimat ini semakin jelas saya temukan pada Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Ketika membaca materi pembuka pada alur Eksplorasi Konsep dan menyelesaikan beberapa kasus yang sering terjadi di lingkungan sekolah kita, saya temukan bagaimana sebagai seorang pemimpin harus bersikap bijak dalam pengambilan keputusan yang melibatkan banyak pihak. Adapun pengambilan keputusan akhir itu diputuskan oleh pemimpin tertinggi di sekolah yaitu kepala sekolah.

Ketika seorang pemimpin dihadapkan pada suatu kondisi yang mengharuskannya mengambil sebuah keputusan pastilah melibatkan banyak pihak dalam situasi (kasus) itu. Kasus yang dihadapi pun bisa saja berupa dilema etika atau bujukan  moral. Dilema etika adalah suatu kondisi dalam pengambilan keputusan yang terdapat dua pilihan benar secara moral namun, saling bertentangan. Sementara bujukan moral adalah suatu kondisi yang mengharuskan membuat keputusan antara benar dan salah. Kenyataannya, dilema etika paling banyak kita jumpai dalam lingkungan sekitar terutama di sekolah dan merupakan tantangan berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.

Pada situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti yang telah kita bahas pada Modul 1.4 Budaya Positif. Adapun nilai-nilai kebajikan universal yang akan selalu ikut serta dalam situasi dilema etika seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup. 

Dalam pengambilan keputusan, seorang pemimpin di sekolah dapat menggunakan paradigma berpikir yang berbasis nilai-nilai kebajikan sehingga hasil dari keputusan itu dapat mengakomodir harapan dari semua pihak tanpa menyampingkan nilai-nilai kebajikan universal yang kita yakini bersama. Keterampilan pengambilan keputusan dapat mengacu pada 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Berikut ini bahasannya yang saya dapat dari berbagai sumber di LMS Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 :


ü Empat paradigma pengambilan keputusan

1.     Individu lawan kelompok (Individual vs community)

Paradigma ini terjadi karena ada pertentangan antara kepentingan individu lawan kepentingan orang lain, kepentingan individu lawan kelompok kecil/besar, atau kepentingan kelompok kecil lawan kelompok besar. Contoh dalam sebuah kelas ketika seorang guru dihadapkan dalam situasi ada kelompok murid yang mengerjakan sesuatu membutuhkan waktu lebih lama dan ada kelompok murid yang mengerjakan sesuatu dengan waktu lebih cepat sehingga mereka siap untuk melanjutkan ke pelajaran selanjutnya. Apakah keputusan yang diambil oleh guru ? Apakah harus melanjutkan pembelajaran selanjutnya, tetap menunggu semua murid memahami pelajaran ini, atau kah ada opsi lainnya? Dalam situasi ini, guru menghadapi dilema individu lawan kelompok.

2.     Rasa keadilan lawan rasa kasihan (Justice vs mercy)

Pada paradigma ini, pilihannya dihadapkan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk berlaku adil dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang atau membuat pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang. Ada situasi mengharuskan kita berpegang teguh pada peraturan, tetapi terkadang membuat pengecualian juga tindakan yang benar. Contohnya ketika ada murid yang sering datang terlambat ke sekolah karena harus membantu orangtuanya berjualan di pagi hari sehingga jam 2 pagi dia sudah harus bangun tidur. Ketika dia terlambat berarti melanggar peraturan sekolah namun, di satu sisi sebagai guru kita pun kasihan dengan kondisi yang dialaminya. Bagaimana guru dapat bertindak dengan situasi dilema ini? Dalam situasi ini, guru menghadapi dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan.

3.     Kebenaran lawan kesetiaan (Truth vs loyalty)

Ada situasi yang membuat kita kadang harus memilih antara jujur atau setia (tanggung jawab) kepada orang lain. Contohnya ketika kita dihadapkan pada situasi harus jujur dengan apa yang dilakukan salah seorang teman karena pelanggaran profesinya atau setia pada teman dengan tidak mengatakan yang sebenarnya. Dalam situasi ini, kita menghadapi dilema kebenaran lawan kesetiaan.

4.     Jangka pendek lawan jangka panjang (Short term vs long term)

Sering kali kita dihadapkan pada keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang. Contohnya ketika seorang guru dihadapkan pada kondisi harus memberikan nilai akademik kepada murid yang kenyataannya nilai murid itu jauh dari standar yang telah ditentukan. Mungkin untuk saat ini memberikan  nilai baik akan membantunya dalam naik kelas / tingkat lebih tinggi namun, di satu sisi apakah nilai itu dapat dipertanggung jawabkan oleh murid dalam kualitas ilmu akademik yang didapatkannya ? Pada kondisi ini, guru dihadapkan pada dilema jangka pendek lawan jangka panjang.

 

ü Tiga prinsip pengambilan keputusan (prinsip resolusi)

1.     Berpikir berbasis hasil akhir (Ends-based thinking)

2.     Berpikir berbasis peraturan (Rule-based thinking)

3.     Berpikir berbasis rasa peduli (Care-based thinking)

 

ü Sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan

1.     Nilai-nilai yang saling bertentangan

Setiap situasi yang kita hadapi akan selalu ada nilai-nilai kebajikan universal di dalamnya. Menelaah nilai-nilai kebajikan yang kita yakini ini menjadi langkah awal dan penting menuju ke tahap pengambilan keputusan berikutnya.

2.     Siapa yang terlibat

Akan melibatkan banyak pihak dalam situasi yang kita hadapi. Walaupun setiap pihak membawa kepentingannya masing-masing, namun keterkaitan semuanya mengharuskan pemimpin mengambil keputusan terbaik untuk mengakomodir semua pihak.  

3.     Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

Fakta (data) relevan dari situasi (kasus) yang terjadi dikumpulkan dari awal hingga akhir secara lengkap. Data-data ini penting karena dilema etika tidak bersifat teoritis, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi situasi tersebut sehingga data yang detail akan menjelaskan seseorang melakukan sesuatu dan bisa juga mencerminkan kepribadian seseorang dalam situasi tersebut. Hal-hal yang berpotensi dapat muncul di waktu yang akan datang juga menjadi bagian dari analisis kita.

4.     Pengujian benar atau salah

Pengujian ini dapat dilakukan dengan :

-       Uji legal. Adakah aspek pelanggaran hukum di dalam situasi itu? Jika “ada” maka, ini merupakan bujukan moral (benar vs salah). Artinya keputusan yang diambil antara mematuhi hukum atau tidak, bukan berhubungan dengan moral.

-       Uji regulasi. Jika tidak ada pelanggaran hukum maka, adakah pelanggaran peraturan atau kode etik di dalam situasi itu?

-       Uji Intuisi. Pada langkah ini mengandalkan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini? Apakah tindakan ini sejalan dengan nilai-nilai yang kita yakini?

-       Uji publikasi. Bagaimana jika situasi ini dipublikasikan di media? Sesuatu yang dianggap ranah pribadi (intern) menjadi konsumsi publik. Bila kita merasa tidak nyaman maka, kemungkinan besar kita sedang menghadapi situasi benar lawan salah (bujukan moral)

-       Uji panutan. Pada situasi ini, kita membayangkan seseorang yang menjadi panutan/idola yang menyayangi atau pelindung untuk kita.

5.     Pengujian paradigma benar lawan benar

Kita akan dihadapkan pada 4 paradigma pengambilan keputusan. Pentingnya mengidentifikasikan paradigma ini bukan hanya  mengelompokkan permasalahan namun, membawa situasi yang sedang dihadapi itu benar berhadapan pada dua nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

6.     Melakukan prinsip resolusi

Langkah ini untuk mengecek prinsip penyelesaian dilema mana yang akan kita pakai dalam situasi yang sedang dihadapi.

7.     Investigasi opsi trilema (opsi ketiga)

Terkadang kita perlu mencari opsi lain dari dua pilihan yang sudah ada. Langkah ini sering memunculkan penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya.

8.     Buat keputusan

Ini adalah titik akhir dari pengambilan keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

9.     Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Ketika keputusan telah diambil, lihat kembali proses pengambilan keputusan ini dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Adapun 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ini adalah panduan, bukan juga suatu metode yang bersifat kaku dalam penerapannya. Pengambilan keputusan merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin membaik. Hal terpenting dari pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasar keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal.

Pada Ruang Kolaborasi Modul 3.1 ini, saya bersama tiga rekan CGP lainnya membahas tentang studi kasus nyata dari salah satu rekan anggota kelompok kami. Kami melakukan diskusi di hari Jum’at / 14 Oktober 2022 dan mempresentasikan hasilnya di hari kedua Ruang Kolaborasi Sabtu / 15 Oktober 2022. Adapun hasil diskusi kelompok kami tersedia di channel Youtube :


Video Ruang Kolaborasi Modul 3.1 (Doc. Youtube Lisa Sya)

Hal menarik yang saya dapatkan dari Ruang Kolaborasi Modul 3.1 ini adalah saya belajar paradigma, prinsip, dan tahapan dalam pengambilan keputusan. Jika selama ini dalam pengambilan keputusan saya tidak bepikir panjang untuk beberapa point penting bahkan terkadang memihak kepada salah satu pihak karena terbawa oleh perasaan (kasihan) maka, setelah belajar modul ini terutama berdiskusi di ruang kolaborasi bersama rekan CGP dan fasilitator, saya memahami bahwa pengambilan keputusan dapat mengacu pada 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Seperti yang telah singgung sebelumnya, 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan bukanlah panduan, bukan juga suatu metode yang bersifat kaku dalam penerapannya. Akan tetapi, pengambilan keputusan merupakan keterampilan yang harus diasah agar kita semakin membaik dan bijak dalam menghadapi situasi permasalahan yang sedang dihadapi.

Demikianlah artikel saya tentang hasil diskusi dan presentasi dari kelompok kami di Ruang Kolaborasi Modul 3.1 ini. Semoga menginspirasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Selasa, 11 Oktober 2022

Jurnal Refleksi Ke-6

 

Jurnal Refleksi Ke-6 (Doc. Pribadi)


Tidak terasa telah memasuki Jurnal Refleksi ke-6 (Minggu ke-12) pada Pendidikan Guru Penggerak.

Berikut ini Jurnal Refleksi untuk minggu ke-12 (jurnal refleksi ke-6) Modul 2.2 “Pembelajaran Sosial dan Emosional”.

Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri.

Pada refleksi minggu ke-12 (jurnal refleksi ke-6) ini, saya menggunakan model Papan Cerita Reflektif (Reflective Storyboard). Model ini terdiri dari beberapa gambar bersambung yang mengilustrasikan refleksi yang dialami. Kemudian setiap gambar juga disertai penjelasan singkat.

 Adapun hasil refleksi saya setelah mempelajari Modul 2.2 ini :

Gambar 1. Moment awal yang penting pada modul 2.2 ini adalah pada saat Ruang Kolaborasi bersama rekan-rekan CGP lainnya dan juga fasilitator. Adapun materi yang dibahas adalah ide-ide program penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) di lingkungan sekolah. Saya bersama dua rekan CGP lainnya dalam kelompok kami membahas tentang ide mengimpelentasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) pada jenjang SD. Saya mendapatkan beberapa praktik baik implementasi PSE pada ruang diskusi ini. Kemudian kami mempresentasikan hasil kelompok dan saling membagikan praktik baik dalam mengimpelementasi KSE.  Ada beberapa penerapan KSE yang sebenarnya pernah bahkan sering saya terapkan dalam proses pembelajaran seperti Kesadaran Diri (Temukan Zonamu yang biasanya diterapkan sebelum mulai Kegiatan Belajar Mengajar, Ice Breaking diterapkan untuk memusatkan perhatian murid sebelum memulai proses pembelajaran, dan Restitusi yang telah dipelajari pada modul 1.4 Budaya Positif yang diterapkan pada program CUAN/Curhat Anak). Manajemen Diri dengan bentuk implementasinya dalam organisasi yang telah disedia di sekolah seperti Pramuka, olahrga, dan Kesenian. Kesadaran Sosial juga telah diimplementasikan dengan kegiatan Jum’at Amal dan Program Sosial D-Ka (Dari Kita Untuk Kita). Keterampilan Relasi diimpelemtasikan dengan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun dan Diskusi Kelompok dalam proses pembelajaran di kelas. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab dengan implementasi membuat kesepakatan kelas dan pemilihan ketua kelas.

Gambar 2. Moment berikutnya ketika membuat Modul Ajar / RPP pada Demonstrasi Kontekstual. Modul ajar ini saya buat dengan menintegrasikan 5 Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yang akan diimplementasikan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Adapun alasan dalam memilih 5 KSE agar modul ajar ini memuat satu paket komplit KSE yang dibutuhkan dalam perkembangan sosial dan emosional para murid

 

Gambar 3. Moment akhir adalah ketika semua yang dipelajari pada Modul 2.2 mulai dari memahami konsep Pembelajaran PSE dan merancang modul ajar yang diintegrasikan KSE ini di bawa ke dalam aksi nyata (praktik) di kelas. Ada banyak kekurangan dalam praktik yang telah dilakukan ini termasuk mengkondisikan para murid pada kelompoknya. Namun, refleksi ini akan saya bawa sebagai bahan untuk mengevaluasi praktik yang telah dilakukan untuk mempersiapkan pembelajaran selanjutnya.

 

Sekian jurnal refleksi ini saya buat dan semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Semangat untuk terus belajar dan salam bahagia untuk kita semua..

-------------------------------------Bangka, 11 Oktober 2022-----------------------------------

Penulis : Lisa, S.Pd., (Guru kelas di UPTD SD Negeri 33 Mendo Barat / Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bangka)

Kamis, 06 Oktober 2022

Belajar Menjadi Coach

 

Koneksi Antar Materi Modul 2.3 (Doc. Pribadi)

Peran pendidik menurut  pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu maupun anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran KHD ini mengingatkan kita bahwa tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi murid untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang murid untuk belajar dan memberikan proses belajar bermakna pada mereka.

Supervisi akademik yang menjadi agenda rutin kepala sekolah di setiap semester hanya berfokus pada kebutuhan administrasi sekolah dan penilaian kerja guru saja. Guru belum terbiasa melakukan evaluasi dan refleksi yang berkelanjutan dari kegiatan supervisi akademik yang telah berjalan di sekolah. Ketika coaching hadir dalam supervisi akademik, memberikan pemahaman baru bahwa coaching dalam supervisi akademik dapat menjadi salah satu jalan dalam mengembangkan kompetensi berkelanjutan dan terarah bagi guru demi keberpihakkan kepada murid.

Ketika hadir menjadi seorang coach dalam pembelajaran di kelas, saya berusaha mengakomodir kebutuhan murid baik itu dalam proses perkembangan kemampuan / potensinya dengan berbagai program yang berpihak pada kebutuhan belajar murid. Membuat perencanaan (modul ajar / RPP) dan perlahan mulai membawa pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional ke dalam kelas.

Selain itu, berperan sebagai coach pada kegiatan coaching menjadi pengalaman baru untuk saya. Termasuk belajar untuk menuntun coachee menemukan solusi dari permasalahannya dan membangun kepercayaan dirinya. Ada beberapa kekurangan dalam praktik coaching yang telah saya lakukan termasuk keterampilan dalam menyusun pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berbobot untuk menggali potensi coachee. Namun, saya percaya ketika kita terus melatih keterampilan itu sebagai suatu kebiasaan maka, akan menjadi budaya positif dalam lingkungan belajar terutama di sekolah khususnya kelas kita.

Ada hal yang menarik dari setiap modul yang saya pelajari terutama dalam modul 2.3 ini ketika berdiskusi dengan rekan CGP baik itu di ruang kolaborasi dan demonstrasi kontekstual. Saya semakin memahami ternyata nilai dari pendidikan ini benar-benar mengedepankan kolaborasi untuk saling menggali dan mengembangkan potensi diri. Selain itu bimbingan, arahan, dan motivasi dari fasilitator juga selalu membantu kami dalam memperdalam materi modul yang akan dipelajari.

Keterampilan coaching yang didapat dari mempelajari modul 2.3 ini membuat pemahaman baru bahwa coaching dapat membantu saya mengembangkan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Melalui kegiatan coaching, saya juga belajar mengembangkan potensi diri, mengeksplorasi pemikiran/pandangan baru, dan membangun kepercayaan diri.

Demikianlah artikel saya mengenai peran saya sebagai coach di sekolah pada Koneksi Antar Materi Modul 2.3. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


Rabu, 05 Oktober 2022

Praktik Coaching Bersama Rekan CGP

Praktik Coaching bersama Rekan CGP (Doc. Pribadi)

Setelah melaksanakan kegiatan coaching di ruang virtual bersama rekan CGP pada Ruang Kolaborasi, tiba saatnya kegiatan coaching dilaksanakan secara luring (bertatap muka) bersama rekan CGP pada Demonstrasi Kontekstual. Adapun peran yang saya perankan secara bergantian, yaitu sebagai caoch, coachee, dan pengamat.

Kegiatan coaching ini dilakukan hari Senin / 03 Oktober 2022 bersama Ibu Sofia (UPTD SMP Negeri 3 Sungailiat) dan Ibu Reny (SMP Muhammadiyah Sungailiat) bertempat di UPTD SMP Negeri 3 Sungailiat. Kami melakukan praktik coaching dengan menjalankan 3 peran yaitu sebagai coach, coachee, dan pengamat secara bergantian. Perbedaannya dengan praktik coaching ini, saya mendapat peran tambahan sebagai pengamat. Pengamat bertugas untuk mengamati kegiatan coaching yang telah berlangsung kemudian menyampaikan beberapa informasi di akhir kegiatan coaching. Mulai dari menyampaikan hasil pengamatannya, memberikan kesempatan kepada coach menceritakan perasaannya setelah melakukan coaching, dan juga bertanya kepada coachee tentang perasaannya setelah di coaching.

Alur percakapan coaching akan menjadi efektif dan bermakna dengan menggunakan alur TIRTA. T (Tujuan) menyepakati topik pembicaraan dan hasil pembicaraan. I (Identifikasi) menggali dan dan memetakan situasi saat ini yang dihubungkan dengan fakta-fakta yang ada, R (Rencana aksi) mengembangkan ide untuk alternatif rencana aksi. TA (TAnggung jawab) berkomitmen akan langkah selanjutnya. Alur TIRTA ini telah berjalan baik pada saat saya melakukan praktik coaching ini.

Hal berbeda yang saya dapatkan pada kegiatan coaching kali ini yaitu :

1.       Saya merasa kegiatan coaching secara luring lebih nyaman dilakukan karena saya dapat lebih fokus pada coachee/rekan sejawat yang akan dikembangkan. Hal ini mungkin terjadi karena terjadi tatap muka langsung antara saya sebagai coach dan rekan sebagai coachee. Saya juga lebih bisa memusatkan perhatian pada rekan, bukan pada situasi yang dibawa dalam percakapan.

2.       Saya juga berusaha untuk menjalin kemitraan ketika menjadi coach agar tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah serta berusaha bersikap netral sehingga tidak ada jarak antara saya dan rekan CGP.

3.       Saya juga sudah berusaha tidak menghakimi, melabel, atau berasumsi pemikiran rekan yang sedang di coaching serta mulai menerima pemikirannya dengan tenang dan tidak terbawa perasaan/emosional.

4.       Saya juga berusaha menjadi pendengar aktif agar coachee dapat menemukan sendiri solusi dari permasalahan yang dihadapinya.

 

Adapun hal yang masih harus saya kembangkan lagi adalah dalam menyusun kalimat-kalimat terbuka yang berbobot. Tidak mudah dalam waktu singkat menyusun kalimat terbuka saat proses coaching mengingat tugas coach adalah menuntun coachee untuk menemukan sendiri solusi dari permasalahannya agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Serta membangun kepercayaan diri coachee bahwa setiap permasalah dapat ditemukan penyelesaian oleh dirinya sendiri.

Berikut ini hasil praktik coaching yang telah kami lakukan tersedia di Channel Youtube : 

Praktik Coaching bersama Rekan CGP (Doc. Pribadi)

Demikianlah artikel saya tentang hasil dari praktik coaching di Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3 ini. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Minggu, 02 Oktober 2022

Purnabakti di Gugus IV MB

Acara pelepasan purnabakti di Gugus IV Kec. Mendo Barat (Doc. Pribadi)

Memasuki bulan Oktober 2022 diawali dengan acara mengharukan di Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bapak Teguh Supriadi, S.Pd (Kepala UPTD SDN 30 Mendo Barat), Bapak Tri Gunawan, S.Pd (guru di UPTD SDN 25 Mendo Barat), dan Bapak Gandung Suwardi, A.Md (guru di UPTD SDN 24 Mendo Barat) akan memasuki masa purnabakti.“Masa purnabakti adalah normal untuk seluruh pegawai khususnya guru”, potongan kalimat ini disampaikan oleh Bapak Teguh ketika menyampaikan kesan pesannya di acara pagi itu.

Bertempat di UPTD SDN 27 Penagan Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, semua Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dari 9 Sekolah Dasar yang tergabung di Gugus IV Kecamatan Mendo Barat berkumpul untuk menghadiri acara pelepasan purnabakti. Acara juga dihadiri oleh Pengawas Korcam, Bapak H. Hadi Sukamta, S.Pd.

Acara dimulai pukul 08.30 WIB dan dibuka oleh Bapak M. Yuniadi, S.Pd.I (Kepala UPTD SDN 25 Mendo Barat) sekaligus bertindak sebagai pembawa acara. Lantunan do’a dari Bapak ……… (Kepala UPTD SDN 25 Mendo Barat) juga mengajak semua yang hadir dalam ruangan turut mendo’akan para guru yang telah mendahului dan pulang ke Rahmatullah untuk selama-lamanya.

Bapak H. Hadi Sukamta, S.Pd selaku Pengawas Korcam menyampaikan pengarahan dan motivasi kepada seluruh GTK khususnya guru terus memberikan pelayanan terbaik untuk pendidikan kepada para murid. Selain itu, beliau juga menyampaikan beberapa informasi termasuk persiapan dan pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah di satuan pendidikannya. Kemudian dilanjutkan pembahasan kegiatan Gugus IV Kecamatan Mendo Barat oleh Ketua Gugus IV, Bapak Sulistiono, S.Pd, dan persiapan perlombaan HUT Ke-77 Tahun PGRI di Kecamatan Mendo Barat yang akan dilaksanakan tanggal 11-14 Oktober 2022 mendatang. Bapak Zulham Efendi, S.Pd menyampaikan bahwa kegiatan perlombaan di Kecamatan Mendo Barat ini dipercepat karena mengikuti jadwal perlombaan di kabupaten, mengingat para pemenang dalam perlombaan di tingkat kecamatan akan diikutsertakan pada perlombaan HUT Ke-77 Tahun PGRI tingkat Kabupaten nantinya.

Sambutan dari Bapak Sulistiono, S.Pd selaku Ketua Gugus IV membuat saya terharu apalagi ketika beliau menceritakan perjalanan dari ketiga sahabatnya ini saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Bangka sebagai guru. Selain jarak tempuh jauh juga medan yang dilalui belum memiliki infrastruktur (jalan) memadai. Menerima gaji pertama sebesar Rp. 16.900, 00 dengan tantangan yang dihadapi sungguh tidak mudah namun, para ujung tombak pendidikan ini masih setia dengan profesi mulia demi anak-anak bangsa terutama di desa ujung Pulau Bangka.

Tahun 1980an di Pulau Bangka masih sangat kekurangan tenaga pendidik khususnya di daerah yang berlokasi jauh dari kabupaten kota. Kala itu pemerintah berusaha untuk mencukupi kebutuhan tenaga pendidik di sekolah-sekolah dengan mendatangkan guru dari luar bangka (Pulau Jawa). Tiga dari banyaknya guru itu adalah mereka yang akhir bulan lalu mulai memasuki masa purnabaktinya.

Sebuah puisi karya Bapak Buyung Topan, S.Pd berjudul “Untukmu Kawan” dibacakan oleh Bapak Toni, S.Pd (Kepala UPTD SDN 32 Mendo Barat). Puisi ini ditulis sendiri oleh Bapak Buyung khusus untuk ketiga rekannya yang akan memasuki purnabakti. Suasana seketika hening mendengarkan puisi indah yang dibacakan oleh Bapak Toni. 

Salah seorang guru yang memasuki masa purnabakti dan telah mengabdikan diri selama 39 tahun, Bapak Tri Gunawan, S.Pd dalam sambutan singkatnya menyampaikan pesan yang mendalam, “Jadikan sekolah itu sebagai rumah kedua sehingga kita betah didalamnya dan jadikan murid kita seperti anak sendiri”. Saya bertemu beliau di parkiran sejenak sebelum beliau pulang melaju dengan motornya, saya bertanya dimana akan menghabiskan masa purnabaktinya. Sambil tersenyum beliau menjawab, “Bapak tetap disini, di Bangka”.

Sambutan terakhir dari Bapak Gandung Suwardi, A.Md juga membuat saya kembali kagum apalagi ketika beliau menceritakan perjalanannya menjadi guru di Kecamatan Mendo Barat. Mulai dari berjalan kaki karena tidak adanya transportasi/kendaraan pribadi dan sulitnya medan yang dihadapi. Beliau juga menceritakan perjuangannya dan beberapa almarhum sahabatnya berjalan kaki dan naik sepeda puluhan kilometer hanya untuk memenuhi undangan rapat KKG di Kecamatan. Sungguh..mendengar ini membuat saya tidak mampu berkata-kata lagi. Jarak yang saya tempuh 54 KM dari Kota Sungailiat ke 33 MB mengendarai motor dengan kondisi jalan jauh lebih baik tidak ada apa-apanya dibanding para guru hebat yang menginspirasi ini.“Kami memberikan semangat untuk semuanya, lanjutkanlah perjuangan ini, jangan jadikan beban dan jalani dengan tulus dan ikhlas”, ungkap Bapak Gandung mengakhiri sambutannya di acara pelepasan yang kian menjelang siang.

Sebelum mengakhiri acara hari itu, diadakan juga perkenalan beberapa GTK di lingkungan Gugus IV Kecamatan Mendo Barat. Saya juga diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri sebagai bagian dari keluarga baru di Kecamatan Mendo Barat ini.

Belum lama bergabung di Kecamatan Mendo Barat telah banyak hal yang menginspirasi saya apalagi di hari ini bertemu para guru yang sungguh luar biasa dan mendengar cerita singkat dari perjalanan panjangnya menjadi pendidik di desa yang berada di paling ujung dari Kabupaten Bangka Induk ini.

Saya percaya satu hal bahwa manusia hidup dengan tantangan di zamannya. Sama halnya seperti pahlawan yang melawan para penjajah puluhan tahun lalu untuk kemerdekaan bangsa agar kita memiliki pemerintahan sendiri tanpa dikomandoi oleh negara lain. Bagitupun perjalanan pendidikan di Indonesia termasuk para pejuang pendidikan ini. Mereka adalah pejuang di zamannya dan semangatnya akan terus dilajutkan oleh para pejuang pendidikan di zaman setelahnya demi putra-putri negeri tercinta.

Selamat menjalani masa purnabakti untuk Bapak Teguh Supriadi, S.Pd, Bapak Tri Gunawan, S.Pd, dan Bapak Gandung Suwardi, A.Md. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan nikmat kesehatan dan kebahagiaan untuk para guru hebat kami. Semangat juangmu akan selalu melekat di setiap langkah kami.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…


*Artikel ini juga telah tayang di : https://www.kompasiana.com/lisasya/6339c7fd5cc80449520cacf2/purnabakti-di-gugus-iv-mb 

 


Sabtu, 01 Oktober 2022

Praktik Coaching bersama Rekan CGP di Ruang Virtual

 

Praktik Coaching bersama Rekan CGP di Ruang Virtual (Doc. Pribadi)

Masuk dibagian akhir dari Modul 2 yaitu Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik. Jika menelaah lebih jauh di sepanjang perjalanan 12 tahun lebih menjadi seorang guru maka, supervisi akademik bukanlah hal yang asing. Supervisi akademik menjadi agenda rutin yang dilaksanakan oleh kepala sekolah di satuan pendidikan. Tujuan dari supervisi akademik tertuang dalam dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan pasal 10 ayat 2 dan pasal 20 ayat 2, untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid dan pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah.

Rangkaian supervisi akademik dilaksanakan sebagai proses pengembangan kompetensi diri dan senantiasa memiliki growth mindset, serta berpihak kepada murid. Semua ini dapat terwujud jika pemimpin sekolah dapat mengidentifikasikan kebutuhan pengembangan kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Pendekatan yang digunakan haruslah berangkat dari paradigma berpikir yang memberdayakan agar dapat berjalan secara berkelanjutan dan terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan itu adalah coaching.

Pada ruang kolaborasi kali ini saya bersama satu teman CGP melakukan percakapan coaching di ruang virtual pada ruang kolaborasi sesi praktik Kamis / 29 September 2022 lalu. Sebelum membahas lebih jauh hasil dari praktik coaching yang telah dilaksanakan, akan dibahas terlebih dahulu pengertian coaching itu sendiri beserta komponen yang diperlukan untuk meningkatkan keterampilan coaching kita.

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan coaching menurut Whitmore (2003) adalah sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kerjanya.

Coaching menuntun coachee menemukan ide baru untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mencapai tujuan yang dikehendaki serta membangun hubungan kemitraan yang setara. Kemudain coachee sendiri berperan dalam pengambilan keputusan dari masalah yang sedang dihadapinya.

Paradigma berpikir coaching sangat diperlukan coach dalam membantu coachee mengembangkan kompetensi dirinya dan menjadi otonom. Otonom yaitu dapat mengarahkan, mengatur, mengawasi, dan memodifikasi diri secara mandiri. Adapun paradigma berpikir coaching :

ü Fokus pada Coachee

Paradigma berpikir pertama pastinya fokus pada coachee/rekan sejawat yang akan dikembangkan. Sebagai coach kita memusatkan perhatian pada rekan, bukan pada situasi yang dibawa dalam percakapan.

 

ü Bersikap Terbuka dan Ingin Tahu

Kita perlu berpikir terbuka dan ingin tahu dengan berusaha tidak menghakimi, melabel, atau berasumsi pemikiran orang lain. Mampu menerima pemikiran orang lain dengan tenang dan tidak emosional.

 

§  Memiliki Kesadaran Diri yang Kuat

Kesadaran diri yang kuat membantu kita untuk bisa menangkap adanya perubahan yang terjadi selama pembicaraan dengan rekan sejawat.

 

§  Mampu Melihat Peluang Baru dan Masa Depan

Kita harus mampu melihat peluang perkembangan yang ada dan juga bisa membawa rekan sejawat berfokus dalam menemukan solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi.

 

ICF (International Coaching Federation) mendefinisikan 3 prinsip coaching, yaitu :

ü Kemitraan

Hubungan antara coach dan coachee adalah kemitraan. Artinya setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Setara dapat dibangun dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri dan rendah hati kita demi mengedepankan tujuan rekan yang akan dikembangkan ini.

ü Proses Kreatif

Proses kreatif ini mengantarkan sesorang pada situasi dia saat ini ke situasi ideal yang diinginkan pada masa depan. Hal ini dapat terlihat ketika coach melakukan percakapan dua arah, memicu proses berpikir coachee, dan memetakan situasi untuk mengasilkan ide-ide baru bagi coachee.

ü Memaksimalkan Potensi

Hasil akhir yang memberdayakan rekan adalah mengakhiri percakapan dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh coachee sendiri serta kesimpulan yang didapatnya.

Menurut ICF, ada 3 dari 8 Kompetensi inti dari keterampilan coaching yang perlu dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada rekan sejawat. Kompetensi inti itu adalah sebagai berikut :

ü Kehadiran Penuh

Kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee baik itu badan, pikiran, dan hati. Harapan dari kesadaran penuh adalah untuk membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan coaching.

ü Mendengarkan Aktif

Biasa kita sebut kemampuan dalam menyimak. Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah coachee (mitra bicara). Sebagai coach harus benar-benar menghilangkan asumsi pribadi, melabel, dan asosiasi / mengaitkan dengan pengalaman pribadi.

ü Mengajukan Pertanyaan Terbuka

Pertanyaan yang diajukan oleh coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulusi pemikiran coachee, memunculkan ide-ide baru yang dapat mendorong untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.

Alur percakapan coaching akan menjadi efektif dan bermakna dengan menggunakan alur TIRTA. T (Tujuan) menyepakati topik pembicaraan dan hasil pembicaraan. I (Identifikasi) menggali dan dan memetakan situasi saat ini yang dihubungkan dengan fakta-fakta yang ada, R (Rencana aksi) mengembangkan ide untuk alternatif rencana aksi. TA (Tanggung jawab) berkomitmen akan langkah selanjutnya. Alur TIRTA inilah yang saya gunakan dalam praktik coaching yang telah saya lakukan bersama rekan sejawat di ruang virtual.

Saya berperan sebagai coach dan teman CGP sebagai coachee. Kami melakukan sesi latihan di ruang virtual di hari sebelumnya dan mempraktikkan hasilnya di hari kedua Ruang Kolaborasi Kamis / 29 September 2022. Adapun hasil praktik coaching yang telah kami lakukan tersedia di channel Youtube :

Video Praktik Coaching bersama Rekan CGP di Ruang Virtual (Doc. Youtube Lisa Sya)

Hal menarik yang saya dapatkan dari Ruang Kolaborasi Modul 2.3 ini adalah saya belajar untuk menjadi coach dalam membantu rekan sejawat (coachee) bukan hanya menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi namun juga meningkatkan kompetensi dirinya. Sebagai coach saya diharapkan dapat hadir seutuhnya, bersikap netral, dan membuat pertanyaan-pertanyaan terbuka yang berbobot agar dapat mendorong coachee mengeluarkan ide-ide baru untuk melakukan aksi nyata.

Demikianlah artikel saya tentang hasil dari praktik percakapan coaching di Ruang Kolaborasi Modul 2.3 ini. Semoga menginpiraasi untuk para pembaca.

Semangat belajar untuk kita semua dan salam bahagia…

Launching Makan Sehat dan Begizi di 33 MB

Launching Makan Sehat dan Bergizi di 33 MB (Doc. Pribadi) Kamis, 12 Desember 2024 menjadi hari yang membahagiakan untuk sekolah kami terci...